Friday, October 27, 2017

LAPORAN LENGKAP DASAR DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN



1. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pada umumnya tanaman hortikultura merupakan komoditas yang memiliki prospektif yang sangat baik untuk dikembangkan, karena memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi khususnya bagi para petani.  Tanaman Hortikultura diataranya yaitu buah- buahan, obat-obatan, tanaman hias serta sayur-sayuran sepertu sawi.
Sawi adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica yang dimanfaatkan daun atau bunganya sebagai bahan pangan (sayuran), baik segar maupun diolah. Sawi mencakup beberapa spesies Brassica yang kadang-kadang mirip satu sama lain.Di Indonesia penyebutan sawi biasanya mengacu pada sawi hijau(Brassica rapakelompokparachinensis, yang disebut juga sawi bakso, caisim, atau caisin). Selain itu, terdapat pula sawi putih (Brassica rapa) kelompok pekinensis, disebut juga petsai yang biasa dibuat sup atau diolah menjadi asinan. Jenis lain yang kadang-kadang disebut sebagai sawi hijau adalah sesawi sayur (untuk membedakannya dengan caisim). Kailan (Brassica oleracea) kelompok alboglabra adalah sejenis sayuran daun lain yang agak berbeda, karena daunnya lebih tebal dan lebih cocok menjadi bahan campuran mi goreng. Sawi sendok (pakcoy atau bok choy) merupakan jenis sayuran daun kerabat sawi yang mulai dikenal pula dalam dunia boga Indonesia (Yudharta, 2009).
Di Indonesia ini memungkinkan dikembangkan tanaman sayur-sayuran yang banyak bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi manusia.Sehingga ditinjau dari aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk dikembangkan untuk bisnis sayuran.Di antara tanaman sayur-sayuran yang mudah dibudidayakan adalah caisim.Karena caisim ini sangat mudah dikembangkan dan banyak kalangan yang menyukai dan memanfaatkannya.Selain itu juga sangat potensial untuk komersial dan prospek sangat baik (wiwit, 2010).
Ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, aspek ekonomis dan aspek sosialnya sangat mendukung, sehingga memiliki kelayakan untuk diusahakan di Indonesia.Sebutan sawi orang asing adalah mustard. Perdagangan internasional dengan sebutan green mustard, chinese mustard, indian mustard ataupun sarepta mustard (Rianto, 2009).
Sawi berbeda dengan petsai.Petsai adalah tanaman dataran tinggi sementara sawi bisa juga ditanam pada dataran rendah.Batang sawi ramping dan lebih hijau sedangkan petsai gemuk dan berkelompok dengan daun putih kehijauan.Ciri sawi yang khas ialah berdaun lonjong, halus, tidak berbulu dan tidak berkrop. Sawi yang banyak ditanam di Indonesia sebenarnya dikenal juga dengan nama caisim,  (Prabawa, 2007).
Sawi (Brassica juncea) sudah lama di kenal di banyak Negara.Tanaman ini diperkirakan berasal dari daratan Asia Tengah dan menyebar ke benua Eropa melalui Yunani.Bagaimana sawi masuk ke Indonesia tidak diketahui pasti, tetapi saat ini sawi sudah merupakan sayuran yang sangat di kenal di berbagai golongan masyarakat Indonesia Pupuk urea adalah pupuk buatan senyawa kimia organik dari CO (NH2)2, pupuk padat berbentuk butiran bulat kecil (diameter lebih kurang 1 mm).pupuk ini       mempunyai kadar N 45 % - 46 %. Urea larut sempurna di dalam air dan tidak mengasamkan tanah (Damanik dkk, 2010).
Bentuk sawi (Brassica juncea) meliputi pembentuk kepala, ukuran besar, kecil, daun keriting, tangkai daun besar, tangkai daun hijau, akar, batang besar, tajuk lunak dan daftar nama lain yang hamper tak terhingga. Karakteristik ini telah diidentifikasi melalui subdisi sebagai varietas botanis.Tanaman ini banyak di tanam dan dihasilkan dalam volume besar (Rubazky dan Yamaguchi, 1998).
1.2        Tujuan dan Kegunaan Praktek
Tujuan dari praktikum Dasar-dasar Perlindungan tanaman pada praktikum lahan adalah Untuk mengetahui teknik budidaya, mengidentifikasi hama, mediagnosa penyakit, dan gulma serta metode pengendalian. Kegunaan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui teknik budidaya yang benar dan dapat mengidentifikasi hama serta mendiagnosa penyakit dengan metode pengendalian yang tepat.
.



