Friday, October 27, 2017

LAPORAN LENGKAP FISIOLOGI TUMBUHAN



I.         PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
       Dengan mempelajari tentang fisiologi tumbuhan ini kita dapat mengetahui bagaimana sinar matahari dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk menghasilkan karbohidrat dari bahan baku anorganik berupa air dan karbodioksida, dengan adanya fisiologi tumbuhan ini kita juga dapat mengetahui bahwa dalam reaksi biokimia meyebabkan terjadinya membuka dan menutupnya stomata.   Selain itu juga ada proses imbibisi dalam suatu tanaman, imbibisi merupakan proses penyerapan air oleh permukaan zat-zat hidrofilik seperti protein, pati, selulosa dan lain-lainnya.    
  Selain itu juga hormon adalah salah satu zat pengantur tumbuh-tumbuhan, dan merupakan senyawa kimia yang dalam konsentrasi rendah berperan aktif dalam mengontrol proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan (Dwidjoseputro, 1984).
Oval:         1Organisme yang menjadi sasaran dalam kajian fisiologi tumbuhan meliputi semua jenis tumbuhan, dari tumbuhan satu sel seperti halnya bakteri hingga pada tumbuhan tingkat tinggi.bila dikaitkan dengan 5 kelompok organisme berdasarkan klasifikasi yang baku, maka fisiologi tumbuhan mengkaji tentang metabolisme pada organisme yang tergolong monera, sebagian protista (yakni beberapa jenis ganggang dan lumut), fungi (jamur), dan plantae. Walaupun demikian pada kenyataannya yang menjadi sasaran utama ahli fisiologi tumbuhan adalah organisme dari kelompok plantae, terutama ganggang hijau, tumbuhan berdaun jarum, monokotil dan dikotil  (Dwidjoseputro, 1984).
Dengan mempelajari fisiologi tumbuhan, kita akan dapat lebih memahami bagaimana sinar matahari dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk menghasikan karbohidrat dari bahan baku anorganik berupa air dan karbondioksida, mengapa tumbuhan membutuhkan banyak air, bagaimana biji berkecambah, mangapa tumbuhan layu jika kekeringan dan berbagai macam gejala lainnya yang ditampakkan oleh tumbuhan (Dwidjoseputro, 1984).
Air diserap ke dalam akar secara osmosis melalui rambut akar, sebagian besar bergerak menurut gradien potensial air melalui xilem.  Air dalam pembuluh xilem mengalami tekanan besar karena molekul air polar menyatu dalam kolom berlanjut akibat dari penguapan yang berlangsung di bagian atas.  Sebagian besar ion bergerak melalui simplas dari epidermis akar ke xilem, dan kemudian ke atas melalui arus transportasi.   Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui stomata sedang melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit.  Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan membuka stomatanya untuk mengambil karbon dioksida dari udara untuk berfotosintesis.  Lebih dari 20 % air yang diambil oleh akar dikeluarkan ke udara sebagai uap air. Sebagian besar uap air yang di transpirasi oleh tumbuhan tingkat tinggi berasal dari daun selain dari batang, bunga dan buah.  Lubang stomata yang tidak bundar melainkan oval itu juga berpengaruh terhadap intensitas pengeluaran air, yang mana jika lubang-lubang itu terlalu berdekatan maka penguapan dari lubang yang satu akan menghambat penguapan dari lubang yang yang lain yang saling berdekatan (Dwidjoseputro, 1984).
Membuka dan menutupnya stomata penting bagi proses asimilasi CO2 dan juga keseimbangan air dalam tanaman.  Membuka menutupnya stomata tergantung pada perubahan turgor sel penjaga (sel stomata).  Turgor yang tinggi menyebabkan stomata membuka sebaliknya turgor yang rendah akan menyebabkan stomata menutup (Dwidjoseputro, 1984).
Imbibisi merupakan peyusupan atau peresapan air kedalam ruang antar dinding sel, sehingga sehingga dinding selnya akan mengembang.  Misalnya masuknya air pada biji saat berkecambah dan biji kacang hijau yang direndam dalam air beberapa jam.  Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara maupun media lainnya.  Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi.  Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun dari udara (dalam bentuk uap air atau embun), sehingga yang terjadi membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar dan biji yang melunak (Fahn, 1991).
Suatu tanaman dapat tumbuh dan berkembang jika terjadi proses fisiologis pada  tanaman itu sendiri.  Dengan proses fisiologis inilah maka organ tanaman satu persatu akan terbentuk, proses fisiologis ini  diantaranya adalah proses fotosintesis.  Proses fotosintesis suatu tanaman akan berlangsung jika terdapat pigmen hijau daun (klorofil) di dalam daunnya dan laju proses fotosintesis sangat dipengaruhi oleh kadar klorofil. Pigmen ini berfungsi sebagai tempat metabolisme tanaman yang menghasilkan energi yang digunakan oleh tana ing-merah, pigmen-pigmen ini banyak dijumpai pada daun dan dominant hampir disetiap tumbuhan (Haryadi, 1996).
 Proses fotosintesis suatu tanaman akan berlangsung jika terdapat pigmen hijau daun (klorofil) di dalam daunnya dan laju proses fotosintesis sangat dipengaruhi oleh kadar klorofil.  Pigmen ini berfungsi sebagai tempat metabolisme tanaman yang menghasilkan energi yang digunakan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang (Haryadi, 1996).
Sel tumbuhan dapat mengalami kehilangan air yang besar jika potensial air di luar sel lebih rendah dibandingkan dengan potensial air di dalam sel, sehingga akan mengakibatkan volume isi sel akan menurun dan tidak akan mampu mengisi seluruh ruang yang telah dibentuk oleh sel tersebut (Lakitan, 2004).
Indole Acetic-Acid (IAA) merupakan salah satu jenis auksin yang secara alami digunakan untuk pembentukan kalus.  IAA memiliki sifat kimia lebih stabil dan mobilitasnya di dalam tanaman rendah. 
Komposisi auksin dan sitokinin dalam media kultur invitro memainkan peranan penting dalam induksi dan regenerasi kalus menjadi tunas (Meyer, 1952).
1.2  Tujuan Dan Kegunaan
Dilaksanakannya praktikun tentang Mengukur Potensial Air Umbi Kentang ini adalah untuk mengetahui potensial osmotik pada umbi kentang. Tujuan dari praktikun  tentang Mengukur Laju Transpirasi dengan Penimbangan ini adalah untuk mengetahui tentang proses transpirasi yang terjadi pada tumbuhan dan faktor faktor apa saja  yang mempengaruhi terjadi transpirasi, tujuanya adalah praktikum pengaruh turgor terhadap membuka dan menutupnya stomata adalah agar praktikan dapat mempelajari pengaruh turgor terhadap mekanisme membuka dan menutupnya stomata, tujuanya merupakan praktikum Fisiologi Tumbuhan tentang Imbibisi adalah mengetahui pengaruh pada berbagai jenis larutan terhadap proses imbibisi pada biji, tujuan  Praktikum fisiologi modul tentang Pemisahan Pigmen Fotosintetik dengan Kromatografi Kertas ini yaitu untuk mendeteksi jenis-jenis pigmen pada suatu daun tumbuhan.
Tujuan dari praktikum Fisiologi Tumbuhan tentang Mengukur Kadar Klorofil dengan Spektrofometer adalah menentukan kadar klorofil daun dengan menggunakan spektrofotometer, tujuan adalah, praktikum Fisiologi Tumbuhan tentang Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Perkecambahan Biji adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai zat pengatur tumbuh pada perkecambahan biji, tujuan adalah, praktikum Fisiologi Tumbuhan tentang Pengaruh Auksin Terhadap Pemanjangan Jaringan adalah untuk mengetahui pengaruh Auksin (IAA) terhadap perkecambahan biji.
Kegunaan praktikum ini adalah agar para praktikan dapat mengidentifikasi peristiwa fisiologi tumbuhan terutama potensial osmotik umbi kentang kegunaan yang kita ambil adalah kita dapat mengetahui pengaruh cahaya matahari terhadap pertumbuhan, kegunaannya adalah praktikan dapat mengetahui tekanan turgor                                                                                                                                                                                dapat mempengaruhi mekanisme membuka dan menutupnya tomata, kegunaannya adalah kita dapat mengetahui seberapa besar pengaruh suatu larutan terhadap proses imbibisi pada biji,  Sedangkan kegunaannya yaitu untuk dapat mengetahui jenis-jenis pigmen pada suatu daun tumbuhan, kegunaannya adalah untuk mengetahui kadar klorofil suatu daun dengan menggunakan spektrofotometer.
Kegunaannya adalah kita dapat mengetahui pengaruh dari berbagai zat pengatur tumbuh terhadap perkecambahan biji, kegunaannya adalah kita dapat mengetahui seberapa besar pengaruh auksin alami (IAA) dalam proses perkecambahan biji.











II.    TINJAUAN PUSTAKA
2.1   Botani dan Klasifikasi Tanaman
2.1.1        Kentang ( Solanum tuberosum L )
Dalam sistematika tumbuhan kentang diklasifkasikan sebagai, kingdom: Plantae, divisi: Spermatophyta (tumbuhan berbiji), subdivisi: Angiospermae (berbiji tertutup ), Kelas Dicotyledonae ( biji berkeping dua ),  Ordo Solanales, Famili Solanaceae, Genus Solanum, dan Spesies Solanum tuberosum Linn. Tanaman kentang termasuk tanaman setahun yang berbentuk semak dengan susunan  terdiri dari akar, batang, daun, bunga, buah, biji, stolon, dan umbi (Purwoko, 1999).
Tanaman kentang berasal dari benua Amerika Selatan.Beberapa spesies kentang liar terdapat di wilayah pegunungan Andes mulai dari Kolombia sampai dengan Chili (Smith, 1986).Tanaman kentang menyebar ke seluruh dunia melalui Eropa dan menjadi salah satu bahan pangan penting dunia. Tanaman kentang merupakan salah satu tanaman dari 2000 spesies famili Solanaceae yang memiliki banyak spesies, diantaranya tembakau, tomat, terung, dan cabai (Lakitan, 2004).
Oval:         7Kentang adalah tanaman dikotil berumur pendek yang diambil umbi bawah tanahnya yang dapat dimakan. Akar pada tanaman kentang memiliki peranan yang lebih kecil dibandingkan kebanyakan tanaman lainnya karena rhizome merupakan tempat penyimpanan hasil fotosintesis pada daun, menggantikan peranan penting (Lakitan, 2004).
Sistem perakaran pada kentang mencapai kedalaman 40-50 cm dan jika tanpa hambatan bisa mencapai 1 meter (Lakitan, 2004).
Batang tanaman kentang yang tegak adalah batang tanaman yang membentuk sudut 450 dengan tanah,dan batang yang semi tegak membentuk sudut 30 - 450 dengan tanah. Batang tanaman kentang kemerah-merahan, atau hijau keunguan (Haryadi, 1996)
Daun tanaman kentang hijau atau hijau keputih-putihan.Posisi tangkai daun utama tehadap batang tanaman membentuk sudut kurang dari 450 atau lebih besar dari 450.  Pada dasar tangkai daun terdapat tunas ketiak yang dapat berkembang menjadi cabang sekunder (Haryadi, 1996)
Daun-daun pertama tanaman kentang berupa daun tunggal, kemudian daun-daun berikutnya muncul berupa daun-daun majemuk dengan anak daun primer dan sekunder (Lakitan, 2004)



2.1.2        Tomat  ( Lycopersicum esculentum )
Tanaman tomat  (Lycopersicum esculentum Mill) merupakan tanaman yang secara lengkap diklasifikasikan ke dalam golongan sebagai berikut Divisio  Spermatophyta, Subdivisi  Angiospermae, Kelas Dicotyledoneae,Ordo  Tubiflorae, Famili Solanaceae, Genus Lycopersicum, Spesies Lycopersicum esculentum Mill (Pitojo, 2005).   
Tomat (Lycopersicum esculentum ) adalah salah satu komoditas pertanian yang sangat bermanfaat bagi tubuh  karena mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat  mengandung karbohidrat, protein, lemak dan kalori. Buah tomat merupakan komoditas multiguna yang berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah nafsu makan, bahan pewarna makanan, sampai kepada bahan kosmetik dan obat-obatan. Sebagai sumber mineral, buah tomat dapat bermanfaat untuk pembentukan tulang dan gigi (zat kapur dan fospor), sedangkan zat besi (Fe) yang terkandung di dalam buah tomat dapat berfungsi untuk pembentukan sel darah merah atau hemoglobin. Selain itu tomat mengandung zat potassium yang sangat bermanfaat untuk menurunkan gejala tekanan darah tinggi (Cahyono, 2005).
Oleh karena itu, permintaan akan komoditas tomat akan terus meningkat seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.
Tanaman tomat memiliki akar tunggang, akar cabang, serta akar serabut yang berwarna keputih-putihan dan berbau khas. Perakaran tanaman tidak terlalu dalam, menyebar ke semua arah hingga kedalaman rata-rata 30 - 40 cm, namun dapat mencapai kedalaman hingga 60 - 70 cm. Akar tanaman tomat berfungsi untuk menopang berdirinya tanaman serta menyerap air dan unsur hara dari dalam tanah. Oleh karena itu tingkat kesuburan tanah di bagian atas sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi buah (Cahyono, 2005).
Batang tanaman tomat bentuknya bulat dan membengkak pada buku-buku. Bagian yang masih muda berambut dan biasanya dan ada yang berkelenjar, mudah patah, dapat naik bersandar pada turus atau merambat pada tali, namun harus dibantu dengan beberapa ikatan. Dibiarkan melata, cukup rimbun menutupi tanah (Rismunandar, 2001).
Daunnya yang berwarna hijau dan berbulu memiliki panjang 20 - 30 cm dan lebar 15 - 20 cm. Daun tomat tumbuh dekat ujung dahan atau cabang sementara tangkai daunnya berbentuk bulat memanjang sekitar 7 - 10 cm dan ketebalan 0,3 - 0,5 cm (Pitojo, 2005).
Bunga tanaman tomat termasuk jenis bunga berkelamin dua atau hermaprodit. Bunga tanaman tomat berwarna kuning, terdiri dari lima helai daun kelopak dan lima helai mahkota. Pada serbuk sari bunga terdapat kantong yang letaknya menjadi satu dan membentuk bumbung yang mengelilingi tangkai kepala putik. Bunga tomat dapat melakukan penyerbukan sendiri karena tipe bunganya berumah satu. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan terjadi penyerbukan silang (Wiryanta, 2004).
Buah tomat adalah buah buni, selagi masih muda berwarna hijau dan berbulu serta relatif keras, setelah tua berwarna merah muda, merah atau kuning cerah dan mengkilat, serta relatif lunak. Bentuk buah tomat beragam: lonjong, oval, pipih, meruncing, dan bulat. Diameter buah tomat antara 2 - 15 cm, tergantung varietasnya. Jumlah ruang di dalam buah juga bervariasi, ada yang hanya dua seperti pada buah tomat cherry dan tomat roma atau lebih dari dua seperti tomat marmade yang beruang delapan. Pada buah masih terdapat tangkai bunga yang berubah fungsi menjadi sebagai tangkai buah serta kelopak bunga yang beralih fungsi kelopak bunga (Pitojo, 2005)..

