1.1
Latar
Belakang
Pada umumnya tanaman hortikultura
merupakan komoditas yang memiliki prospektif yang sangat baik untuk
dikembangkan, karena memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi khususnya bagi
para petani. Tanaman Hortikultura diataranya
yaitu buah- buahan, obat-obatan, tanaman hias serta sayur-sayuran sepertu sawi.
Sawi
adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica yang dimanfaatkan daun atau
bunganya sebagai bahan pangan (sayuran), baik segar maupun diolah. Sawi
mencakup beberapa spesies Brassica yang kadang-kadang mirip satu sama
lain.Di Indonesia penyebutan sawi biasanya mengacu
pada sawi hijau(Brassica rapakelompokparachinensis, yang disebut juga sawi bakso,
caisim, atau caisin). Selain itu, terdapat pula sawi putih (Brassica rapa) kelompok pekinensis,
disebut juga petsai yang biasa dibuat sup atau diolah menjadi asinan. Jenis lain yang kadang-kadang
disebut sebagai sawi hijau adalah sesawi sayur (untuk membedakannya dengan
caisim). Kailan (Brassica oleracea) kelompok
alboglabra adalah sejenis sayuran daun lain yang agak berbeda, karena
daunnya lebih tebal dan lebih cocok menjadi bahan campuran mi goreng. Sawi
sendok
(pakcoy atau bok choy) merupakan jenis sayuran daun kerabat sawi yang mulai
dikenal pula dalam dunia boga Indonesia (Yudharta, 2009).
Di Indonesia ini memungkinkan dikembangkan tanaman
sayur-sayuran yang banyak bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi
manusia.Sehingga ditinjau dari aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk
dikembangkan untuk bisnis sayuran.Di antara tanaman sayur-sayuran yang mudah
dibudidayakan adalah caisim.Karena caisim ini sangat mudah dikembangkan dan
banyak kalangan yang menyukai dan memanfaatkannya.Selain itu juga sangat
potensial untuk komersial dan prospek sangat baik (wiwit, 2010).
Ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, aspek
ekonomis dan aspek sosialnya sangat mendukung, sehingga memiliki kelayakan
untuk diusahakan di Indonesia.Sebutan sawi orang asing adalah mustard.
Perdagangan internasional dengan sebutan green mustard, chinese mustard, indian
mustard ataupun sarepta mustard (Rianto, 2009).
Sawi berbeda
dengan petsai.Petsai adalah tanaman dataran tinggi sementara sawi bisa juga
ditanam pada dataran rendah.Batang sawi ramping dan lebih hijau sedangkan
petsai gemuk dan berkelompok dengan daun putih kehijauan.Ciri sawi yang khas
ialah berdaun lonjong, halus, tidak berbulu dan tidak berkrop. Sawi yang banyak
ditanam di Indonesia sebenarnya dikenal juga dengan nama caisim, (Prabawa, 2007).
Sawi (Brassica
juncea) sudah lama di kenal di banyak Negara.Tanaman ini diperkirakan berasal
dari daratan Asia Tengah dan menyebar ke benua Eropa melalui Yunani.Bagaimana
sawi masuk ke Indonesia tidak diketahui pasti, tetapi saat ini sawi sudah
merupakan sayuran yang sangat di kenal di berbagai golongan masyarakat
Indonesia Pupuk urea adalah pupuk buatan senyawa kimia organik dari CO (NH2)2,
pupuk padat berbentuk butiran bulat kecil (diameter lebih kurang 1 mm).pupuk
ini mempunyai kadar N 45 % - 46 %.
Urea larut sempurna di dalam air dan tidak mengasamkan tanah (Damanik dkk,
2010).
Bentuk sawi (Brassica juncea) meliputi pembentuk
kepala, ukuran besar, kecil, daun keriting, tangkai daun besar, tangkai daun
hijau, akar, batang besar, tajuk lunak dan daftar nama lain yang hamper tak
terhingga. Karakteristik ini telah diidentifikasi melalui subdisi sebagai
varietas botanis.Tanaman ini banyak di tanam dan dihasilkan dalam volume besar
(Rubazky dan Yamaguchi, 1998).