II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1   Teknik Budidaya
2.1.1 Pengolahan lahan
Tanah secara umum melakukan penggemburan dan pembuatan bedengan. Tahap-tahap pengemburan yaitu pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah dan sirkulasi udara dan pemberian pupuk dasar untuk memperbaiki fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan yang akan kita gunakan. Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak atau pepohonan yang tumbuh.Dan bebas dari daerah ternaungi, karena tanaman sawi suka pada cahaya matahari secara langsung.Sedangkan kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm. Pemberian pupuk organik sangat baik untuk penyiapan tanah.Sebagai contoh pemberian pupuk kandang yang baik yaitu 10 ton/ha. Pupuk kandang diberikan saat penggemburan agar cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan. Bila daerah yang mempunyai pH terlalu rendah (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran.Pengapuran ini bertujuan untuk menaikkan derajat keasam tanah, pengapuran ini dilakukan jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-kira 2 sampai 4 minggu sebelumnya.Sehingga waktu yang baik dalam melakukan penggemburan tanah yaitu 2-4 minggu sebelum lahan hendak ditanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2 (Rianto, 2009).
Teknik budidaya tanaman sawi meliputi pemilihan benih, pengolahan tanah, pembibitan, penanaman, pemeliharaan.Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan bagus. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram.Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil.Permukaannya licin mengkilap dan agak keras.Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh.kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Dan penanaman sawi yang akan dijadikan benih terpisah dari tanaman sawi yang lain. Juga memperhatikan proses yang akan dilakukan mesilnya dengan dianginkan, tempat penyimpanan dan diharapkan lama penggunaan benih tidak lebih dari 3 tahun (Mandha, 2010).

2.1.2   Pembibitan
dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman. Karena lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungannya. Sedang ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80-120 cm dan panjangnya 1-3 meter. Curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi bedengan     20-30 cm. Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP, dan 7,5 gram Kcl. Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut : benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1-2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati       3-5 hari benih akan tumbuh setelah berumur 3-4 minggu sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan (Margiyanto, 2010).           

2.1.3  Penanaman
Penanaman tanaman sawi dibedengan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai dengan ukuran petak tanah. Tinggi bedeng 20 – 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm, seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan terlebih dahulu yaitu pupuk kandang 10 ton/ha, TSP 100 kg/ha, Kcl 75 kg/ha. Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm.
Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan ukuran 4-8 X 6-10 cm (Rianto, 2010).

2.1.4   Pemeliharaan
Pemeliharaan merupakan hal yang penting. Sehingga akan sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapat. Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah penyiraman, penyiraman ini tergantung pada musim, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus menambah air demi kecukupan tanaman sawi yang kita tanam. Bila tidak terlalu panas penyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.Tahap selanjutnya yaitu penjarangan, penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman.Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat.    Selanjutnya tahap yang dilakukan adalah penyulaman, penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman ini dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah yaitu tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru. Penyiangan biasanya dilakukan 2-4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman.Biasanya penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman.Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan penyiangan.Pemupukan tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu dengan urea 50 kg/ha. Dapat juga dengan satu sendok teh sekitar 25 gram dilarutkan dalam 25 liter air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan  (Kloppenburg, 2008).

2.1.5 Panen
Dalam hal sekali pemanenan penting diperhatikan umur panen dan cara panennya.Umur panen sawi paling lama 70 hari. Paling pendek umur 40 hari. Terlebih dahulu melihat fisik tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun.
Cara panen ada 2 macam yaitu mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan dengan memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah dengan pisau tajam.Setelah terkumpul, hasil panen dicuci dan dibersihkan dari bekas-bekas tanah sambil mengupas daun dan tangkai yang tua, kuning, berwarna, dan rusak.Tiriskan di rak-rak yang ditempatkan di ruangan yang teduh, ( Sutedjo, 2000 ).