2.1.3        Cabai  ( Capsicum annum L ).
Klasifikasi tanaman cabai seperti yang terlihat di bawah ini adalah merupakan, Kingdom Plantae (Tumbuhan), Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhanberpembuluh), Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji),Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas  Magnoliopsida (berkeping duadikotil), Sub Kelas  Asteridae, Ordo Solanales, Famili Solanaceae (suku terung-terungan), Genus Capsicum, Spesies  Capsicum annum L (Kimbal, 1983).
 Sebelum kedatangan cabai (Capsicum spp.), tumbuhan inilah yang disebut "cabe". Cabai sendiri oleh orang Jawa dinamakan "lombok". Cabai jamu dapat tumbuh di lahan ketinggian 0-600 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan curah hujan rata-rata 1.259-2.500 mm/tahun. Tanah lempung berpasir, dengan struktur tanah gembur dan berdrainase baik, merupakan lahan yang cocok untuk budidaya cabe jamu. Tanaman itu memiliki keunggulan dapat tumbuh di lahan kering berbatu. Keberadaan tanggul batu di pematang tegalan dapat dijadikan media merambatnya cabe jamu secara alami. Bentuk tanamannya seperti sirih, merambat, memanjat, membelit, dan melata. Daunnya berbentuk bulat telur sampai lonjong, pangkal daun berbentuk jantung atau membulat, ujung daun runcing dengan bintik-bintik kelenjar. buahnya majemuk bulir, bentuknya bulat panjang atau silindris, dan ujungnya mengecil. Buah yang belum tua berwarna kelabu, kemudian menjadi hijau, selanjutnya kuning, merah, serta lunak. Rasanya pedas dan tajam aromatis (Kimbal, 1983).
Tanaman cabai temyata masih saw famili (solanaceae) dengan tanaman kentang, tomat, terung, ranti, dan tekokak, sehingga kemungkinan adanya kesamaan dalam serangan hama dan penyakit. Namun tanaman cabai tidak berkerabat dekat dengan tanaman cabai Jawa (Piper retrofractrum), meskipun sama-sama memiliki nama cabai. Penamaan cabai Jawa memang salah kaprah, karena hanya didasarkan dengan bentuk buah tanaman ini yang menyerupai cabe. Sebenarnya, tanaman cabai Jawa lebih berkerabat dekat dengan tanaman lada (P. nigrum). Buah cabai jamu memiliki khasiat sebagai obat sakit perut, masuk angin, beri-beri, rematik, tekanan darah rendah, kolera, influenza, sakit kepala, lemah syahwat, bronkitis, dan sesak napas. Karena itu, cabe jamu banyak dibutuhkan sebagai bahan pembuatan jamu tradisional dan obat pil/kapsul modern serta bahan campuran minuman. Rasa pedas itu berasal dari senyawa piperin, dengan kandungan sekitar 4,6 persen (Kimbal, 1983).
Daun tanaman cabai bervariasi menurut spesies dan varietasnya. Ada daun yang berbentuk oval, lonjong, bahkan ada yang Ian- set. Warna permukaan daun bagian atas biasanya hijau muda, hijau, hijau tua, bahkan hijau kebiruan. Sedangkan permukaan daun pada bagian bawah umumnya berwarna hijau muda, hijau pucat atau hijau. Permukaan daun cabai ada yang halus adapula yang berkerut-kerut. Ukuran panjang daun cabai antara 3 — 11 cm, dengan lebar antara 1 — 5 cm (Kimbal, 1983).
Tanaman cabai merupakan tanaman perdu dengan batang tidak berkayu. Biasanya, batang akan tumbuh sampai ketinggian tertentu, kemudian membentuk banyak percabangan. Untuk jenis-jenis cabai rawit, panjang batang biasanya tidak melebihi 100 cm. Namun untuk jenis cabai besar, panjang batang (ketinggian) dapat mencapai 2 meter bahkan lebih. Batang tanaman cabai berwarna hijau, hijau tua, atau hijau muda. Pada batang-batang yang telah tua (biasanya batang paling bawah), akan muncul wama coklat seperti kayu. Ini merupakan kayu semu, yang diperoleh dari pengerasan jaringan parenkim (Lakitan, 2004).
                                                                          
Tanaman cabai memiliki perakaran yang cukup rumit dan hanya terdiri dari akar serabut saja. Biasanya di akar terdapat bintil-bintil yang merupakan hasil simbiosis dengan beberapa mikroorganisme. Meskipun tidak memiliki akar tunggang, namun ada beberapa akar tumbuh ke arah bawah yang berfungsi sebagai akar tunggang semu (Lakitan, 2004).
Bunga tanaman cabai juga bervariasi, namun memiliki bentuk yang sama, yaitu berbentuk bintang. Ini menunjukkan tanaman cabai termasuk dalam sub kelas Ateridae (berbunga bintang). Bunga biasanya tumbuh pada ketiak daun, dalam keadaan tunggal atau bergerombol dalam tandan. Dalam satu tandan biasanya terdapat 2 — 3 bunga saja. Mahkota bunga tanaman cabai warnanya bermacam-macam, ada yang putih, putih kehijauan, dan ungu. Diameter bunga antara 5 — 20 mm. Bunga tanaman cabai merupakan bunga sempuma, artinya dalam satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga betina. Pemasakan bunga jantan dan bunga betina dalam waktu yang sama (atau hampir sama), sehingga tanaman dapat melakukan penyerbukan sendiri. Namun untuk mendapatkan hasil buah yang lebih baik, penyerbukan silang lebih diutamakan. Karena itu, tanaman cabai yang ditanam di lahan dalam jumlah yang banyak, hasilnya lebih baik dibandingkan tanaman cabai yang ditanam sendirian (Lakitan, 2004).
Pernyerbukan tanaman cabai biasanya dibantu angin atau lebah. Kecepatan angin yang dibutuhkan untuk penyerbukan antara 10 — 20 km/jam (angin sepoi-sepoi). Angin yang ter lalu kencang justru akan merusak tanaman. Sedangkan penyerbukan yang dibantu oleh lebah dilakukan saat lebah tertarik mendekati bunga tanaman cabai yang menarik penampilannya dan terdapat madu di dalamnya (Lakitan, 2004).
Buah cabai merupakan bagian tanaman cabai yang paling banyak dikenal dan memiliki banyak variasi. Buah cabai terbagi dalam 11 tipe bentuk, yaitu serrano, cubanelle, cayenne, pimento, anaheim chile, cherry, jalapeno, elongate bell, ancho, banana, dan blocky bell. Hanya ada 10 tipe bentuk buah cabai, di mana tipe elongate bell dan blocky bell dianggap sama (Lakitan, 2004).
2.1.4        Rhoeo Discolor
                        Dalam sistematika tumbuhan, kedudukan tanaman nanas kerang (Rhoeo discolor) diklasifikasikan sebagai berikut, Kingdom Plantae, Subkingdom  Tracheobionta, Superdivisio  Spermatophyta, Divisio  Magnoliophyta, Class  Liliopsida, Ordo  Commelinales, Famili  Commelinaceae, Genus  Rhoeo, Spesies  Rhoeo discolor (Fahn, 1991).
Air menjadi kebutuhan pokok bagi semua tanaman juga merupakan bahan penyusun utama dari protoplasma sel. Rhoeo discolor merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh didaerah tropis. Umumnya tanaman ni tumbuh didaerah dingin dan cukup air. Tanaman ini tidak dapat tumbuh didaerah tanah yang jenuh atau tergenang karena batang dan daunnya akan cepat membusuk, dan tanaman ini juga tidak dapat tumbuh didaerah yang kurang air karena daun dan batangnya akan mengerdil (Fahn, 1991).
                        Rhoeo mempunyai jaringan yang terdiri dari sel-sel yang bentuknya sama dapat juga melakukan fungsi khusus yang dapat juga bersama jaringan lain membentuk fungsi yang lebih kompleks. Dan jaringanya terbagi dua yang berdasarkan kemampuan untuk tumbuh dan memperbanyak diri yaitu jaringan meristem dan jaringan yang permanen (Salisbury,1995).
Hakikatnya tekanan osmose merupakan suatu proses tekanan yang menyebabkan difusi. Osmose juga merupakan difusi dari tiap pelarut melalui suatu selaput yang permeabel secara difertensial. Seperti dikatakan diatas, pelarut universal adalah air (Fahn, 1991).
Osmosis adalah difusi air melalui selaput yang permeabel secara differensial dari suatu tempat berkonsentrasi tinggi ketempat berkonsentrasi rendah. Pertukaran air antara sel dan lingkungan adalah suatu faktor yang sangat penting sehingga memerlukan suatu penamaan khusus yaitu osmosis.
            Suatu percobaan yang menunjukan proses osmosis adalah suatu percobaan yang mengamati suatu lubang bawah dari tabung gelas ditutup dengan selaput. Selaput itu berfungsi sebagai membran permeabel secara differensiasi, yang meloloskan melekul-molekul air secara cepat, tetapi menghalangi molekul yang lebih besar (Dwidjoseputro,1984).
Tekanan osmosis cairan dapat ditentukan dengan cara mencari suatu larutan yang mempunyai tekanan osmosis sama dengan cairan tersebut.Dalam keadan insipien plasmolisis tekanan osmosis cairan sel adalah sama dengan tekanan osmosis larutan dalam massa jaringan sel tersebut direndam. Plasmolisis dapat dilihat dibawah mikroskop sebagai suatu percobaan (Lakitan, 2004).


2.1.5   Kacang hijau ( Phaseolus radiates ).
           Tanaman kacang hijau termasuk suku leguminosae yang banyak varietasnya.  Kedudukan tanaman kacang hijau dalam taksonomi tumbuhan diklasifikasikan dalam kingdom plantae, divisi permatophyta, subdivisi angiospermae, kelas dicotyldonae, ordo leguminales, family leguminosae, genus Phaseolus, Spesies Phaseolus radiates (Mulyani, 2000).
Tanaman kacang hijau berbatang tegak dengan ketinggian sangat bervariasi, antara 30-60 cm, tergantung varietasnya. Cabangnya menyamping pada bagian utama, berbentuk bulat dan berbulu. Warna batang dan cabangnya ada yang hijau dan ada yang ungu.Daunnya trifoliate (terdiri dari tiga helaian) dan letaknya berseling. Tangkai daunnya cukup panjang, lebih panjang dari daunnya. Warna daunnya hijau muda sampai hiaju tua.Bunga kacang hijau berwarna kuning, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta batang, dan dapat menyerbuk sendiri.Polong kacang hijau berebntuk silindris dengan panjang antara 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau dan dan setelah tua berwarna hitam atau coklat. Setiap polong berisi 10-15 biji.Biji kacang hijau lebih kecil dibanding biji kacang-kacangan lain. Warna bijinya kebanyakan hijau kusam atau hijau mengilap, beberapa ada yang berwarna kuning, cokelat dan hitam . Tanaman kacang hijau berakar tunggang dengan akar cabang pada permukaan (Mulyani, 2000).