1.2
Tujuan dan
Kegunaan Praktek
Tujuan dari praktikum Dasar-dasar
Perlindungan tanaman pada praktikum lahan adalah Untuk mengetahui teknik
budidaya, mengidentifikasi hama, mediagnosa penyakit, dan gulma serta metode
pengendalian. Kegunaan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat
mengetahui teknik budidaya yang benar dan dapat mengidentifikasi hama serta
mendiagnosa penyakit dengan metode pengendalian yang tepat.
.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teknik
Budidaya
2.1.1 Pengolahan
lahan
Tanah secara umum melakukan penggemburan dan pembuatan
bedengan. Tahap-tahap pengemburan yaitu pencangkulan untuk memperbaiki struktur
tanah dan sirkulasi udara dan pemberian pupuk dasar untuk memperbaiki fisik
serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan yang akan kita gunakan.
Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan,
semak atau pepohonan yang tumbuh.Dan bebas dari daerah ternaungi, karena
tanaman sawi suka pada cahaya matahari secara langsung.Sedangkan kedalaman
tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm. Pemberian pupuk organik sangat
baik untuk penyiapan tanah.Sebagai contoh pemberian pupuk kandang yang baik
yaitu 10 ton/ha. Pupuk kandang diberikan saat penggemburan agar cepat merata
dan bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan. Bila daerah yang mempunyai
pH terlalu rendah (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran.Pengapuran ini
bertujuan untuk menaikkan derajat keasam tanah, pengapuran ini dilakukan
jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-kira 2 sampai 4 minggu
sebelumnya.Sehingga waktu yang baik dalam melakukan penggemburan tanah yaitu
2-4 minggu sebelum lahan hendak ditanam. Jenis kapur yang digunakan adalah
kapur kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2
(Rianto, 2009).
Teknik budidaya tanaman sawi meliputi pemilihan benih,
pengolahan tanah, pembibitan, penanaman, pemeliharaan.Benih merupakan salah
satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih yang baik akan menghasilkan
tanaman yang tumbuh dengan bagus. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar
lahan tanam sebesar 750 gram.Benih sawi berbentuk bulat,
kecil-kecil.Permukaannya licin mengkilap dan agak keras.Warna kulit benih
coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang
baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar
air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan
benih harus utuh.kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih
yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih
itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari
70 hari. Dan penanaman sawi yang akan dijadikan benih terpisah dari tanaman
sawi yang lain. Juga memperhatikan proses yang akan dilakukan mesilnya dengan
dianginkan, tempat penyimpanan dan diharapkan lama penggunaan benih tidak lebih
dari 3 tahun (Mandha, 2010).
2.1.2 Pembibitan
dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk
penanaman. Karena lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap
lingkungannya. Sedang ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80-120 cm dan
panjangnya 1-3 meter. Curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi bedengan
20-30 cm. Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan
pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram
TSP, dan 7,5 gram Kcl. Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut :
benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1-2 cm, lalu disiram dengan sprayer,
kemudian diamati 3-5 hari benih akan tumbuh
setelah berumur 3-4 minggu sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan
(Margiyanto, 2010).
2.1.3 Penanaman
Penanaman tanaman sawi dibedengan dengan ukuran lebar 120 cm
dan panjang sesuai dengan ukuran petak tanah. Tinggi bedeng 20 – 30 cm dengan
jarak antar bedeng 30 cm, seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan
terlebih dahulu yaitu pupuk kandang 10 ton/ha, TSP 100 kg/ha, Kcl 75 kg/ha.
Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm.
Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan ukuran 4-8 X 6-10 cm (Rianto, 2010).
Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan ukuran 4-8 X 6-10 cm (Rianto, 2010).