2.2       Hama
Hama adalah organisme yang di anggap merugikan dan tidak di inginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat  di gunakan untuk semua organisme. Daam praktek istilahnya ini paling sering di pakai hanya kepada hewan. Utu hewan juga dapat di sebut hama jika menyebabkan krusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Dalam pertnian hama dalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik,dan kedalamnya praktis adalah  semuah hewan  yang menyebakan kerugian  dalam prtanian (Adam, 2001).
Hama yang sering menyerang pada tanaman sawi yaitu ulat tritip           (Plutella xyloslella, L.)Merupakan hama utama tanaman sawi, serangannya dapat menyebabkan kehilangan hasil antara 58 sampai 100%, terutama dimusim kemarau. Ulat berwarna hijau, panjang 8 sampai 10 mm. gejala serangan, daun berlubang-lubang, jika serangan hebat hanya menyisakan urat daun dan ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis) Ulat berwarna hijau, panjang 18 mm, pada punggung terdapat garis berwarna hijau muda. Gejala serangan, bagian titik tumbuh tanaman rusak (Adam, 2001)


2.3       Penyakit
     Pada areal pertanaman, sering ditemukan akibat dari kemunduran produksi bukan hanya disebabkan oleh serangan hama semata, tetapi banyak juga menderita karena gangguan penyakit. Akan tetapi, Umumnya petani tidak dapat membedakan antara tanaman yang terserang hama dan tanaman yang terserang penyakit. Secara biologi Penyakit tumbuhan adalah proses fisiologi yang tidak normal dalam badan tumbuhan, yang dapat menyebabkan kerugian langsung pada petani, karena dapat mengurangi kualitas dan kuantitas hasil
Penyakit yang menyerang tanaman biasanya menimbulkan gejala-gejala atau ciri khas sehingga dapat memudahkan untuk mengetahui penyakit yang menyerang tanaman. Penyakit tumbuhan salah satunya dapat disebabkan oleh jamur. Jamur adalah suatu kelompok jasad hidup yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi, sebab memiliki dinding sel, tidak bergerak, berkembang biak dengan spora namun tidak memiliki klorofil,tumbuhnya berupa thallus (belum ada defferensiasi menjadi akar, batang dan daun) serta tidak mempunyai sistem pembuluh seperti pada tumbuhan tingkat tinggi. Agar terhindarnya tanaman dari penyakit yang disebabkan oleh jamur, maka pengetahuan lebih lanjut tentang jamur harus dikembangkan untuk mendapatkan pengendalian peyakit yang efektif dan ramah lingkungan dengan eksploitasi agens hayati (Triharso, 2004)


2.4       Gulma
Gulma adalah segala tanaman yang tumbuh pada tempat yang tidak diinginkan. Bunga mawar pun, jika tumbuh di tengah sayuran juga termasuk Gulma. Kebanyakan Gulma adalah tanaman yang cepat tumbuh dan dapat menghasilkan sejumlah besar biji dalam waktu singkat. Biasanya bijinya mudah tersebar, misalnya bunga dandelion dengan buahnya yang bisa tersebar hanya dengan angin kecil. Beberapa gulma akan terus menebarkan bijinya walaupun pohonnya telah dicabut. Di atas tanah, dari gulma kebun biasa, bunga-bunganya akan membuat setumpuk biji berambut pada timbunan kompos jika ditaruh disitu dan tidak dihancurkan. Gulma lain seperti tumbuhan rambat bunga kuning menghasilkan puncuk yang berakar setiap kali menyentuh tanah. Dengan ini, tanaman menjalar dengan cepat. Ada Gulma yang seperti konvolvulus, harus diangkat sepenuhnya dari tanah. Sisa tangkai yang tercecer akan tumbuh sebagai tanaman baru. (Sukman, 1991)





III. METODE PRAKTEK
3.1         Tempat dan Waktu
            Tempat pelaksanaan Praktek Lapang Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman yaitu pada Lahan Percobaan Dasar-Dasar Perlindungan Tananaman Jurusan Hama dan Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako Palu.
Waktu Pelaksanaan  Praktek Lapang Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman yaitu dimulai pada tanggal 24  Oktober 2012 sampai tanggal 26 Desember 2013.
3.2         Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman tentang Teknik  Budidaya Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) adalah cangkul, parang, sube, ember, kayu, dan alat tulis menulis. Sedangkan
bahan yang digunakan dalam praktikum tersebut yaitu bibit tanaman Sawi, pupuk kandang dan air.