2.1.6        Kakao  ( Theobrama cacao L ).
Kakao merupakan satu-satunya diantara 22 jenis margaTheobroma, suku sterculiaceae yang diusahakan secara komersil. Sistematika tanaman ini adalah sebagai berikut, Divisi Spermatophyta, Anak Divisi Angiospermae, Kelas Dicotyledoneae, Anak Kelas Dialypetalae, Bangsa Malvales, Suku Sterculiaceae, Marga Theobroma, Jenis  Theobroma cacao L (Theo, 2007).
Beberapa sifat  (penciri) dari buah dan biji digunakan sebagai dasar klasifikasi dalam sistem taksonomi. Tanaman Kakao yang di tanam diperkebunan pada umumnya adalah kakao jenis forastero (bulk cocoa atau kakao lindak), Criolo (fine cooca atau kakao mulia), dan hibrida (hasil persilangan antara jenis Forastero dan Criolo). Pada perkbunan-perkebunan besar biasanya kakao yang dibudidayakan adalah jenis mulia (Theo, 2007).
Tinggi tanaman kakao jika dibudidayakan di kebun maka tinggi tanaman kakao umur 3 tahun mencapai 1,8 – 3 meter dan pada umur 12 tahun dapat mencapai 4,5 – 7 meter. Tinggi tanaman tersebut beragam , dipengaruhi oleh intensitas naungan dan faktor-faktor tumbuh yang tersedia  (Hadi, 2009).
Tanaman kakao bersifat dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Tunas yang arah pertumbuhannya ke atas disebut dengan tunas ortotrop atau tunas air (wiwilan atau chupon), sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya ke samping disebut dengan plagiotrop (cabang kipas atau fan) (Theo, 2007).
Tanaman kakao asal biji, setelah mencapai tinggi 0,9 – 1,5 meter akan berhenti tumbuh dan membentuk jorket (jorquette). Jorket adalah tempat percabangan dari pola percabangan ortotrop ke plagiotrop dan khas hanya pada tanaman kakao. Pembentukan jorket didahului dengan berhentinya pertumbuhan tunas ortotrop karena ruas-ruasnya tidak memanjang. Pada ujung tunas tersebut, stipula (semacam sisik pada kuncup bunga) dan kuncup ketiak daun serta tunas daun tidak berkembang (Hadi, 2009).
 Dari ujung perhentian tersebut selanjutnya tumbuh 3 – 6 cabang yang arah pertumbuhannnya condong ke samping membentuk sudut 0 – 60º dengan arah horisontal. Cabang-cabang itu disebut dengan cabang primer (cabang plagiotrop). Pada cabang primer tersebut kemudian tumbuh cabang-cabang lateral (fan) sehingga tanaman membentuk tajuk yang rimbun (Hadi, 2009).
Sama dengan sifat percabangannya, daun kakao juga bersifat dimorfisme. Pada tunas ortotrop, tangkai daunnya panjang, yaitu 7,5-10 cm sedangkan pada tunas plagiotrop panjang tangkai daunnya hanya sekitar 2,5 cm. Tangkai daun bentuknya silinder dan bersisik halus, bergantung pada tipenya (Hadi, 2009).


Pertumbuhan daun pada cabang plagiotrop berlangsung serempak tetapi berkala. Masa tumuhnya tunas-tunas baru itu dinamakan pertunasan atau flushing. Saat itu setiap tunas memebnetuk 3-6 lembar daun baru sekaligus. Setelah masa bertunas tersebut selesai, kuncup-kuncup daun tersebut kembali dorman (istirahat) selama periode tertentu. Kuncup-kuncup akan bertunas lagi oleh rangsangan faktor lingkungan. Dan ujung daun yang dorman tadi tertutup oleh sisik (scales) yang akan rontok jika daun kembali bertuna (Theo, 2007).
Tanaman kakao bersifat kauliflori. Artinya bunga tumbuh dan berkembang dari bekas ketiak daun pada batang dan cabang. Tempat tumbuh bunga tersebut semakin lama semakin membesar dan menebal atau biasa disebut dengan bantalan bunga (cushioll). Bunga kakao mempunyai rumus K5C5A5+5G (5) artinya, bunga disusun oleh 5 daun kelopak yang bebas satu sama lain, 5 daun mahkota, 10 tangkai sari yang tersusun dalam 2 lingkaran dan masing-masing terdiri dari 5 tangkai sari tetapi hanya 1 lingkaran yang fertil, dan 5 daun buah yang bersatu (Theo, 2007).


Warna buah kakao sangat beragam, tetapi pada dasarnya hanya ada dua macam warna. Buah yang ketika muda berwarna hijau atau hijau agak putih jika sudah masak akan berwarna kuning. Sementara itu, buah yang ketika muda berwarna merah, setelah masak berwarna jingga (oranye) (Theo, 2007).
Kulit buah memiliki 10 alur dalam dan dangkal yang letaknya berselang-seling. Pada tipe criollo dan trinitario alur kelihatan jelas. Kulit buahnya tebal tetapi lunak dan permukaannya kasar. Sebaliknya, pada tipe forasero, permukaan kulit buah pada umumnya halus (rata), kulitnya tipis, tetapi dan liat. Buah akan masak setelah berumur enam bulan (Theo, 2007).
2.1.7        Jagung  ( Zea mays ).
Tanaman jagung (Zea mays ) dilelasifikasikan sebagai berikut,                                                                                                                                                                          Divi  Spermatophyta, Sub Divisi  Agiospermae, Kelas Monocotyledonae, Ordo Rhoedelas, Family  Cruciferae, Species  Zea mays (Rukmana, 2005).
Sistem perakaran jagung terdiri dari akar-akar yang seminal tumbuh ke bawah saat biji berkecambah, akar koronal yang tumbuh ke atas jaringan batang setelah plamula muncul dari akar udara (brace) yang tumbuh dari buku-buku di atas permukaan tanah (Rukmana, 2005).
Batang jagung beruas-ruas yang jumlahnya bervariasi antara 8-12 ruas. Panjang berkisar antara 60-300 cm tergantung dari tipe jagung, sedangkan bagian bawahnya agak bulat pipih. Ruas batang yang telah berkembang menghasikkan tajuk bunga betina atau tongkol (Rukmana, 2005).

Batang jagung tidak berulang tetapi padatdan terisi oleh bekas-bekas pembuluh sehingga memperkuat tegaknya tanaman. Batang jagung beruas-ruas yang jumlahnya bervariasi antara 10-14 ruas, umumnya tak berkecambah, panjang batang berkisar antara 60-300cm tergantung dari jenis jagung (Rukmana, 2005).
Daun jagung muncul dari buku-buku batang, sedangkan pelepah daun metelubugi ruas batang untuk memperkuat batang. Panjang daun bervariasi antara 30-150cm dan lebar 4-15cm dengan ibu tulang daun yang sangat keras . Terdapat lidah daun (ligula) yang transparan yang mempunyaio telinga daun (auriculae) jumlah daun jagung tanaman bervariasi antara 12-18 helai (Rukmana, 2005).
Daun jagung terdiri dari pelepah dan helai daun, memanjang ujung merancang. Pelepah dan helai dibatasi oleh lignia yang bagian menghalagi masuknya air dan embun (Rukmana, 2005).
Buah jagung terdiri atas tongkol, biji dan daun pembungkus. Biji jagung mempunyai bentuk, warna dan kandungan endosperm yang bervariasi, tergantung pada jenisnya. Pada umumnya jagung memiliki barisan biji yang melibit secara lurus atau berkelok-kelok dan berjumlah antara 8-20 baris biji. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama yaitu kulit biji, endosperm dan embrio (Rukmana, 2005).
Tanaman jagung tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang banyak karena tanaman ini dapat tumbuh diberbagai jenis tanah. Tanah berpasir dapat ditumbuhi tanaman jagung dengan baik asal cukup air dan hara untuk pertumbuhannya. Tanah berat seperti gramosol dapat ditanami jagung dengan pertumbuhan normal asal aerasi dan draenase dapat diperbaiki (Rukmana, 2005).
Jagung mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dibandingkan dengan tanaman lainnya yang berasal dari jenis yang sama. Jagung berasal dari daerah-daerah tropis namun telah banyak dikembangkan pada daerah sub tropis. Dari berbagai sifat yang dimilikinya, jagung menghendaki hawa yang cukup panas untuk pertumbuhannya sebab pada temperature minimum akan mengganggu perkecambahan dan pada temperature suhu yang maksimum embrio biji jagung dapat rusak. Variasi temperaturnya adalah 90C – 100C untuk temperature minimum, 230C – 270C untuk temperature optimum 400C – 440C untuk temperature maksimumnya (Rioardi, 2009).
Jagung selama pertumbuhannya harus mendapat sinar matahari yang cukup, sebab tanaman jagung yang ternaungi akan menghambat perkembangan sehingga dapat memberikan hasil yang kurang maksimal (Rioardi, 2009).
Jagung dapat tumbuh pada pH tanah antara 5,5 – 7,0 dan tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian 0-1300 Mdpl. Tanah yang kemiringannya tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan melintang searah kemiringan tanah dengan maksud mencegah erosi (Rioardi, 2009).
2.1.8        Nenas  ( Ananas comosus L ).
Dalam klasifikasi atau sistematika tumbuhan (taksonomi), nanas termasuk dalam famili bromiliaceae.  Kerabat dekat spesies nanas cukup banyak, terutama nanas liar yang biasa dijadikan tanaman hias, misalnya A. braceteatus (Lindl) Schultes, A. Fritzmuelleri, A (Mulyani, 2000).


Adapun secara lengkap, klasifikasi tanaman Nanas adalah  sebagai berikut:
Kingdom Plantae (tumbuh-tumbuhan), Divisi Spermatophyta (tumbuhan berbiji), Kelas Angiospermae (berbiji tertutup), Ordo Farinosae (Bromeliales),                    Famili Bromiliaceae, Genus Ananas,  Species  Ananas comosus (L) (Fahn, 1991).
Nanas berasal dari Amerika Selatan, tepatnya di Brasil. Tanaman ini telah dibudidayakan penduduk pribumi disana sejak lama. Kemudian pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan Semenanjung Malaysia, masuk ke Indonesia pada abad ke-15, (1599) (Mulyani, 2000).
Tanaman nanas berbentuk semak dan hidupnya bersifat tahunan (perennial). Tanaman nanas terdiri dari akar, batang, daun, batang, bunga, buah dan tunas-tunas. Akar nanas dapat dibedakan menjadi akar tanah dan akar samping, dengan sistem perakaran yang terbatas Akar-akar melekat pada pangkal batang dan termasuk berakar serabut (monocotyledonae). Kedalaman perakaran pada media tumbuh yang baik tidak lebih dari 50 cm, sedangkan di tanah biasa jarang mencapai kedalaman 30 cm (Mulyani, 2000).
Batang tanaman nanas berukuran cukup panjang 20-25 cm atau lebih, tebal dengan diameter 2,0 -3,5 cm, beruas-ruas (buku-buku) pendek.  Batang sebagai tempat melekat akar, daun bunga, tunas dan buah, sehingga secara visual batang tersebut tidak nampak karena disekelilingnya tertutup oleh daun.  Tangkai bunga atau buah merupakan perpanjangan batang (Mulyani, 2000).


Daun nanas panjang, liat dan tidak mempunyai tulang daun utama.  Pada daunnya ada yang tumbuh dari duri tajam dan ada yang tidak berduri.  Tetapi ada pula yang durinya hanya ada di ujung daun.  Duri nanas tersusun rapi menuju ke satu arah menghadap ujung daun (Mulyani, 2000).
Daun nanas tumbuh memanjang sekitar 130-150 cm, lebar antara 3-5 cm atau lebih, permukaan daun sebelah atas halus mengkilap berwarna hijau tua atau merah tua bergaris atau coklat kemerah-merahan. Sedangkan permukaan daun bagian bawah berwarna keputih-putihan atau keperak-perakan.  Jumlah daun tiap batang tanaman sangat bervariasi antara 70-80 helai yang tata letaknya seperti spiral, yaitu mengelilingi batang mulai dari bawah sampai ke atas arah kanan dan kiri (Mulyani, 2000).
Nanas mempunyai rangkaian bunga majemuk pada ujung batangnya. Bunga bersifat hermaprodit dan berjumlah antara 100-200, masing-masing berkedudukan di ketiak daun pelindung. Jumlah bunga membuka setiap hari, berjumlah sekitar 5-10 kuntum.  Pertumbuhan bunga dimulai dari bagian dasar menuju bagian atas memakan waktu 10-20 hari. Waktu dari menanam sampai terbentuk bunga sekitar 6-16 bulan (Mulyani, 2000).
Pada umumnya pada sebuah tanaman atau sebuah tangkai buah hanya tumbuh satu buah saja. Akan tetapi, karena pengaruh lingkungan dapat pula membentuk lebih dari satu buah pada satu tangkai yang disebut multiple fruit ( buah ganda). Pada ujung buah biasanya tumbuh tunas mahkota tunggal, tetapi ada pula tunas yang tumbuh lebih dari satu yang biasa disebut multiple crown (mahkota ganda) (Mulyani, 2000).
2.2    Mengukur Potensial Air
 Potensial air adalah potensial kimia air dimana suatu sistem atau bagian system. Dinyatakan dalam satuan tekanan dan dibandingkan dengan potensial kimia air murni (juga dalam satuan tekanan) pada tekanan atmosfer. Faktor-faktor penghasil gradient yaitu konsentrasi atau aktifitas, suhu, tekanan, efek larutan terhadap potensial kimia pelarut, matriks. Mengukur metode air dengan metode volume jaringan, metode chordate  (Salisbury dan Ross, 1995).
Hubungan antar potensial air adalah dengan melibatkan peristiwa osmosis karena osmosis merupakan peristiwa difusi dimana antara 2 tempat tersedianya difusi dipisahkan oleh membran atau selaput.Maka dapat diartikan bahwa dinding sel atau membrane protoplasma adalah merupakan membran pembatas antara zat yang berdifusi karena pada umumnya sel tumbuh-tumbuhan tinggi mempunyai dinding sel maka sebagian besar fitokimia dalam tumbuh-tumbuhan adalah merupakan proses osmosis (Haryadi, 1996).
Pada fisiologi tanaman adalah hal biasa untuk menunjukkan energi bebas yang dikandung didalam air dalam bentuk potensial air (ψ). Definisi dari potensial air adalah energi per unit volume air, potensial air berbanding lurus dengan suhunya (Mulyani, 2000).
Potensial osmotik merupakan potensial kimia yang disebabkan adanya materi yang terlarut.Potensial osmotik selalu memiliki nilai negative, hal ini disebabkan karena cenderung bergerak menyeberangi membran semi permeable dari air murni menuju air yang mengandung zat terlarut (Haryadi, 1996).