2.1.4 Pemeliharaan
Pemeliharaan merupakan hal yang penting. Sehingga akan
sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapat. Pertama-tama yang perlu
diperhatikan adalah penyiraman, penyiraman ini tergantung pada musim, bila
musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang
ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus menambah air demi
kecukupan tanaman sawi yang kita tanam. Bila tidak terlalu panas penyiraman
dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.Tahap selanjutnya yaitu
penjarangan, penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman.Caranya dengan
mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Selanjutnya tahap
yang dilakukan adalah penyulaman, penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman
ini dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah yaitu tanaman yang mati atau
terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru. Penyiangan
biasanya dilakukan 2-4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan
kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman.Biasanya penyiangan dilakukan 1
atau 2 minggu setelah penanaman.Apabila perlu dilakukan penggemburan dan
pengguludan bersamaan dengan penyiangan.Pemupukan tambahan diberikan setelah 3
minggu tanam, yaitu dengan urea 50 kg/ha. Dapat juga dengan satu sendok teh
sekitar 25 gram dilarutkan dalam 25 liter air dapat disiramkan untuk 5 m
bedengan (Kloppenburg, 2008).
2.1.5 Panen
Dalam hal sekali pemanenan penting diperhatikan umur
panen dan cara panennya.Umur panen sawi paling lama 70 hari. Paling pendek umur
40 hari.
Terlebih dahulu melihat fisik tanaman seperti warna,
bentuk dan ukuran daun.
Cara panen ada 2 macam yaitu
mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan dengan memotong bagian pangkal
batang yang berada di atas tanah dengan pisau tajam.Setelah terkumpul, hasil panen
dicuci dan dibersihkan dari bekas-bekas tanah sambil mengupas daun dan tangkai
yang tua, kuning, berwarna, dan rusak.Tiriskan di rak-rak yang ditempatkan di
ruangan yang teduh, ( Sutedjo, 2000 ).
2.2 Hama
Hama adalah
organisme yang di anggap merugikan dan tidak di inginkan dalam kegiatan
sehari-hari manusia. Walaupun dapat di
gunakan untuk semua organisme. Daam praktek istilahnya ini paling sering di
pakai hanya kepada hewan. Utu hewan juga dapat di sebut hama jika menyebabkan
krusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam
habitat manusia. Dalam pertnian hama dalah organisme pengganggu tanaman yang
menimbulkan kerusakan secara fisik,dan kedalamnya praktis adalah semuah hewan
yang menyebakan kerugian dalam
prtanian (Adam, 2001).
Hama yang sering
menyerang pada tanaman sawi yaitu ulat
tritip (Plutella xyloslella, L.)Merupakan
hama utama tanaman
sawi, serangannya dapat menyebabkan kehilangan hasil antara 58 sampai 100%,
terutama dimusim kemarau. Ulat berwarna hijau, panjang 8 sampai 10 mm. gejala
serangan, daun berlubang-lubang, jika serangan hebat hanya menyisakan
urat daun dan ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis) Ulat
berwarna hijau, panjang
18 mm, pada punggung terdapat garis berwarna hijau muda. Gejala serangan, bagian titik tumbuh
tanaman rusak (Adam, 2001)
2.3 Penyakit
Pada areal pertanaman, sering ditemukan akibat dari kemunduran produksi
bukan hanya disebabkan oleh serangan hama semata, tetapi banyak juga menderita
karena gangguan penyakit. Akan tetapi, Umumnya petani tidak dapat
membedakan antara tanaman yang terserang hama dan tanaman yang terserang
penyakit. Secara biologi Penyakit tumbuhan adalah proses fisiologi yang
tidak normal dalam badan tumbuhan, yang dapat menyebabkan kerugian langsung