3.3         Identifikasi dan Diaknosa
 Pertama-tama (minggu pertama), melakukan pembersihan lahan dengan menggunakan parang, cangkul dan sabit. Setelah lahan bersih, dilanjutkan dengan membuat bedengan sebanyak 2 bedengan dengan panjang masing-masing   3,5 meter dan lebar 1,5 meter. Kemudian pada minggu ke-2 dilanjutkan lagi dengan perbaikan bedengan dengan menggunakan skop dan sabit, kemudian bedengan dicampur dengan pupuk kandang hingga merata.Pada minggu ke-3 dilakukan penyemaian benih dengan melakukan sebagian lahan bedengan, benih yang disemai di tutup dengan ranting-ranting pohon dan karung selama 2 minggu.Kemudian pada minggu ke-5 di lakukan penanaman.Sebelum penanaman, terlebih dahulu bedengan disiram dengan air.Setelah penanaman, bibit yang sudah di tanam disiram kembali sampai seterusnya dilakukan penyiraman 2 kali dalam sehari. Dan pada minggu berikutnya di lakukan plotan pada 3 plot sawi, kemudian menghitung gulma dan hama apa saja yang ada didalam sawi yang telah diplot.kemudian dilakukan pemanenan.
( Sutedjo, 2000 ).











IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1      Hasil
4.1.1    Hama
            Berdasarkan pengamatan hama yang dilakukan pada saat pelaksanaan praktikum lapang terhadap tanaman sawi ( Brassica juncea L ) didapatkan Hama sebagai berikut :
Keterangan
1.      Caput
2.      Thoraks
3.      Abdomen
4.      Antenna
5.      Tungkai belakang
6.      Tungkai depan

Gambar 1. Morfologihama Ulat Tritip ( Plutella xylostella ) pada
                 Areal  Pengamatan Sawi ( Brassica juncea L )




                                                                                   Keterangan
1.      Caput
2.      Thoraks
3.      Abdomen
4.      Antenna
5.      Tungkai belakang
6.      Tungkai depan
Gambar 2. Morfologi Hama Belalang (Valanga nigricornis)
                  pada Areal Pengamatan Sawi ( Brassica juncea )





















                                                                                            Keterangan
1.      Caput
2.      Thoraks
3.      Abdomen
4.      Antenna
5.      Tungkaibelakang
6.      Tungkai depan
            Gambar 3. Morfologi hama Ulat Grayak (           )pada areal pengamatan
                  Sawi (Brassica juncea L)









4.1.2 penyakit


Gambar 4, Morfologi Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae).
pada areal  pengamatan sawi


      Gambar 5. Morfologi penyakit Downy Mildew (Pseudoperonospora sp.),
                        Pada areal pengamatan sawi.


4.1.3    gulma

      Gambar 6.  Morfologi Gulma Berdaun Lebar pada Areal Pengamatan Sawi
(Brassica juneea L)


Gambar 7. Morfologi Gulma Berdaun Sempit pada Areal Pengamatan Sawi
           (Brassica juncea L)






4.1.4 Tabel Pengamatan
Tabel 1.Pengamatan Hama pada Tanaman sawi ( Brassica juncea ).

NO
   Minggu
pengamatan

Plot

hama

penyakit

gulma

jumlah

ket
1.
Minggu 1
Kamis,
19/12/2013
1
Belalang dan ulat grayak
AkarGada (Plasmodiophora brassicae)
Daun lebar dan daun sempit
6 dan 2.


2.

2
Belalang dan ulat grayak
AkarGada (Plasmodiophora brassicae)    
Daun lebar dan daun sempit
5 dan 1

3.

3
Belalang dan ulat tritip
Downy Mildew (Pseudoperonospora sp.),
Daun lebar dan daun sempit
3 dan 1

4.
Minggu 2
Kamis,
26/12/2013
1
Belalang dan ulat grayak
AkarGada (Plasmodiophora brassicae)    
Daun lebar dan daun sempit
7 dan 2

5.