Besar jumlah potensial air pada tumbuhan dipengaruhi oleh 4 macam komponen potensial, yaitu gravitasi, matriks, osmotik dan tekanan.Potensial    gravitasi bergantung pada air didalam daerah gravitasi.Potensial matriks bergantung pada kekuatan mengikat air saat penyerapan.Potensial osmotik bergantung pada hidrostatik atau tekanan angin dalam air (Haryadi, 1996).
Terdapat lima mekanisme utama yang menggerakkan air dari suatu tempat ke tempat lain, yaitu melalui proses difusi, osmosis, tekanan kapiler, tekanan hidrostatik, dan gravitasi.
2.3    Mengukur Laju Transpirasi
       Transpirasi ialah suatu proses kehilangan air dari tumbuh-tumbuhan ke atmosfer dalam bentuk uap air. Air diserap dari akar rerambut tumbuhan  dan air itu kemudian diangkut melalui xylem ke semua bagian tumbuhan khususnya daun. Bukan semua air digunakan dalam proses fotosintesis .air yang berlebihan  akan disingkirkan melalui proses transpirasi. Jika kadar kehilangan air melalui transpirasi melebihi  kadar pengambilan air tumbuhan tersebut, pertumbuhan pokok akan terhalang. Akibat itu, mereka yang mengusahakan penanaman secara besar-besaran mungkin mengalami  kerugian yang tinggi sekira mengabaikan factor kadar transpirasi tumbuh-tumbuhan (Malik, 2008).
Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dalam bentuk uap air jaringan hidup tanaman yang terletak diatas permukaan tanah melewati stomata, tulang kutikula, dan lentisel 80% air yang ditranspirasikan berjalan melewati lubang stomata, paling besar peranannya dalam transpirasi (Malik, 2008).
2.4    Stomata
 Stomata adalah lubang-lubang kecil yang dikelilingi oleh dua sel epidermis khusus yang disebut sel penutup dan terdapat pada permukaan daun, biasanya stomata disebut juga dengan mulut daun. Stomata ini berfungsi sebagai alat pernafasan bagi tumbuhan, sebagai jalan masuknya CO2 dari udara pada proses fotosintesis serta sebagai jalan untuk penguapan (Transpirasi). Tanpa stomata tumbuhan tidak akan bisa hidup, karena itu stomata sangat berpengaruh penting terhadap kehidupan suatu tumbuh-tumbuhan (Purwanti, 2007).
Struktur Stomata. Stomata menempati sekitar 1-12% dari total luas daun. stomata Masing-masing terdiri dari sebuah pembuka (pori) dibatasi oleh dua khusus biasanya ginjal, berbentuk, sel-sel epidermis yang dikenal sebagai sel penjaga. Sel penjaga mempunyai penebalan dinding tidak merata. Dinding bagian dalam menghadap aperture sangat kental sedangkan yang jauh dari kecepatan rana yang tipis dan extensible. Sel penjaga juga ditutupi dengan kutikula yang menjangkau dinding bagian dalam membentuk batas dari pori-stomata dan ruang sub. sel Guard dikelilingi oleh sejumlah variabel sel-sel epidermis yang disebut atau aksesori sel anak. Sel-sel ini mungkin morfologi serupa dengan sel epidermis lain atau sangat berbeda dari mereka (Purwanti, 2007).




2.4.6        Mekanisme membuka dan menutupna stomata
Cahaya matahari merangsang sel penjaga menyerap ion K+ dan air, sehingga stoma membuka pada pagi hari.Konsentrasi CO2 yang rendah di dalam daun juga menyebabkan stoma membuka. Stomata akan menutup apabila terjadi cekaman air. Pada saat cekaman air, zat pengatur tumbuh ABA diproduksi di dalam daun yang menyebabkan membran menjadi bocor sehingga terjadi kehilangan ion K+ dari sel penjaga dan menyebabkan sel penjaga mengkerut sehingga stomata menutup. Faktor internal yaitu jam biologis memicu serapan ion pada pagi hari sehingga stoma membuka, sedangkanpada malam hari terjadi pembebasan ion yang menyebabkan stoma menutup. Stomata pada sebagian besar tanaman umumnya membuka pada siang (Purwanti, 2007).
Membuka dan menutupnya stomata pada daun terjadi akibat adanya peristiwa turgor pada guard cell.Bergeraknya air dari epidermal cell ke dalam guard cell, mengakibatkan turgor meningkat di dalm guard cell dan meimbulkan elastic straccking pada dinding guard cell.Dengan berkembangnya kedua guard cell ini, hal tersebut mengakibatkan menutupnya stomata. Namun apabila tekanan turgor itu rendah, maka stomata tersebut akan membuka lagi. Hal ini berarti proses membuka dan menutupnya stomata ditentukan oleh turgor yang terjadi pada guard cell (Purwanti, 2007).




2.4.7   Factor-faktor yang mempengaruhi membuka dan menutupnya stomata
Faktor yang mempengaruhi membuka dan metupnya stomata di pengaruhi faktor luar antara lain kelembaban udara. Besarnya selisih antar kelembaban udara dengan kelembaban udara di ruangan akan menentukan kecepatan difusi, temperatur. Kenaikan temperatur mempercepat transpirasi karena mempercepat evaporasi dari permukaan sel mesofil daun.Kenaikan temperatur juga menurunkan kelembaban udara, kecepatan angin. Angin akan memindahkan uap air dari permukaan daun sehingga kelembaban udara di permukaan daun berkurang, cahaya. Cahaya tidak berpengaruh langsung terhadap transpirasi, tetapi lewat pengaruhnya pada membukanya stomata serta kenaikan temperatur, ketersediaan air. Bila tumbuhan kekurangan air, transpirasi akan berkurang karena stomata menutup akibat turunnya tekanan turgor sel penutup. Oleh karena itu, terjadinya penguapan bukan hanya dipengaruhi faktor luar (lingkungan), tetapi juga dipengaruhi membuka-tutupnya stomata pada permukaan daun yang dilalui lebih dari 90% air yang ditranspirasi dan CO2  (Purwanti, 2007).
2.5      Klorofil
Klorofil adalah kelompok pigmenfotosintesis yang terdapat dalam tumbuhan, menyerap cahaya merah, biru dan ungu, serta merefleksikan cahaya hijau yang menyebabkan tumbuhan memperoleh ciri warnanya. Terdapat dalam kloroplas dan memanfaatkan cahaya yang diserap sebagai energi untuk reaksi-reaksi cahaya dalam proses fotosintesis. Klorofil A merupakan salah satu bentuk klorofil yang terdapat pada semua tumbuhan autotrof.Klorofil B terdapat pada ganggang hijau chlorophyta dan tumbuhan darat.Klorofil C terdapat pada ganggang coklat Phaeophyta serta diatome Bacillariophyta.Klorofil d terdapat pada ganggang merah Rhadophyta. Akibat adanya klorofil, makanannya sendiri dengan bantuan cahaya matahari (Hadi, 2009).
Struktur klorofil berbeda-beda dari struktur karotenoid, masing-masing terdapat penataan selang-seling ikatan kovalen tunggal dan ganda.Pada klorofil, sistem ikatan yang berseling mengitari cincin porfirin, sedangkan pada karotenoid terdapat sepasang rantai hidrokarbon yang menghubungkan struktur cincin terminal.Sifat inilah yang memungkinkan molekul-molekul menyerap cahaya tampak demikian kuatnya, yakni bertindak sebagai pigmen.Sifat ini pulalah yang memungkinkan molekul-molekul menyerap energi cahaya yang dapat digunakan untuk melakukan fotosintesis (Sukamto, 2007).
2.6      Spektrofotometer
  Spektrofotometer sangat berhubungan dengan pengukuran jauhnya pengabsorbsian energi cahaya oleh suatu sistem kimia sebagai fungsi panjang gelombang dengan absorban maksimum dari suatu unsur atau senyawa. Konsentrasi unsur atau senyawa dapat dihitung dengan menggunakan kurva standar yang diukur pada panjang gelombang absorban tersebut, yaitu panjang gelombang yang diperoleh dari hasil nilai absorbansi yang tertinggi.spektrumabsorban selain bergantung pada sifat dasar kimia, juga bergantung pada faktor-faktor lain. Perubahan pelarut sering menghasilkan pergesaran dari pta absorbsi. Larutan pembanding dalam spektrofotometri pada umumnya adalah pelarut murniatau suatu larutan blanko yang mengandung sedikit zat yang akan ditetapkan atautidak sama sekali (Saleh, 2003).
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorbansuatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri. Spektrofotometri dikenal menjadi dua kelompok utama, yaitu spektofotometri atom dan spektrofotometri molekular.
Dasar dari spektrofotometri atom adalah tingkat energi elektron valensi suatu atom atau unsur. Dasarspektrofotometri molekul adalah tingkat molekul yang melibatkan energielektronik, energi vibrasi, dan energi rotasi. Spektra absorbansi daris pektrofotometri atom lebih sederhana dari pada spektra molekulnya karenakeadaan energi elektronik tidak mempunyai sub tingkatan vibrasi-rotasi (Harydi, 1996).
2.7      Proses Terbentuknya Klorofil
         Kloroplas ditemukan pada sel tumbuhan.Pengamatan dengan mikroskop cahaya, dengan pembesaran yang paling kuat, kloroplast terlihat berbentuk butir.Bentuk kloroplast yang beraneka ragam ditemukan pada alga.Kloroplast berbentuk pita spiral ditemukan pada Spirogyra, sedangkan yang berbentuk jala ditemukan pada Cladophora, sedangkan kloroplast berbentuk pita ditemukan pada Zygnema.Seperti halnya mitokondria, kloroplas dikelilingi oleh membran luar dan membran dalam. Membran dalam menutupi daerah yang berisi cairan yang disebut stroma yang mengandung enzim untuk reaksi terang pada proses fotosintesis. Stroma juga mengandung DNA dan ribosom.Pelipatan membran dalam membentuk struktur seperti tumpukan piringan yang saling berhubungan yang disebut tilakoid yang tersusun membentuk grana. Membran tilakoid yang mengelilingi ruang interior tilakoid yang berisi cairan mengandung klorofil dan pigmen fotosintesis lain serta rantai transport electron (Fahri, 2011).
Reaksi terang dari fotosintesis terjadi di tilakoid.Membran luar kloroplas menutupi ruang intermembran antara membran dalam dan membran luar kloroplas. Walaupun kloroplas memiliki DNA, sebagian besar protein dalam kloroplas dikode oleh gen nuklear, dihasilkan di sitoplasma dan selanjutnya dikirim ke kloroplas (Fahri, 2011).
2.8      Pigmen Tumbuhan
         Proses fotosintesis melibatkan pigmen fotosintesis. Tanpa pigmen fotosintesis, tumbuhan tidak mampu melaksanakan fotosintesis.Secara umum, fotosintesis terjadi didalam kloroplas.Pada tumbuh-tumbuhan, fotosisntesis dapat terjadi pada organ batang serta daun yang mengandung kloroplas dan terkena radiasi matahari. Fotosintesis banyak terjadi pada jaringan perenkim palisade dan parenkim spon. Kedua jaringan tersebut termasuk mesofil daun atau daging daun. Pada epidermis tidak terjadi fotosintesis karena tidak mengandung kloroplas, kecuali pada mulut dan (stomata) yaitu pada sel penutup (Kimball, 1983).
Pada percobaan Jan Ingenhousz, dapat diketahui bahwa intensitascahaya memengaruhi laju fotosintesis pada tumbuhan.Hal ini dapat terjadi karena perbedaan energi yang dihasilkan oleh setiap spektrumcahaya.Di samping adanya perbedaan energi tersebut, faktor lain yang menjadi pembeda adalah kemampuan daun dalam menyerap berbagai spektrum cahaya yang berbeda tersebut.Perbedaan kemampuan daun dalam menyerap berbagai spektrum cahaya tersebut disebabkan adanya perbedaan jenis pigmen yang terkandung pada jaringan daun.Di dalam daun terdapat mesofil yang terdiri atas jaringan bunga karang dan jaringan pagar.Pada kedua jaringan ini, terdapat kloroplas yang mengandung pigmen hijau klorofil.Pigmen ini merupakan salah satu dari pigmen fotosintesis yang berperan penting dalam menyerap energi matahari (Kimball, 1983).