pada petani, karena dapat mengurangi kualitas dan kuantitas hasil
Penyakit yang menyerang tanaman biasanya
menimbulkan gejala-gejala atau ciri khas sehingga dapat memudahkan untuk
mengetahui penyakit yang menyerang tanaman. Penyakit tumbuhan salah
satunya dapat disebabkan oleh jamur. Jamur adalah suatu kelompok jasad
hidup yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi, sebab memiliki dinding sel,
tidak bergerak, berkembang biak dengan spora namun tidak memiliki
klorofil,tumbuhnya berupa thallus (belum ada defferensiasi menjadi akar, batang
dan daun) serta tidak mempunyai sistem pembuluh seperti pada tumbuhan tingkat
tinggi. Agar terhindarnya tanaman dari penyakit yang disebabkan oleh
jamur, maka pengetahuan lebih lanjut tentang jamur harus dikembangkan untuk
mendapatkan pengendalian peyakit yang efektif dan ramah lingkungan dengan eksploitasi
agens hayati (Triharso, 2004)
2.4 Gulma
Gulma adalah
segala tanaman yang tumbuh pada tempat yang tidak diinginkan. Bunga mawar pun,
jika tumbuh di tengah sayuran juga termasuk Gulma. Kebanyakan Gulma adalah
tanaman yang cepat tumbuh dan dapat menghasilkan sejumlah besar biji dalam
waktu singkat. Biasanya bijinya mudah tersebar, misalnya bunga dandelion dengan
buahnya yang bisa tersebar hanya dengan angin kecil. Beberapa gulma akan terus
menebarkan bijinya walaupun pohonnya telah dicabut. Di atas tanah, dari gulma
kebun biasa, bunga-bunganya akan membuat setumpuk biji berambut pada timbunan
kompos jika ditaruh disitu dan tidak dihancurkan. Gulma lain seperti tumbuhan
rambat bunga kuning menghasilkan puncuk yang berakar setiap kali menyentuh tanah.
Dengan ini, tanaman menjalar dengan cepat. Ada Gulma yang seperti konvolvulus,
harus diangkat sepenuhnya dari tanah. Sisa tangkai yang tercecer akan tumbuh
sebagai tanaman baru. (Sukman, 1991)
III. METODE PRAKTEK
3.1
Tempat dan Waktu
Tempat
pelaksanaan Praktek Lapang Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman yaitu pada Lahan
Percobaan Dasar-Dasar Perlindungan Tananaman Jurusan Hama dan Perlindungan
Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako Palu.
Waktu Pelaksanaan Praktek Lapang Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman
yaitu dimulai pada tanggal 24 Oktober 2012 sampai tanggal 26 Desember
2013.
3.2
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum
Dasar-Dasar Perlindungan
Tanaman tentang Teknik Budidaya Tanaman Sawi (Brassica
juncea L.) adalah cangkul, parang, sube, ember, kayu, dan alat tulis
menulis. Sedangkan
bahan yang digunakan dalam praktikum tersebut yaitu bibit tanaman Sawi, pupuk kandang
dan air.
3.3 Identifikasi dan Diaknosa
Pertama-tama (minggu pertama), melakukan
pembersihan lahan dengan menggunakan parang, cangkul dan sabit. Setelah lahan
bersih, dilanjutkan dengan membuat bedengan sebanyak 2 bedengan dengan panjang
masing-masing 3,5 meter dan lebar 1,5 meter. Kemudian pada minggu
ke-2 dilanjutkan lagi dengan perbaikan bedengan dengan menggunakan skop dan
sabit, kemudian bedengan dicampur dengan pupuk kandang hingga merata.Pada
minggu ke-3 dilakukan penyemaian benih dengan melakukan sebagian lahan
bedengan, benih yang disemai di tutup dengan ranting-ranting pohon dan karung
selama 2 minggu.Kemudian pada minggu ke-5 di lakukan penanaman.Sebelum
penanaman, terlebih dahulu bedengan disiram dengan air.Setelah penanaman, bibit
yang sudah di tanam disiram kembali sampai seterusnya dilakukan penyiraman 2
kali dalam sehari. Dan pada minggu berikutnya di lakukan plotan pada 3 plot
sawi, kemudian menghitung gulma dan hama apa saja yang ada didalam sawi yang
telah diplot.kemudian dilakukan pemanenan.