2
Belalang dan ulat tritip dan ulat grayak
Downy Mildew (Pseudoperonospora sp.),
Daun lebar dan daun sempit
2dan 1,1

6.

3
Belalang dan ulat grayak
Downy Mildew (Pseudoperonospora sp.),
Daun lebar dan daun sempit
5 dan 2






4.2     Pembahasan
4.2.1    Hama
     Berdasarkan tabel 1 di atas yaitu Pengamatan hama Pada Tanaman Sawi hijau (Brassica juncea L.) dengan Perlakuan Pupuk Kandang terdapat parbedaan jumlah hama antara  dari minggu pertama dan minggu ke-dua . pada plot 1 hama belalangnya sebanyak 6, pada plot 2belalangnya sebanyak 3, dan pada plot 3 belalangnya sebanyak 5.sedangkan ulat grayak menyerang pada plot 1 dan 2 sebanyak 2. Dan ulat tritip menyerang pada plot 3 sebanyak 1.dan pada minggu ke-2 dilakukan pengamatan lagi pada plot 1 2 dan 3 belalang sebanyak 7, 2, dan lima. Sedangkan ulat grayak pada plot 1, 2, dan 3 sebanyak 2, 1, dan 2. Kemudian hama yang ke-tiga yaitu ulat tritip hanya terdapat pada plot 2 sebanyak 1.jadi hama yang paling banyak memakan daun sawi adalah belalang,sehingga beberapa dari tumbuhan yang tersisa hanya tangkai daunnya saja.
Belalang adalah serangga herbivora yang terkenal sebagai hama dengan kemampuan melompat mumpuni (dapat mencapai jarak hingga 20 kali panjang tubuhnya).Pada umumnya belalang berwarna hijau atau cokelat. Belalang terkait erat secara biologis dengan kecoa dan jangkrik dan masuk dalam kelompok serangga Orthoptera.Saat ini terdapat lebih dari 20.000 spesies belalang. Belalang termaksud dalam Kingdom Animalia, Phylum Arthropoda, Class Insecta, Order Orthoptera,
Suborder Caelifera, Common Name. Melanoplus differentialis.Tubuh belalang terdiri dari 3 bagian utama, yaitu kepala, dada (thorax) dan perut (abdomen).Belalang juga memiliki 6 enam kaki bersendi, 2 pasang sayap, dan 2 antena. Kaki belakang yang panjang digunakan untuk melompat sedangkan kaki depan yang pendek digunakan untuk berjalan. Meskipun tidak memiliki telinga, belalang dapat mendengar.Alat pendengar pada belalang disebut dengan tympanum dan terletak pada abdomen dekat sayap.Tympanum berbentuk menyerupai disk bulat besar yang terdiri dari beberapa prosesor dan saraf yang digunakan untuk memantau getaran di udara, secara fungsional mirip dengan gendang telinga manusia.belalang punya 5 mata (2 compound eye, dan 3 ocelli). Belalang termasuk dalam kelompok hewan berkerangka luar (exoskeleton). Contoh lain hewan dengan exoskeleton adalah kepiting dan lobster.Belalang betina dewasa berukuran lebih besar daripada belalang jantan dewasa, yaitu 58-71 mm sedangkan belalang jantan 49-63 mm dengan berat tubuh sekitar 2-3( Ashari s 2000 ).
            Ulat Tritip (Plutella xylostella) Termaksud  dalam  Kingdom Animalia,  Phylum Arthropoda,Class Insecta,Ordo Lepidoptera, Family Plutellidae,Genus Plutella,  Species Plutella xylostella (Anonim, 2009)
Morfologi dan Daur hidup ulat tritipn ( Plutella xylostella )Telur Plutella xylostella  berbentuk  bulat  panjang, lebarnya sekitar 0,26 mm dengan  panjang 0,49 mm. Ngengat betina dapat bertelur 180-320 butir. Umumnya telur diletakkan dibalik daun satu per satu, kadang dua-dua, atau tiga-tiga.Telurnya mengelompok dalam 1 daun atau daun yang berlainan tanaman sehingga satu ngengat dapat bertelur pada banyak tanaman kubis (Pracaya, 2009).
Larva yang baru menetas warnanya hijau pucat, sedangkan ulat dewasa lebih tua warna kepalanya lebih pucat dengan bintik-bintik atau garis cokelat.Panjang larva sekitar 9 – 10 mm, relatif tidak berbulu dan mempunyai 5 pasang tungkai palsu. Larva sangt licin dan jika disentuh akan menjatuhkan diri seakan-akan mati. Lama stadium larva 13 hari pada suhu 16 – 25oC.Setelah cukup umur, ulat mulai membuat kepompong dari bahan seperti benang sutra abu-abu putih dibalik permukaan daun untuk menghindari panasnya sinar matahari.Pembentukan kepompong mulai dari dasarnya, sisi kemudian tutupnya.Kepompong masih terbuka pada bagian ujung untuk keperluan pernapasan.Pembuatan kepompong ini diselesaikan dalam waktu 24 jam.Setelah selesai ulat berubah menjadi pupa.Kulit ulat biasanya diletakan didalam kepompong, tetapi kadang juga diletakkan diluar kepompong.Mula-mula pupa berwarna hijau muda, kemudian berubah menjadi hijau tua dan kemudian berubah menjadi imago (Pracaya, 2009).
Imago dari hama ini memiliki warna sayap yang abu-abu kecoklatan. Namun sayap betina berwarna lebih pucat.Saat istirahat, empat sayapnya menutupi tubuh dan seakan-akan terdapat gambar seperti jajaran genjang yang warnanya putih seperti berlian. Oleh karena itu, hama ini disebut ngengat punggung berlian. Plutella xylostella merusak tanaman dari stadia larva atau ketika masih menjadi ulat (Pracaya, 2009).