2.9      Klorofil a dan Klorofil b
  Klorofil merupakan pigmen hijau tumbuhan dan merupakan pigmen yang paling penting dalam proses fotosintesis. Sekarang ini, klorofil dapat dibedakan dalam 9 tipe yaitu klorofil a, b, c, d, dan e. Bakteri klorofil a dan b, klorofil chlorobium 650 dan 660. Klorofil a biasanya untuk sinar hijau biru.Sementara klorofil b untuk sinar kuning dan hijau.Klorofil lain (c, d, e) ditemukan hanya pada alga dan dikombinasikan dengan klorofil a. Bakteri klorofil a dan b dan klorofilc hlorobium ditemukan pada bakteri fotosintesin (Wuryan, 2009).
Klorofil pada tumbuhan ada dua macam, yaitu klorofil a dan klorofil b. Perbedaan kecil antara struktur kedua klorofil pada sel keduanya terikat pada protein.Sedangkan perbedaan utama antar klorofil dan heme ialah karena adanya atom magnesium (sebagai pengganti besi) di tengah cincin profirin, serta samping hidrokarbon yang panjang, yaitu rantai fitol (Sukamto, 2007).
Kloroplas berasal dari proplastid kecil (plastid yang belum dewasa, kecil dan hampir tak berwarna, dengan sedikit atau tanpa membran dalam).Pada umumnya proplastid berasal hanya dari sel telur yang tak terbuahi, sperma tak berperan disini.Proplastid membelah pada saat embrio berkembang, dan berkembang menjadi kloroplas ketika daun dan batang terbentuk.
Kloroplas muda juga aktif membelah, Khususnya bila organ mengandung kloroplas terpajan pada cahaya.Jadi, tiap sel daun dewasa sering mengandung beberapa ratus kloroplas. Sebagian besar kloroplas mudah dilihat dengan mikroskop cahaya, tapi struktur rincinya hanya bias dilihat dengan mikroskop elektron (Sukamto, 2007).
2.10  Zat-Zat Hidrofilik
         Hidrofilik menurut etimologinya terdiri atas dua kata yaitu hidro (air) dan filik (suka) sehingga dapat diartikan bahwa hidrofilik merupaka suatu senyawa yang dapat berikatan dengan air.Senyawa ini dapat berikatan dengan air diakibatkan karena bentuknya yang polar.Senyawa yang bersifat hidrofilik biasanya tidak dapat berikatan dengan molekul lemak, minyak, atau molekul-molekul nonpolar lainnya (Rioardi, 2009).
2.11  Imbibisi
  Imbibisi adalah peristiwa penyerapan air oleh permukaan zat-zat hidrofilik sepperti protein, pati, selulosa dan lain sebagainya.  Yang menyebabkan zat-zat tersebut dapat mengembang setelah menyerap air tersebut.  Kemampuan benda untuk menyerap air  disebut potensi matriks atau potensial imbibisi.  Banyak yang dapat imbibisi sangat tergantung pada air  tergantung zat terlarut (Sukamto, 2007).
            Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya imbibisi adalah perbedaan potensial air (Ψair)antara benih dengan larutan, ada tarik menarik yang spesifik antara air dengan benih, benih memiliki partikel koloid yang merupakan matriks (zat terlarut yang menyebabkan perbedaan konsentrasi sehingga mengakibatkan timbulnya perbedaan potensial air antara benih dengan larutan) yang bersifat hidrofilik (suka air)  berupa protein, pati, selulose dan lain-lain, dan benih kering memiliki Ψ sangat rendah. Benih yang kadar airnya rendah akan mengabsorpsi air masuk ke dalam benih ketika direndam (Sukamto, 2007). 
2.12  Zat Pengatur Tumbuh
Zat pengatur tumbuh adalah senyawa organik komplek alami yang disintesis oleh tanaman tingkat tinggi, yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dalam kultur jaringan, ada dua golongan zat pengatur tumbuh yang sangat penting adalah sitokinin dan auksin. Zat pengatur tumbuh ini mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ. Interaksi dan perimbangan antara zat pengatur tumbuh yang diberikan dalam media dan yang diproduksi oleh sel secara endogen, menentukan arah perkembangan suatu kultur. Penambahan auksin atau sitokinin eksogen, mengubah level zat pengatur tumbuh endogen sel. Level zat pengatur tumbuh endogen ini kemudian merupakan trigerring faktor untuk proses-proses yang tumbuh dan morfogenesis. Selain auksin dan sitokinin, gliberelin dan persenyawaan-persenyawaan lain juga ditambahkan dalam kasus-kasus tertentu (Suwasono, 1983).
Auksin adalah hormon tumbuhan pertama yang diketahui.  Pengaruh auksin telah dipelajari pada abad ke-19 oleh ahli biologi Charles Darwin.  Dia melihat bahwa ketika benih rumput-rumputan bertambah panjang, benih itu membelok ke arah datangnya cahaya, dengan mempergunakan penutup yang tidak tembus sinar.  Darwin berhasil menunjukkan bahwa tempat yang peka  terhadap cahaya adalah ujung apikal dari benih dan bukan bagian bawah tempat pembengkokan terjadi.  Hal ini menunjukkan bahwa substansi yang mendorong pertumbuhan berfungsi seperti hormon, kemudian hormon ini diisolasi pada tahun 1928 dan diberi nama auksin.  Kemudian Peran auksin pertama kali ditemukan oleh ilmuan Belanda bernama Fritz Went (1903-1990) (Suwasono, 1983).
2.13  Caumarin
Caumarin (2H-chromen-2-satu) adalah senyawa kimia (khususnya, benzopyrone a) ditemukan dalam banyak tanaman, terutama dalam konsentrasi tinggi dalam kacang Tonka (Dipteryx odorata), rumput vanili (Anthoxanthum odoratum), Woodruff (Galium odoratum) , mullein (Verbascum spp.), rumput manis (Hierochloe odorata), dan semanggi manis (Saleh, 2003).
Nama berasal dari kata Perancis, coumarou, untuk kacang Tonka. Memiliki aroma manis, mudah diakui sebagai aroma jerami yang baru-siang, dan telah digunakan di parfum sejak 1882. Ini adalah penekan nafsu makan pahit-mencicipi, dan mungkin dihasilkan oleh tanaman sebagai bahan kimia pertahanan untuk mencegah  predator.Meskipun camarin tidak memiliki aktivitas antikoagulan, itu berubah menjadi dicoumarol antikoagulan alami oleh beberapa jenis jamur.Hal ini terjadi sebagai akibat dari produksi 4-hydroxycoumarin, maka lebih lanjut (di hadapan alami formalin) ke dalam dicoumarol antikoagulan aktual, suatu produk fermentasi dan mikotoksin (Saleh, 2003).

2.14  2,4-D
         2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) adalah herbisida sistemik yang umum untuk digunakan dalam mengontrol gulma yang tumbuh dalam tanaman pertanian. Herbisida ini merupakan jenis terbanyak yang digunakan di seluruh dunia. Tidak hanya itu, 2,4-D dikenal sebagai salah satu jenis auksin sintetik yang penting. Biasanya digunakan dalam penelitian laboratorium untuk menguji berbagai tumbuhan dan sebagai suplemen pada sel tumbuhan di dalam media kultur seperti MS Medium (Sukamto, 2007).
Selain sebagai herbisida, 2,4-D juga berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh yang bila digunakan dalam konsentrasi rendah akan merangsang dan menggiatkan pertumbuhan tanaman. Sebaliknya apabila digunakan dalam konsentrasi yang tinggi akan menghambat pertumbuhan bahkan dapat mematikan tanaman. Senyawa ini memiliki sifat yang selektif pada gulma, sehingga dapat mematikan gulma tetapi tanaman pokok yang dibudidayakan tidak terganggu.Sebagai salah satu senyawa yang masuk ke dalam grup hormon auksin, maka 2,4-D dapat bekerja maksimum untuk pembelahan dan pembesaran sel serta pembentukan akar stek bila diberikan dalam konsentrasi rendah (Sukamto, 2007).
  Herbisida jenis 2,4 -D ini tergolong ideal, karena memiliki beberapa kelebihannya yaitu relatif murah, tidak meninggalkan racun pada hewan, tidak menyebabkan karatan, tidak mudah terbakar dan mudah diencerkan dalam pengaplikasiannya. Senyawa 2,4-D sangat ampuh untuk membasmi gulma berdaun sempit pada lahan persawahan (Sukamto, 2007).

2.15  Giberelin
         Giberelin merupakan suatu compound (senyawa) yang mengandung gibban skeleton. Perbedaan utama pada gibberelline adalah beberapa gibberelline mempunyai 19 buah atom karbon dan yang lainnya mempunyai 20 buah atom karbon. Grup hidroksil berada dalam posisi 3 dan 13 (ent gibberellene numbering system). Semua giberelin dengan 19 atom karbon adalah monocarboxylic acid yang mengandung COOH grup pada posisi 7 dan mempunyai sebuah lactonering.Di dalam alam, dijumpai pula beberapa senyawa yang di ekstrak dari tanaman.Senyawa tersebut tidak mengandung giberelin atau giberelin struktur tetapi termasuk ke dalam giberelin. Dari hasil penelitian Tamura dkk, ia menemukan suatu substansi dalam jamur Helminthosporium sativum yang dinamakan helminthosporol yang aktif dalam perpanjangan daun pada kecambah padi dan barley. Senyawa lain yang ditemukan tanpa gibban skeleton yaitu Steviol, namun aktivitasnya seperti giberelin (Suwasono, 1983).
2.16  Urea
  Urea ditemukan pertama kali oleh Hilaire Roulle pada tahun 1773.Senyawa ini merupakan senyawa organik pertama yang berhasil disintesis dari senyawa anorganik.Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO.  Urea juga dikenal dengan nama carbamide yang terutama digunakan di kawasan Eropa.  Nama lain yang juga sering dipakai adalah carbamide resin, isourea, carbonyl diamide dan carbonyldiamine.  Senyawa ini adalah senyawa organik sintesis pertama yang berhasil dibuat dari senyawa anorganik, yang akhirnya meruntuhkan konsep vitalisme (Sukamto, 2007).
2.17  Auksin
  Auksin adalah salah satu hormon tumbuh yang tidak terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan (growth and development) suatu tanaman.  Auksin berfungsi untuk merangsang pembesaran sel, sintesis DNA kromosom, serta pertumbuhan sepanjang aksis longitudinal tanaman.Indole Acetic Acid (IAA) adalah suatu auxin. stimulasi auxin pada pertumbuhan celeoptile ataupun pucuk suatu tanaman, merupakan suatu hal yang dapat dibuktikan.Praktek yang mudah dalam pembuktian kebenaran diatas dapat dilakukan dengan Bioassay method yaitu dengan the straight growth tets dan curvature test. Indoleacetaldehyde diidentifikasikan sebagai bahan auxin yang aktif dalam tanaman, selanjutnya ia mengemukakan bahwa zat kimia tersebut aktif dalam menstimulasi pertumbuhan kemudian berubah menjadi IAA (Suwasono, 1983).
Perubahan tersebut adalah perubahan dari Trypthopan menjadi IAA Tryptamine sebagai salah satu zat organik, merupakan salah satu zat yang terbentuk dalam biosintesis IAA. Dalam hal ini perlu dikemukakan dalam tanaman famili Cruciferae dan merupakan zat yang dapat dikelompokan ke dalam auxin  (Suwasono, 1983).



2.18  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Auksin
  Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja auksin dalam sel adalah cahaya,
sinar dapat merusak auksin dan dapat menyebabkan pemindahan auksin ke jurusan yang menjauhi sinar. Sinar nila merusak auksin atau mencegah terjadinya auksin.Ada dua macam pigmen yang suka meresap sinar nila, yaitu betakarotin dan riboflavin.Riboflavin terdapat di dalam ujung-ujung batang, dan meskipun tanpa betakarotin pengaruh fototropisme tetap ada, sehingga riboflavin merupakan pigmen yang meresap sinar nila yang dapat merusak enzim-enzim yang membantu pembentukan AIA dan triptofan.Yang kedua yaitu Gaya berat, peredaran auksin adalah dari puncak menuju ke dasar (bagian akar). Sisi bawah dari ujung batang menerima lebih banyak auksin daripada sisi sebelah atas sebagai akibat dari pengaruh gaya berat. Dan yang ketiga yaitu kadar auksin yang tinggi akan menggiatkan pengembangan sel-sel batang, akan tetapi menghambat pertumbuhan sel-sel akar (
Suwasono, 1983).
2.19  Hipokotil
  Pada tanaman, pertumbuhan dimulai dari proses perkecambahan biji. Perkecambahan dapat terjadi apabila kandungan air dalam biji semakin tinggi karena masuknya air ke dalam biji melalui proses imbibisi. Apabila proses imbibisi sudah optimal, dimulailah perkecambahan. Struktur yang pertama muncul, yang menyobek selaput biji adalah radikula yang merupakan calon akar primer.Radikula adalah bagian dari hipokotil.Pada bagian ujung sebelah atas terdapat epikotil(calon batang).Berdasar letak kotiledonnya, ada dua jenis perkecambahan yaitu tipe epigeal, dan tipe hipogeal (Salisbury, 1995).
2.20  Jaringan Tumbuhan
  Berdasarkan sifatnya jaringan tumbuhan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa.Jaringan meristem adalah jaringan yang sel penyusunnya bersifat embrional (terus menerus membelah). Ciri-ciri meristem misalnya sel muda dan belum mengalami diferensiasi dan spesialisasi, berdinding tipis, protoplasma banyak, vakuola kecil, inti besar, plastida belum matang dan berbentuk sama ke segala arah. Meristem Primer berkembang dari sel embrional
letaknya pada kuncup, ujung akar, batang dan cabang fungsinya memungkinkan akar dan batang bertambah panjang (pertumbuhan primer).Meristem Sekunder
berkembang dari jaringan dewasa yang telah mengalami differensiasi dan spesialisasi terdapat pada cambium fungsinya memungkinkan batang bertamch besar (pertumbukan sekunder/melebar).Jaringan dewasa merupakan jaringan yang terbentuk dari hasil diferensiasi dan spesialisasi sel-sel jaringan meristem.
Berdasarkan bentuk dan fungsinya jaringan permanen sebagai
jaringan epidermis, terdapat di permukaan organ tubuh tumbuhan.
dan jaringan parenkim, umumnya sel-sel besar, kaya akan ruang antara sel, disebut sebagai jaringan dasar
(Lakitan, 2004).
  Pada daun ada 2 macam yaitu parenkim palisade dan parenkim bunga karang (spons).Jaringan penyokong, mengokokoh berdirinya tubuh tumbuhan, diantaranya jaringan kolenkim dan sklerenkim. Dan jaringan pengangkut,  terdiri atas floem dan xylem (Mukhtarom, 2008).
III.    METODE PRAKTEK
3.1     Tempat dan Waktu Praktek
        Praktikum Fisiologi Tumbuhan ini di laksankan di Laboratorium Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Paraktikum ini di mulai pada hari sabtu tanggal 01 desember 2012, hari rabu tanggal  05 desember 2012 dan hari sabtu tanggal 08 desember 2012.
3.2     Alat dan Bahan
3.2.1   Mengukur potensial air umbi kentang
            Alat yang digunakan berupa, Alat  pengebor gabus, Botol selai, Mistar, Pisau, Kertas label. Bahan, Umbi kentang, Larutan sukrosa ( konsentrasi 0; 0,2 M; 0,4 M; 0,6 M; 0,8 M; 1,0 M )
3.2.2        Mengukur laju transpirasi dengan penimbangan
            Alat yang di gunakan berupa,A qua botol besar 2 buah, Gabus/streform atau kapas Alumunium foil, Timbangan analitik, Kertas label. Bahan, Tanaman tomat ( tinggi 40 cm ),  Tanaman cabai ( tinggi 40 cm ).
3.2.3        Pengaruh turgor terhadap membuka dan menutupnya stomata
            Alat yang di gunakan, Mikroskop, Gelas objek, Gelas penutup, Pipet tetes, Pinset, Tissue. Bahan, Adam hawa ( Rhoeo discolor ), Aquades, Larutan sukrosa 10 %.