(
Sutedjo, 2000 ).
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Hama
Berdasarkan pengamatan hama yang
dilakukan pada saat pelaksanaan praktikum lapang terhadap tanaman sawi ( Brassica juncea L ) didapatkan
Hama sebagai berikut :
|
Keterangan
1. Caput
2. Thoraks
3. Abdomen
4. Antenna
5. Tungkai belakang
6. Tungkai depan
|
Gambar 1. Morfologihama Ulat Tritip
( Plutella xylostella ) pada
Areal Pengamatan
Sawi ( Brassica juncea L )
|
Keterangan
1. Caput
2. Thoraks
3. Abdomen
4. Antenna
5. Tungkai belakang
6. Tungkai depan
|
Gambar 2. Morfologi Hama Belalang (Valanga nigricornis)
pada Areal Pengamatan
Sawi ( Brassica juncea )
|
Keterangan
1. Caput
2. Thoraks
3. Abdomen
4. Antenna
5. Tungkaibelakang
6. Tungkai depan
|
Gambar 3. Morfologi hama Ulat Grayak
( )pada areal pengamatan
Sawi (Brassica juncea L)
4.1.2 penyakit
|
|
Gambar 4, Morfologi Penyakit Akar
Gada (Plasmodiophora brassicae).
pada areal pengamatan sawi
|
|
Gambar 5. Morfologi
penyakit Downy Mildew (Pseudoperonospora
sp.),
Pada areal pengamatan sawi.
4.1.3 gulma
|
|
Gambar
6. Morfologi Gulma
Berdaun Lebar pada Areal
Pengamatan Sawi
(Brassica
juneea L)
|
|
Gambar
7. Morfologi Gulma Berdaun
Sempit pada Areal Pengamatan Sawi
(Brassica juncea L)
4.1.4 Tabel Pengamatan
Tabel 1.Pengamatan Hama pada Tanaman sawi
( Brassica juncea ).
|
NO
|
Minggu
pengamatan
|
Plot
|
hama
|
penyakit
|
gulma
|
jumlah
|
ket
|
|
1.
|
Minggu 1
Kamis,
19/12/2013
|
1
|
Belalang dan ulat grayak
|
AkarGada
(Plasmodiophora brassicae)
|
Daun lebar dan daun sempit
|
6 dan 2.
|
|
|
2.
|
|
2
|
Belalang dan ulat grayak
|
AkarGada (Plasmodiophora
brassicae)
|
Daun lebar dan daun sempit
|
5 dan 1
|
|
|
3.
|
|
3
|
Belalang dan ulat tritip
|
Downy
Mildew (Pseudoperonospora sp.),
|
Daun lebar dan daun sempit
|
3 dan 1
|
|
|
4.
|
Minggu 2
Kamis,
26/12/2013
|
1
|
Belalang dan ulat grayak
|
AkarGada (Plasmodiophora
brassicae)
|
Daun lebar dan daun sempit
|
7 dan 2
|
|
|
5.
|
|
2
|
Belalang dan ulat tritip dan ulat
grayak
|
Downy
Mildew (Pseudoperonospora sp.),
|
Daun lebar dan daun sempit
|
2dan 1,1
|
|
|
6.