Gejala Serangan dan Bagian Tanaman yang Dirusak, memakan bagain  bawah daun sehingga tinggal epidermis bagian atas saja. Gejala serangan hama ini yang terlihat pada daun sangat khas dan tergantung dari instar larva yang menyerang.  Larva instar I memakan daun kubis dengan jalan membuat lubang ke dalam permukaan bawah daun. Setelah itu larva membuat liang-liang korok ke dalam jaringan parenkim sambil memakan daun (Pracaya, 2009).
Larva instar II keluar dari liang-liang korok yang transparan dan memakan jaringan daun pada permuakaan bawah. Demikian juga dengan larva instar III dan IV memakan daun dalam jumlah yang lebih banyak sehingga meninggalkan cirri yang khas, yaitu lapisan epidermis tipis pada permukaan atas bekas gigitan ulat akan pecah dan menimbulkan lubang besar pada daun. Bila populasi tinggi, kerusakan berat pada daun sering terjadi, yaitu hamper seluruh daun dimakan larva dan hanya meninggalkan tulang-tulang daun. Biasanya hama ini menyerang tanaman yang masih muda, yaitu sebelum tanaman membentuk krop dan paling banyak muncul pada pertanaman berumur 2-6 minggu setelah tanam (Pracaya, 2009).
            ulat grayak Spodoptera litura berukuran sekitar 15-25 mm, berwarna hijau tua kecoklatan dengan totol-totol hitam di setiap ruas buku badannya. Sedangkan Spodoptera exigua, mempunyai ukuran yang sama dengan Spodoptera litura tetapi warna tubuhnya hijau sampai hijau muda tanpa totol-totol hitam di ruas buku badannya. Kedua jenis ulat ini sering menyerang tanaman dengan cara memakan daun hingga menyebabkan daun berlubang-lubang terutama pada daun muda. Agar tanaman tidak terserang, maka perlu dilakukan pencegahan yaitu dengan melakukan sanitasi lahan dengan baik. Selain itu juga perlu dilakukan dengan cara memasang perangkap kupu-kupu di beberapa tempat. Perangkap ini dibuat dari botol-botol bekas air mineral yang diolesi dengan produk semacam lem yang mengandung hormon sex pemanggil kupu-kupu. Apabila tanaman ditemukan telah terserang ulat ini, segera semprot dengan insektisida yang tepat yaitu Matador 25 EC, Curacron 500 EC dan Buldok 25 EC. Dosis yang digunakan disesuaikan dengan anjuran pada label kemasan.
4.2.2    Penyakit
Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae). Penyakit ini menyerang perakaran tanaman.Gejala serangan ditunjukkan dengan tanaman tampak layu hanya pada siang hari yang cerah dan panas. Sebaliknya, pada pagi hari kondisi tanaman segar. Pertumbuhan tanaman yang terserang penyakit ini akan terhambat. Apabila tanaman dicabut, akan tampak benjolan-benjolan besar seperti kanker di perakarannya. Jika tingkat serangannya sudah parah, tanaman sama sekali tidak bisa berproduksi. Pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan a) menghindari menanam di lahan bekas tanaman sawi caisim dan pakcoy (brokoli, bunga kol, kol, sawi putih, dan kailan) yang terindikasi serangan penyakit ini; b) melakukan pergiliran tanaman, terutama dengan jagung dan kacang-kacangan untuk memutus rantai hidup fungi penyebab penyakit ini; c) penggunaan teknologi EMP dikombinasi dengan pengapuran tanah (untuk menaikkan pH tanah). Namun bila tanaman sudah terserang penyakit ini, seharusnya dilakukan pemberantasan.Akan tetapi sampai saat ini belum ditemukan fungisida untuk memberantas penyakit akar gada, khususnya setelah tanaman terserang.Dengan demikian hal yang perlu diperhatikan adalah melakukan pengawasan dan pencegahan secara ketat agar usaha tani sawi caisim dan pakcoy berhasil.( Barber,  2000 ).
Downy Mildew (Pseudoperonospora sp.), penyakit ini suka menyerang tanaman sawi putih.Gejala awal, muncul bercak kuning dengan bentuk kotak-kotak mengikuti alur tulang daun.Bercak ini dimulai dari daun tua.Semakin lama daun yang menguning semakin lebar dan mengarah ke daun yang lebih muda di atasnya. Untuk mencegah penyakit ini yaitu dengan cara menghindarkan penanaman sawi putih berdekatan dengan tanaman yang berumur lebih tua dan terserang penyakit ini. Selain itu juga bisa dilakukan dengan cara memperbaiki drainse lahan, terutama pada musim hujan, dan sanitasi lahan secara rutin. Akan tetapi bila sudah terjadi penyerangan segera semprot dengan fungisida yang tepat. Arahkan mata spray ke permukssn daun atas ataupun bawah. Fungisida yang digunakan adalah Anvil 50 SC, Nimrod 250 EC dan Score 250 EC. Dosis yang digunakan disesuaikan dengan yang tercantum pada label kemasan.
( Adams, 2001 )