Oval:        42
 
3.2.4        Imbibisi
Bahan yang digunakan adalah biji kacang hijau (Phaseolus radiatus), larutan NaCl 4,0 M; 2.0 M; 1.0 M; 0.8 M, 0.6 M, 0.4 M dan aquades.  Alat yang digunakan pada praktikum adalah cawan petri, timbangan, gelas ukur, pipet tetes, gelas kimia, timbangan dan tissue.

3.2.5        Pemisahan pigmen fotosintetik dengan kromatografi kertas
            Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sentrifuge, mortal dan pastel, jepitan kertas, dan roll film.  Bahan yang digunakan yaitu daun muda dan tua jagung (Zea mays), daun Kakao (Theobroma cacao), daun nenas (Ananas sativus), kertas saring, kertas label dan alkohol 70%.
3.2.6        Mengukur kadar klorofil dengan spektrofotometer
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah spektrofotometer, sentrifuge, mortal dan pastel, cawan petri, dan gelas aqua.  Bahan yang digunakan yaitu daun muda dan tua Jagung (Zea mays), daun kakao (Theobroma kakao), daun nenas (Ananas sativus)  yang masih muda, alkohol 70% dan kertas label.
3.2.7        Pengaruh ZPT terhadap perkecambahan biji
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah gelas ukur dan cawan petri. Bahan yang digunakan adalah kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus), 0.5 ppm caumarin, 7,0 ppm 2 4-D, 0.02 ppm giberelin, 12,5 ppm urea, aquades dan tissue.

3.2.8        Pengaruh auksin terhadap pemanjangan jaringan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah pisau tajam atau silet, gelas ukur,dkk. Bahan yang digunakan adalah kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus) berumur 5 hari, larutan IAA 0.01ppm, 0.03 ppm, 0.05 ppm, 0.07 ppm, 0.09 ppm, aquades dan tissue.
3.3    Cara Kerja
3.3.2        Mengukur potensial air umbi kentang
Cara kerja dari mengukur potensial air umbi kentang denagan menyiapkan umbi kentang, kemudian membuat silinder umbi sepanjang 4 cm sebanyak 4 buah dengan menggunakan alat pengebor gabus (antena).  Setelah itu menyiapkan masing-masing 1 buah botol selai yang berisi larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,2 M dan air.Kemudian memasukkan potongan umbi kentang ke dalam botol dengan 4 potongan umbi secara bersamaan, lalu menutup botol dengan rapat dan membiarkan botol yang berisi umbi kentang selama 2 jam.Kemudian mengukur kembali panjang masing-masing umbi kentang secara cermat setelah 2 jam.Selanjutnya mencatat hasil pengukuran, lalu menghitung panjang rata-rata dari keempat umbi yang ada.
3.3.3        Mengukur laju transpirasi dengan penimbangan
Cara kerja dari mengukur laju transpirasi dengan penimbangan dengan menyiapkan tanaman tomat dan cabai ( 40 cm ) masing-masing dua buah tanaman tanpa bunga, lalu siapkan 2 buah botol aqua besar dan isi dengan air 9 ½ tinggi boto, kemudian tutuplah mulut botol dengan alumunium foil dan masukkan  tanaman tomat dan cabai melalui lubang yang telah dibuat, kemudian timbang masing-masing botol yang telah berisi tanaman dan catat beratnya lalu letakkan 1 tanaman di dalam ruangan tertutup dan 1 tanaman diluar ruangan dan kemudian timbang botol berisi tanaman  setelah 15 menit.
3.3.4        Pengukuran turgor terhadap membuka dan menutupnya stomata
Cara kerja dari pengukuran turgor terhadap membuka dan menutupnya stomata, adalah menyiapkan mikroskop, lalu meletakkan mikroskop tersebut pada tempat yang mendapat cukup cahaya. Selanjutnya, membuat sayatan kecil di bagian epidermis bawah daun tanaman Rhoeo discolor dengan silet atau pinset, kemudian meletakkan sayatan epidermis tadi pada object glass lalu meneteskannya dengan air.  Setelah itu menutupnya dengan cover glass, kemudian mengamati preparat di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 kali.Selanjutnya, mengamati jumlah stomata yang terbuka dan tertutup pada preparat yang ada.  Setelah itu, melakukan pengamatan dengan meneteskan larutan sukrosa 10% pada preparat epidermis bawah daun Rhoeo discolor, lalu kembali melakukan pengamatan di bawah mikroskop,  membandingkan perbedaan yang terjadi saat menggunakan air dengan saat menggunakan larutan sukrosa 10%.  Setelah itu, menggambarkan serta menyebutkan bagian-bagian stomata yang ada pada preparat.



3.3.5        Imbibisi
Cara kerja dari imbibisi adalah dengan menyiapkan biji kacang hijau kering dan dihitung 20 biji kering yang diulang sebanyak tujuh kali. Setelah itu menyiapkan tujuh buah cawan petri dengan tissue di dalamnya, lalu mengisi masing-masing cawan petri dengan 20 biji kacang hijau kering lalu menimbangnya dan mencatat beranya masing-masing. Setelah itu tiap cawan petri diberilarutan NaCl yang disediakan dan aquades sebagai control. Kemudian ketujuh cawan petri tersebut disimpan selama 48 jam.  Setelah 48 jam, mengambil biji dari cawan petri lalu mengeringkannya dengan kertas tissue kemuian ditimbang kembang kembali.  Setelah selesai penimbangan, melanjutkan dengan penghitungan persentase air yang masuk ke dalam biji pada setiap larutan terhadap biji kering mula-mula.
3.3.6        Pemisahan pigmen fotosintetik dengan kromatografi  kertas
Cara kerja dari pemisahan pigmen fotosintetik dengan kromatografi kertas dengan  menyiapkan daun jagung (Zea mays), daun Kakao (Theobroma cacao), nenas (Ananas sativus) kemudian merajang kecil-kecil dan menimbang seberat 1 gram, kemudian mengekstrak dengan 25 ml alkohol 70 % sampai seluruh klorofil terlarut.  Setelah itu mengendapkan ampasnya dengan menggunakan sentrifuge, lalu menuang larutan ekstrak ke dalam cawan petri .Setelah itu, dengan menggunakan penjepit kertas kami menjepitkan kertas saring dan mencelupkan ke dalam ekstrak klorofil pada cawan petri tadi.  Lalu membiarkan kertas saring tersebut tergantung untuk beberapa menit, hingga terlihat pemisahan pigmen yang ada pada daun sampel. Kemudian memperhatikan pigmen yang diperoleh pada kertas saring tersebut.Paling tidak terdapat tiga macam pigmen.
3.3.7        Mengukur  kadar klorofil dengan spektrofotometer
Cara kerja dari mengukur kadar klorofil dengan spektrofotometer adalah merajang daun kecil-kecil lalu meletakkannya dalam cawan petri kemudian menimbang daun Jagung (Zea mays), kakao  (Theobroma kakao), nenas (Ananas sativus)sebanyak 0.1 gram.Setelah itu mengekstraknya dalam mortal dengan 20 ml alkohol 70 %, lalu menggerus daun tersebut sampai semua hancur dan terlarut dalam klorofil. Setelah yakin, semua pigmen klorofil terlarut dan terlihat ampasnya yang putih, kemudian mengendapkan ampasnya dengan sentrifuge, lalu mengambil supernatan dengan pipet secara perlahan.Setelah itu mengukur absorbsan dari larutan tersebut pada panjang gelombang 649 nm dan 665 nm.  lalu menentukan kadar klorofil a dan klorofil b dengan rumus yang terdapat modul.
3.3.8        Pengaruh Zat pengatur tumbuh terhadap perkecambahan biji
Cara kerja dari pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap perkecambahan biji, dengan menyiapkan 5 buah cawan petri dan melapisinya dengan tissue dan larutan yang disediakan (tiga larutan zat pengatur tumbuh dan satu aquades sebagai control) sebanyak 5 ml. Kemudian meletakkan dengan teratur 25 biji pada setiap cawan petri. Setelah itu, menyimpan cawan petri ditempat yang gelap. Mengamatinya setiap hari, menghitung persentase biji yang berkecambah.  Selanjutnya, mengeluarkan setiap biji yang berkecambah dari cawan petri  Setelah itu membandingkan hasil dari semua perlakuan.
3.3.9        Pengaruh auksin terhadap perkecambahan biji
Adapun cara kerja dari pengaruh auksin terhadap perkecambahan biji, yaitu dengan menyiapkan 6 buah cawan petri dan melapisinya dengan tissue.Kemudian membuat potongan hipokotil sepanjang 3 cm dengan menggunakan mistar.Setelah itu, kami meletakkan masing-masing 5 potongan hipokotil pada cawan petri kemudian mengisi keenam cawan petri dengan larutan yang berbeda-beda dan satu cawan petrilagi kami isi dengan aquades sebagai control.  Selanjutnya, kami menyimpan cawan petri di tempat gelap selama 48 jam dan melakukan pengukuran kembali setelah penyimpanan.  Setelah itu membandingkan semua perlakuan yang ada.











IV.        HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1    Hasil
4.1.1        Mengukur potensial air umbi kentang
 Table 1. Perubahan potensial air umbi kentang (Solanum tuberosum) pada       beberapa konsentrasi larutan sukrosa selama 1 jam
Perlakuan
Panjang awal
Panjang akhir
Selisi
0
4 cm
4,25 cm
0,25 cm
0,2
4 cm
4,4 cm
0,4 cm
0,4
4 cm
4 cm
-
0,6
4 cm
3,85 cm
-15 cm
0,8
4 cm
4,5 cm
0,5 cm
1,0
4 cm
3,7 cm
-0,3 cm

Grafik 1. Perubahan panjang umbi kentang (Solanum tuberosum) pada beberapa konsentrasi larutan sukrosa selama 1 jam



Oval:       50
 
4.1.2        Mengukur laju transpirasi dengan penimbangan
 Table 2. Pengamatan laju transpirasi dengan penimbangan yang di                                                                                            lakukan di dalam dan di luar ruangan
perlakuan
Penimbangan
Dalam ruangan
Tanaman
Awal
15 menit I
30 menit II
Tomat
0,00125
0,00124
0,00121
Cabai
0,00125
0,00124
0,00123
Luar ruangan
Tomat
0,00105
0,00105
0,00105
Cabai
0,00086
0,00086
0,00084


4.1.3        Pengukuran turgor terhadap membuka dan menutupnya stomata




 


















Gambar 1. Anatomi Stomata daun rhoeo discolor denagn menggunakan aquades yang di amati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x.








 


















Gambar 2. Anatomi stomata rhoeo discolor dengan menggunakan larutan sukrosa yang di amati di bawah mikroskop denagan prbesaran 10x.

4.1.4        Imbibisi
Tabel 3. Perubahan Berat Biji Kacang Hijau ( M ) yang di Larutkan  selama 48 jam

Konsentrasi    ( M )
Berat awal        ( gr )
Berat akhir      ( gr )
Selisih ( gr )
% air yang masuk
Nacl 4,0 M
1,57 gr
2,57 gr
0,6 gr
30,48 %
Nacl 2,0 M
2,39 gr
3,53 gr
1,14 gr
47,69 %
Nacl 1,0 M
2,18 gr
3,77 gr
1,59 gr
72,93 %
Nacl 0,8 M
1,92 gr
3,36 gr
1,78 gr
75 %
Nacl 0,6 M
1,51 gr
2,99 gr
1,48 gr
98,013 %
Nacl 1,58 M
1,58 gr
3,01 gr
1,43 gr
91,772 %
aquades
2,22 gr
5,20 gr
2,98 gr
134,23 %




4.1.5        Pemisahan pigmen fotosintetik dengan kromatografi  kertas
Tabel 4. Jenis Pigmen yang Terkandung dalam Kromatografi Kertas
No
Jenis Daun Tanaman
Pigmen yang tampak
Jenis peigmen yang tarkandung
1
Daun Jagung Tua
Hijau Mudah
Klorofil b
2
Daun Jagung Mudah
Hijau Tua
Klorofil a
3
Daun Coklat Tua
Kuning Muda
Karoteoid
4
Daun Coklat Mudah
Kuning Mudah
Karotenooid
5
Daun Nenas Tua
Hijau Mudah
Klorofil b
6
Daun Nenas Mudah
Hijau Mudah
Klorofil b


4.1.6        Mengukur  kadar klorofil dengan spektrofotometer
Daun jagung muda
klorofil a             = ( 13,7 x 2,378 ) – ( 5,76 x 1,289 )
                           = 32,57 – 7,42
                           = 25,15
Klorofl b            = ( 25,8 x 1,289 ) – ( 76 x 2,378 )
                           = 33. 2562 – 18,0728
                           = 15,1834
Daun jagung muda
Klorofil  a     = ( 13,7 x 2,513 ) – ( 5,76 x 2,433 )
                     = 34,42 – 14,01
                     = 20,41
Klorofil b     =  ( 25,8 x 2,433 ) – ( 76 x 2,513 )
                     = 62,7714 – 19,08
                     = 43,6941
Daun coklat muda
Klorofil a      = ( 13,7 x 1,546 ) – ( 5,76 x 1,133 )
                     = 21,18 – 6,52
                     = 14,66
Klorofil b     = ( 25,8 x 1,133 ) – ( 76 x 1,546 )
                     = 29,2314 – 11,74
                     = 17,4914
Daun coklat muda
Klorofil a      = ( 13,7 x 0,425 ) - ( 5,76 x 0,300 )
                     = 5,82 – 1,728
                     = 4,092
Klorofil b     = ( 25,8  x 0,300 ) – ( 7, 6 x 0,425 )
                     = 7,74 – 3,23
                     = 4,51
Daun nenas tua
Klorofil A    = ( 13,7 x 1,550 ) – ( 5,57 x 1,316 )
                     =  21 235 – 7,58
                     = 13,655
Klorofil B     = ( 25,8 x 1,316 ) – ( 7,6 x 1,550 )
                     = 29,1953 – 11,78
                     = 17,4153
Daun nenas tua
Klorofil A    = ( 13,7 x 1,915 ) – ( 5,76 x 1,175 )
                     = 26,23 – 6,768
                     = 19,462
Klorofil B     = ( 25,8 x 1,175 ) – ( 7,6 x 1,915 )
                     = 30,315 – 19,554
                     = 15,761
4.1.7        Pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap perkecambahan biji
Tabel 5.Persentase perkecambahan biji kacang hijau terhadap berbagai jenis zat pengatur tumbuh ( ZPT ) selama tiga hari.


Hari
Jumlah biji
Zat  pengatur tumbuh ( ZPT )
kontrol
0,5 ppm
caumarin
7,0 ppm
2,4-D
0,02 pm
Giberelin
12,5 ppm
Urea
I
25
0
0
0
0
0
II
25
0
0
0
0
0
III
25
22
18
24
23
21






4.1.8        Pengaruh auksin terhadap perkecambahan biji
Tabel 6. Pengaruh auksin terhadap pemanjangan jaringan pada berbagai konsentrasi larutan IAA

Perlakuan
Panjang awal
Panjang akhir
Selisih
IAA 0,01 ppm
3
3,4
0,4
IAA 0,03 ppm
3
3,37
0,3
IAA 0,05 ppm
3
3,37
0,32
IAA 0,07 ppm
3
3,72
0,72
IAA 0,09 ppm
3
3,77
0,77
Aquades
3
3
0

4.2              Pembahasan
Sesuai dengan hasil pengamatan di atas dapat dilihat bahwa umbi kentang (Sholanum tuberosum L.)  yang direndam di dalam air (kontrol) memiliki penambahan panjang dengan panjang akhir rata-rata yaitu 4,25 cm dari panjang awalnya 4 cm, hal ini disebabkan karena air memiliki viskositas (kekentalan) yang rendah sehingga menyebabkan air dengan mudah melakukan difusi ke dalam jaringan umbi kentang dan menyebabkan potensial air dalam sel umbi kentang menjadi meningkat.
Pada pengamatan dengan menggunakan larutan sukrosa, Meskipun larutan ini memiliki viskositas (kekentalan) yang cukup tinggi dari larutan sukrosa yang lainnya, Umbi Kentang (Sholanum tuberosum L.) yang direndam dalam larutan sukrosa 0,2 M memiliki rata-rata panjang akhir , dengan panjang awal 4 cm dan panjang akhir 4,4 cm.  Hal ini disebabkan karena adanya kemungkinan pada saat perendaman umbi kentang memiliki potensial air yang cukup rendah sehingga larutan sukrosa dapat mengalir secara difusi ke dalam sel umbi kentang tanpa mengalami hambatan, sehingga potensial air dalam sel umbi kentang  meningkat.      Panjang akhir rata-rata umbi kentang yang terendah adalah pada umbi kentang yang direndam di dalam larutan sukrosa 1,0 dan 0,6 M dengan mengalami penyusutan panjang , hal ini disebabkan karena penambahan potensial air dalam sel umbi kentang sangat rendah meskipun viskositas larutan lebih rendah dibandingkan viskositas larutan sukrosa yang lainnya.
Dari hasil tersebut, ditemukan umbi Kentang yang di rendam di dalam larutan sukrosa 0,8 M dan 1,0 M dengan panjang akhirnya mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena larutan sukrosa mampu menyerap air secara osmosis dari dalam sel umbi kentang itu sendiri, sehingga terjadi penyusutan. Sedangkan pada larutan sukrosa 0,4 M tidak terjadi perubahan panjang dari panjang awal 4 cm dan panjang akhit tetap 4 cm hal ini disebabkan karena larutan  tidak bereaksi.
Air merupakan suatu molekul yang sederhana, terdiri dari satu atom O dan dua atom H sehingga berat molekulnya hanya 18 g/mol.  Salah satu karakteristik dari molekul air adalah memiliki viskositas yang rendah, sehingga air dapat mengalir dengan mudah ke dan dalam jaringan tumbuhan  (Lakitan, 2004).
Larutan yang sering digunakan dalam mengestiminasi potensial air adalah larutan sukrosa (C12H22O11), sampel yang dimasukkan ke dalam seri larutan akan kehilangan atau menyerap air secara osmosis.  Jika densitas larutan tidak berubah, berarti potensial air sampel yang diuji sama dengan larutan sukrosa tersebut.

            Dari  hasil   pengamatan  yang di  peroleh,  pada  tanaman  tomat                     ( Solanum lycopersicum L )  dan cabai  (Capsicum annuum L)  yang  diletakkan di dalam ruangan atau yang tidak terkena sinar matahari langsung memiliki berat awal 1000 gr dan 1100 gr.  Pada hasil penimbangan pertama yaitu setelah 15 menit pertama, berat tanaman tomat dan cabai tidak mengalami penurunan bobot. Pada saat penimbangan kedua yaitu setelah 30 menit berat tomat tetap tidak megalami penurunan bobot. sedangkan cabai mengalami penurunan bobot  menjadi 1050 gr (Malik, 2008).
            Berdasarkan hasil penimbangan tersebut dapat diketahui bahwa proses transpirasi (penguapan) juga terjadi dalam ruangan dengan waktu yang bertahap, namun dengan selisih yang tidak terlalu banyak.  Penyebab terjadinya transpirasi pada tanaman cabai tersebut dikarenakan laju transpirasi tanaman cabai sangat cepat meskipun tanpa membutuhkan cahaya yang cukup, hal ini ditunjang dengan banyaknya jumlah daun dan juga luas daun .
            Pada tanaman tomat dan cabai yang terkena sinar matahari langsung atau yang diletakkan di luar ruangan, memiliki berat awal 1250 gr dan 1200 gr.  Pada penimbangan pertama yaitu setelah 15 menit pertama, berat tanaman tomat dan cabai juga tidak mengalami penurunan bobot, dan pada penimbangan kedua yaitu setelah 30 menit berjalan, berat tanaman tomat berkurang  menjadi 1210 gr  sedangkan cabai tidak terjadi transpirasi, ini disebabkan karena tanaman cabai yang digunakan menjadi layu sehingga tidak terjadi transpirasi. dari hasil penimbangan tersebut dapat dilihat selisih antara penimbangan pertama dan ketiga cukup baik , hal ini dikarenakan oleh sinar matahari yang cukup optimal yang diterima oleh tanaman pada saat tanaman melakukan proses transpirasi. Banyaknya jumlah daun dan juga luas daun sangat berpengaruh dalam proses transpirasi ini.
Transpirasi yang terjadi pada tanaman berfungsi untuk mendinginkan suhu tanaman, mengurangi kelebihan air dan mempercepat proses penyerapan unsur hara oleh akar tanaman.  Proses transpirasi dapat berlangsung secara optimal jika faktor-faktor yang mempengaruhi proses transpirasi tersebut berada pada kondisi yang optimal pula.  Faktor-faktor transpirasi ini diantaranya cahaya, suhu, luas daun, jumlah stomata yang dimiliki dan lain-lain.  Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu, aliran udara, kelembaban, dan tersedianya air tanah.  Faktor-faktor ini mempengaruhi perilaku stomata yang membuka dan menutupnya dikontrol oleh perubahan tekanan turgor sel penjaga yang berkorelasi dengan kadar ion kalium (K+) di dalamnya.  Selama stomata terbuka, terjadi pertukaran gas antara daun dengan atmosfer dan air akan hilang ke dalam atmosfer.
Pada pengamatan anatomi stomata terbuka dari daun tanaman Rhoeo discolor, terlihat jelas adanya kedua sel penutup (guard cell) yang berdekatan dengan inti sel yang terbuka pada bagian antar dinding kedua sel yang berwarna agak kehitaman dan kedua sel penjaga tersebut tampak bergelembung karena potensial air di dalamnya tinggi.
Pada pengamatan anatomi stomata tertutup terlihat adanya kedua sel penutup yang agak merapat karena potensial air di dalamnya yang rendah, hal ini menyebabkan stomata tidak terbuka karena potensial airnya rendah.  Pada sel  penutup tersebut, terdapat pula serat halus sellulosa yang pada dinding selnya tersusun melingkari sel.  Karena serat sellulosa ini relatif  tidak elastis, maka jika sel epidermis menyerap air dapat mengakibatkan sel ini tidak  dapat membesar diameternya melainkan memanjang.  Akibat melekatnya sel penutup satu sama lain pada kedua ujungnya memanjang akibat menyerap air maka keduanya akan melengkung ke arah luar.  Kejadian ini yang menyebabkan celah stomata membuka (Lakitan, 2004).
Salah satu faktor membuka dan menutupnya stomata adalah cahaya, yaitu dengan adanya cahaya maka fotosintesis dapat terjadi di dalam sel-sel mesophyl dan CO2 dalam ruang antar sel berkurang sehingga pH dalam sel penutup.
Peningkatan pH dapat menyebabkan perubahan enzimatik menjadi gula, menaikkan kadar gula, menaikkan kadar osmotik dari getah sel dan menaikkan turgor sehingga stomata secara otomatis akan membuka (Lakitan, 2004).
Stomata akan membuka jika tekanan turgor kedua sel penjaga meningkat.  Peningkatan tekanan turgor sel penjaga disebabkan oleh masuknya air ke dalam sel penjaga tersebut.  Pergerakan air dari satu sel ke sel lainnya terjadi secara difusi (Lakitan, 2004).
Dari hasil pengamatan di atas dapat diketahui bahwa pada perendaman biji  Kacang Hijau (Phaseolus radiatus) dalam larutan NaCl 0,4 M air terjadi proses imbibisi yang cukup tinggi sehingga terdapat selisih yang besar antara berat awal dan berat akhir.  Hal ini disebabkan karena kemungkinan pada konsentrasi ini larutan NaCl memiliki kemampuan melakukan proses imbibisi ke dalam sel biji atau konsentrasi NaCl yang seimbang dengan konsentrasi di dalam biji Kacang Hijau (Phaseolus radiatus).  Hal ini menandakan bahwa terjadi proses imbibisi dalam biji dan juga ditandai dengan tingginya persentase air yang masuk ke dalam biji.  Terutama pada biji yang direndam dengan aquades terjadi persentase masuknya air yang sangat tinggi yaitu 134,23 %.
Hasil pengamatan imbibisi pada kacang hijau (Phaseolus radiatus) sebelum direndam dalam larutan NaCL dengan konsentrasi 4,0 M; 2,0 M; 1,0 M; 0,8 M; 0,6 M; 1,58 M dan aquades.  dengan berat awal 1,57 gr; 2,39 gr; 2,18 gr; 1,92 gr; 1,51 gr; 1,58 gr. 2,22 gr. Setelah direndam selama 48 jam.  Berat biji pada kacang hijau (Phaseolus radiatus) mengalami perubahan menjadi 2,57 gr; 3,53 gr; 3,77 gr; 3,36 gr; 2,99 gr; 3,01 gr. Dan 5,20 gr.
Pada biji selalu bertambah berat disebabkan oleh penyerapan air oleh permukaan yang menyebabkan kacang hijau mengembang serta beratnya bertambah setelah menyerap air, selain itu semakin tinggi suatu konsentrasi larutan maka kemampuan biji untuk menyerap suatu larutan akan semakin besar, sehingga air akan semakin cepat bergerak kedalam biji dikarenakan konsentrasi potensial air larutan dalam biji rendah dibandingkan dengan potensial air larutan tersebut sehingga berat biji menjadi bertambah (Meyer, 1952).
Imbibisi merupakan proses masuknya air karena adanya perbedaan konsentrasi, yaitu dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.  Imbibisi pada tumbuhan umumnya terjadi pada proses penyerapan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tumbuhan khususnya air. 
Air merupakan 85 – 95 % berat tumbuhan herba yang hidup di air.  Dalam sel, air diperlukan sebagai pelarut unsur hara sehingga dapat digunakan untuk mengangkutnya, selain itu air diperlukan juga sebagai substrat atau reaktan untuk berbagai reaksi biokimia misalnya proses fotosintesis dan air dapat menyebabkan terbentuknya enzim dalam tiga dimensi sehingga dapat digunakan untuk aktifitas katalisnya.   Tanaman yang kekurangan air akan menjadi layu, dan apabila tidak diberikan air secepatnya akan terjadi layu permanen yang dapat menyebabkan kematian (Rioardi, 2009).
Berdasarkan hasil pengamatan bahwa pada daun tanaman jagung tua  memiliki pigmen warna yang Nampak berwarna hijau mudah yang mana mengandung klorofil b dan pada daun muda tanaman jagung memiliki pigmen warna hijau tua yang mengandung klorofil a.
Pada pengamatan pigmen daun coklat (Theobroma cacao) diperoleh pigmen karotenoid  dengan memberikan warna kuning muda  Meskipun daun tanaman coklat (Theobroma caco) setelah tua berwarna hijau namun ketika masih muda daunnya berwarna kuning sehingga pigmen terbesar yang terdapat dalam daun tanaman coklat adalah pigmen karotenoid.  Tanaman coklat juga termasuk dalam tanaman C4 yang selama masa hidupnya membutuhkan naungan, sehingga hal ini pula yang menyebabkan tanaman ini kurang memiliki pigmen hijau daun.
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada daun tanaman nenas muda (Ananas comusus L.) diperoleh pigmen hijau muda yang mana pigmen hijau muda merupakan salah satu pigmen pada tanaman yang berperan sebagai pigmen fotosintetik.  Berdasarkan warna pigmennya, maka klorofil pada tanaman nenas termasuk klorofil b.  
Pigmen karotenoid adalah salah satu pigmen yang terdapat di dalam kloroplas, karotenoid terdiri atas dua golongan yaitu golongan karotin dan karotinol.  Karotinol atau xantofil inilah yang memberikan warna kuning pada tanaman (Mulyani, 2000).
Berdasarkan hasil pengamatan di atas dapat diketahui bahwa kadar klorofil A dan B pada daun muda berbeda, karena kedua klorofil tersebut memiliki fungsi yang berbeda yang mana klorofil A berfungsi sebagai pusat reaksi sedangkan klorofil B berfungsi sebagai antena yang menangkap cahaya matahari, sehingga pada daun yang masih muda kandungan klorofil A lebih banyak dibandingkan klorofil B karena daun muda masih sangat aktif dalam melakukan proses metabolisme seperti fotosintesis. 
Pada pengamatan kadar klorofil daun tua dapat diketahui bahwa daun tua juga mengandung klorofil A dan B dengan kadar yang berbeda pula, yaitu kadar klorofil A lebih tinggi dibandingkan dengan kadar klorofil B.
Pada pengamatan kadar klorofil pada daun nanas (Ananas comusus L.) dan daun coklat  (Theobroma cacao) yang sudah tua kadar klorofil yang terkandung dalam daun sama dengan daun pada umumnya yaitu klorofil A dan B dengan konsentrasi klorofil A lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi klorofil B dan hal ini juga dapat dilihat secara langsung dari warna daun yang sudah mulai menguning yang menandakan bahwa klorofil daun sudah mulai rusak bahkan mungkin sudah rusak.
Berdasarkan hasil pengamatan di atas dapat diketahui bahwa kadar klorofil antara daun yang masih muda dengan daun yang sudah tua sangat berbeda baik klorofil a maupun klorofil b, dimana pada daun muda kadar klorofil lebih tinggi dibandingkan dengan daun tua.  Hal ini juga dapat dilihat dari warna daunnya, dimana daun yang sudah tua berwarna kuning yang menandakan pigmen hijau daunnya (klorofil) sudah berkurang atau rusak, sedangkan daun muda berwarna hijau yang menandakan kadar pigmen hijau (klorofil) daun masih sangat banyak sehingga proses fotosintesis pada daun muda jauh lebih aktif dibandingkan pada daun yang sudah tua.
Berdasarkan hasil pengamatan pengaruh zat pengatur tumbuh yang menggunakan  caumarin, 2,4-D, giberelin, urea, dan air sebagai control. Dengan jumlah biji 25. Pada hari pertama dan kedua tidak mengalami perubahan sedang pada hari ketiga baru terjadi perubahan yang 0,5 ppm caumarin 22; 7,0 ppm 2,4-D  18; 0,02 ppm urea 23; dan control 21.
Pada waktu terjadi proses imbibisi, kandungan air meningkat mula-mula cepat kemudian lebih lambat dan jaringan bermetabolisme secara aktif, yaitu dengan adanya air enzim yang telah ada diaktifkan kembali, protein dan enzim yang baru di sintesis untuk mencerna dan menggunakan berbagai bahan cadangan yang tersimpan.  Pada saat pertumbuhan tersebut membutuhkan pasokan air dan zat gizi secara terus menerus (Wuryan, 2009).
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada percobaan perendaman hipokotil kacang hijau (Phaseolus radiatus) dengan menggunakan larutan IAA 0,01 ppm, 0,03 ppm, 0,05 ppm, 0,07 ppm dan 0,09 ppm terjadi pemanjangan  setelah direndam selama 48 jam.  Hal ini disebabkan karena konsentrasi dari larutan tersebut merespon pemanjangan jaringan  fleksibel sehingga pada pengammatan ini terjadi pemanjangan jaringan pada hipokotil kecambah kacang hijau,  sebab hormon berfungsi untuk meningkatkan perkembangan suatu organisme dan berperan aktif dalam perpanjangan jaringan.
Dari hasil studi tentang pengaruh auksin (IAA) terhadap perkembangan sel menunjukkan bahwa auksin dapat meningkatkan tekanan osmotik, meningkatkan permeabilitas sel terhdap air, meningkatkan sintesis protein, meningkatkan plastisitas dan pengembangan dinding sel  (Mukhtarom, 2009).

