4.2.3    Gulma

            Dari hasil pengamatan dilapangan  gulma yang terdapat dilahan adalah gulma yang berdaun lebar (Boerhavia erecta)dan gulma berdaun sempit  (Cyperus elatus).Dalam areal pertanaman jagung gulma berdaun lebar lebih dominan.Gulma ini dapat menjadi pesaing bagi tanaman jagung dalam memperoleh unsure hara dan air, sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik.
Tumbuhan gulma utama yang sering tumbuh di areal pertanaman sawi adalah Ageratum conyzoides, Commelina diffusa, Cynodon dactylon, dan Galynsoga parirflora. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi.Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan.Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma.Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu.Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya merupakan tanaman utama.Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan alang-alang.(Saputra, 2009).





V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1     Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dilapangan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Hama yang sering mengganggu tanaman jagung adalah hama belalang, ulat grayak, ulat trips.
2.      Penyakit yang menyerang tanaman dilapangan yaitu penyakitDownyMildew (Pseudoperonospora sp.) dan Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae), sehingga tanaman tidak bisa melakukan fotosintesis dengan baik, sehingga pertumbuhannya menjadi tidak normal.
3.      Gulma yang ada diareal pertanaman Sawui adalah gulma berdaun lebar,    pertumbuhan gulma ini sangat cepat sehingga pertumbuhan tanaman Sawi menjadi terganggu karena adanya persaingan dalam memperoleh unsur  hara.
5.2       Saran
            Saran saya agar praktikum selanjutnya lebih baik lagi dan waktu masuk ke lapangan agar dipercepat, agar dalam membersihkan lahan dapat diefesienkan lagi.

Copyright © SATUUNTAD All Right Reserved
Powered by Blogger