V.       KESIMPULAN DAN SARAN
5.1    Kesimpulan
5.1.1        Mengukur potensial air umbi kentang
 Berdasarkan dari hasil dan pembahasan di atas maka di peroleh kesimpulan sebagai berikut :
1.         Larutan sukrosa dapat memberikan perubahan ukuran panjang pada potongan umbi kentang atau Solanum Tuberosum Ldi sebabkan oleh adanya sel yang terdapat pada potongan umbi kentang tidak mengalami plasmolisis
2.         Dari kedua konsentrasi tersebut yaitu kosentrasi larutan sukrosa dan air murni terdapat perbedaan perubahan panjang, hal ini di sebabkan adanya proses di fusi pada air murni potongan umbi kentang atau Solanum Tuberosum L.
3.         Sebagai bahan hidrolik air akan memberikan tekanan turgor yang dapat di nyatakan dalam potensial air atau potensial osmotik.

5.1.2         Mengukur laju transpirasi dengan penimbangan
 Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.        Proses transpirasi dapat berlangsung secara optimal jika faktor-faktor    pendukungnya ada pada kondisi yang optimal pula.
2.      Faktor-faktor transpirasi ini diantaranya cahaya, suhu, luas daun, jumlah stomata yang dimiliki dan lain-lain.3.  
Oval:      653.   Laju transpirasi pada tanaman yang terkena sinar matahari langsung berbeda dengan laju transpirasi pada tanaman yang tidak terkena sinar matahari.
5.1.3  Pengaruh turgor terhadap membuka dan menutupnya stomata
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.         Membuka dan menutupnya stomata diantaranya ada yang disebabkan oleh mekanisme turgor.
2.         Persentase stomata yang terbuka pada epidermis bawah daun Rhoeo discolor lebih besar pada saat daun ditetesi air dibandingkan dengan yang ditetesi larutan sukrosa 10%.
3.         Konsentrasi larutan sukrosa dan air mempengaruhi tekanan turgor dalam sel daun Rhoeo discolor yang mempengaruhi proses membuka dan menutupnya stomata.
5.1.3        Imbibisi
            Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.   Semakin tinggi konsentrasi larutan yang digunakan maka proses imbibisi pada biji tidak akan terjadi.
2.  Proses imbibisi dapat terjadi jika ada gaya tarik menarik antara biji dengan    larutan yang digunakan.
3.  Pemberian konsentrasi larutan NaCl yang berbeda memberikan pengaruh pula pada persentase air yang masuk ke biji kacang hijau (Phaseolus radiatus).


5.1.4        Pemisahan pigmen fotosintetik dengan kromatografi kertas
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.        Tanaman yang mengandung pigmen klorofil A sebagian besar adalah tanaman C3.  Sedangkan tanaman C4 sebagian besar mengandung pigmen karotenoid.
2.        Klorfofil A memberikan warna hijau pada daun tanaman jagung sedangkan karotenoid memberikan warna kuning pada daun tanaman coklat.
3.        Pigmen yang terkandung dalam daun tanaman berbeda-beda, tergantung dari banyaknya warna pigmen yang dikandung.
5.1.5        Mengukur kadar klorofil dengan spektrofotometer
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.        Kadar klorofil pada setiap daun berbeda-beda meskipun berasal dari satu jenis tanaman yang sama.
2.         Kadar klorofil daun yang masih muda lebih banyak dibandingkan dengan kadar klorofil pada daun yang sudah tua.
3.        Banyak sedikitnya klorofil dalam daun secara langsung dapat dideteksi melalui warna daun.



5.1.6        Pengaruh ZPT terhadap perkecambahan biji
Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.        Perkecambahan biji hanya akan terjadi jika terdapat air atau hormon tumbuh di sekeliling biji selama proses perkecambahan.
2.        Meskipun telah diberikan hormon tumbuh, namun jika hormon tersebut telah rusak maka tidak akan memberikan respon terhadap perkecambahan biji.
3.        Dapat diketahui bahwa pada saat biji kacang hijau (Phaseolus radiatus) yang direndam dengan larutan urea, 24-D, caumarin, giberelin dan aqudes mengalami proses perkecambahan dalam kurun waktu 3 hari perendaman. 
4.        Beredasarkan letak kotiledonya, perkecambahan terdiri atas 2 macam.
5.1.7        Pengaruh auksin terhadap perkecambahan biji
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.        Hormon tumbuhan akan berperan aktif dalam merangsang pemanjangan jaringan jika berada pada konsentrasi rendah.
2.        Hipokotil kacang hijau (phaseolus radiates) mengalami perpanjangan jaringan pada saat perendaman.
3.        Auksin berfungsi dalam proses pembesaran sel (perpanjangan koleoptil atau batang), menghambat mata tunas samping, berperan dalam pengguguran daun, aktivitas daripada kambium, dan berperan dalam pertumbuhan akar.

5.2    Saran
Saran saya pada infrastrukturnya, seperti tempat prakteknya semoga kedepanya lebih baik dan memadai lagi agar adik – adik yang akan praktek untuk kedepanya akan merasa lebih nyaman lagi dan mempunyai ketertarikan pada praktikum Fisiologi Tumbuhan ini.



















DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, Bambang. 2005. Tomat, Budidaya dan Analisis Usaha Tani, Kinisius, Yogyakarta.
Dwidjoseputro, D. 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Gajah Mada Universitas Press:
Yogyakarta.
Haryadi, Sri Setyadi. 1996. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia Pustaka Utama:
Jakarta.
Kimball, J. W. 1983. Biologi. Erlangga, Jakarta.
Lakitan, Benjamin. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo
Persada: Jakarta.
Meyer, B.S and Anderson, D.B. 1952. Plant Physiology. D Van Nostrand Company Inc., New York.
Pitojo, S, 2005. Benih Tomat. Kanisius, Yogyakarta
Redaksi Agromedia, 2007. Panduan Lengkap Budi Daya Tomat. Agromedia, Jakarta.
Rismunandar, 2001. Tanaman Tomat. Sinar Baru Algensindo, Bandung.
Salisbury, B. Frank dan Cleon W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. ITB:
Bandung.
Wiryanta,W.T.B, 2004. Bertanam Tomat.  Agromedia Pustaka, Jakarta.
                                                                                                                 
Lakitan B.,  2004.   Dasar-Dasar  Fisiologi  Tumbuhan.   Raja  Grafindo  Persada,
                Jakarta.

Mulyani, 2000.  Anatomi Tumbuhan.  Kanisius, Yogyakarta.

Malik T., 2008.  Potensial Air.  http://one.indoskripsi.com.  Di akses pada tanggal
               30 November 2012.

Mukhtarom, 2009.  Fungsi Auksin.  http://mukhtarom-ali.blogspot.com.  Diakses           pada tanggal 30 November 2012.

Plantamor, 2008.  Sosongkokan (Rhoeo discolor).  http://www.plantamor.com. Di akses pada tanggal 20 Desember  2012.

Purwanti, Devi. 2007. Pengaruh Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Terhadap Struktur Epidermis dan Stomata Daun Tanaman Pelindung Di Jalan Adi Sumarno Sampai Terminal Tirtonadi Surakarta. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah, Surakarta.

Purwoko, 1999.  Fisiologi Tanaman.  www.faperta.ugm.ac.id.  Diakses pada tanggal 20 Dsember 2012.

Rukmana R., 2005.  Usaha Tani Jagung.  Kanisius, Yogyakarta.

Rioardi, 2009.  Air Dalam Tumbuhan.  http:// WordPress.com. Di akses pada tanggal 20 Desember 2012.

Saleh, M.S., 2003.  Asam Indole Acetic Acid.  Surya Indah, Magelang.

Suwasono, 1983.  Pengaruh Auksin Terhadap Pertumbuhan.  Mina Raharja,     Bandung.

Salisbury, D., 1995.  Fisiologi Tumbuhan jilid 1 edisi IV.  ITB,  Bandung.

Sukamto, 2007.  Kamus Pertanian.  Aneka Ilmu, Semarang.

Salisbury FB, Ross CW. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Institut Teknologi, Bandung.

Theo, 2007.  Morfologi Tanaman kakao.  http://afandypoltek.wordpress.com.  (diakses pada tanggal 28 Desember 2012).

Fahri, 2009.  Klorofil.  http://id.wikipedia.org.  (diakses pada tanggal 13 November 2010)

Hadi, 2009.  Klorofil pada Cacao.  http//id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 30 November 2012.

Wuryan, 2009.  Daya Kecambah Indeks Vigor.  http://wuryan.wordpress.com.  Diakses pada tanggal 30 November 2012.




 










LAMPIRAN







BIODATA PENULIS
hendra.jpg
 
Penulis atau penyusun dilahirkan di Desa Bantuga, Kecamatan Amapana Tete Kabupaten Tojo Una-una, pada tanggal 15 Februari 1993, merupakan Anak  pertama dari 3 bersaudara yang masih memiliki orang tua lengkap yakni nama ayah Ikhsan dan ibu Marwia. Penyusun  menamatkan  pendidikan dasar di SDN 1 Bantuga  pada tahun 2005, lanjut di Sekolah 
Menengah Pertama di SLTP N 3 Amapan tete, selesai pada tahun 2008. Dan lanjut di sekolah SMK Pertanian Ampana Tete Kabupaten Tojo Una - Una    selesai pada tahun 2011.              
Pada tahun 2011 penyusun  diterima di Program Studi  Agroteknologi  Fakultas Pertanian Universitas Tadulako dan alhamdulillah sudah menyelesaikan 2 semester.



Copyright © SATUUNTAD All Right Reserved
Powered by Blogger