|
|
3
|
Belalang dan ulat grayak
|
Downy
Mildew (Pseudoperonospora sp.),
|
Daun lebar dan daun sempit
|
5 dan 2
|
|
4.2 Pembahasan
4.2.1 Hama
Berdasarkan tabel 1 di atas yaitu
Pengamatan hama Pada Tanaman Sawi hijau (Brassica juncea L.) dengan
Perlakuan Pupuk Kandang terdapat parbedaan jumlah hama antara dari minggu pertama dan minggu ke-dua . pada
plot 1 hama belalangnya sebanyak 6, pada plot 2belalangnya sebanyak 3, dan pada
plot 3 belalangnya sebanyak 5.sedangkan ulat grayak menyerang pada plot 1 dan 2
sebanyak 2. Dan ulat tritip menyerang pada plot 3 sebanyak 1.dan pada minggu
ke-2 dilakukan pengamatan lagi pada plot 1 2 dan 3 belalang sebanyak 7, 2, dan
lima. Sedangkan ulat grayak pada plot 1, 2, dan 3 sebanyak 2, 1, dan 2. Kemudian
hama yang ke-tiga yaitu ulat tritip hanya terdapat pada plot 2 sebanyak 1.jadi
hama yang paling banyak memakan daun sawi adalah belalang,sehingga beberapa
dari tumbuhan yang tersisa hanya tangkai daunnya saja.
Belalang adalah serangga herbivora yang terkenal sebagai
hama dengan kemampuan melompat mumpuni (dapat mencapai jarak hingga 20 kali
panjang tubuhnya).Pada umumnya belalang berwarna hijau atau cokelat. Belalang
terkait erat secara biologis dengan kecoa dan jangkrik dan masuk dalam kelompok
serangga Orthoptera.Saat ini terdapat lebih dari 20.000 spesies belalang.
Belalang termaksud dalam Kingdom Animalia, Phylum Arthropoda, Class Insecta,
Order Orthoptera,
Suborder
Caelifera, Common Name. Melanoplus differentialis.Tubuh belalang terdiri dari 3
bagian utama, yaitu kepala, dada (thorax) dan perut (abdomen).Belalang juga
memiliki 6 enam kaki bersendi, 2 pasang sayap, dan 2 antena. Kaki belakang yang
panjang digunakan untuk melompat sedangkan kaki depan yang pendek digunakan
untuk berjalan. Meskipun tidak memiliki telinga, belalang dapat mendengar.Alat
pendengar pada belalang disebut dengan tympanum dan terletak pada abdomen dekat
sayap.Tympanum berbentuk menyerupai disk bulat besar yang terdiri dari beberapa
prosesor dan saraf yang digunakan untuk memantau getaran di udara, secara
fungsional mirip dengan gendang telinga manusia.belalang punya 5 mata (2
compound eye, dan 3 ocelli). Belalang termasuk dalam kelompok hewan berkerangka
luar (exoskeleton). Contoh lain hewan dengan exoskeleton adalah kepiting dan
lobster.Belalang betina dewasa berukuran lebih besar daripada belalang jantan
dewasa, yaitu 58-71 mm sedangkan belalang jantan 49-63 mm dengan berat tubuh
sekitar 2-3( Ashari s 2000 ).
Ulat Tritip (Plutella xylostella)
Termaksud dalam Kingdom Animalia, Phylum Arthropoda,Class Insecta,Ordo Lepidoptera,
Family Plutellidae,Genus Plutella,
Species Plutella xylostella (Anonim, 2009)
Morfologi dan Daur hidup ulat tritipn ( Plutella xylostella
)Telur Plutella xylostella
berbentuk bulat panjang, lebarnya sekitar 0,26 mm dengan panjang 0,49 mm. Ngengat betina dapat
bertelur 180-320 butir. Umumnya telur diletakkan dibalik daun satu per satu,
kadang dua-dua, atau tiga-tiga.Telurnya mengelompok dalam 1 daun atau daun yang
berlainan tanaman sehingga satu ngengat dapat bertelur pada banyak tanaman
kubis (Pracaya, 2009).
Larva yang baru menetas warnanya hijau pucat, sedangkan ulat
dewasa lebih tua warna kepalanya lebih pucat dengan bintik-bintik atau garis
cokelat.Panjang larva sekitar 9 – 10 mm, relatif tidak berbulu dan mempunyai 5
pasang tungkai palsu. Larva sangt licin dan jika disentuh akan menjatuhkan diri
seakan-akan mati. Lama stadium larva 13 hari pada suhu 16 – 25oC.Setelah cukup
umur, ulat mulai membuat kepompong dari bahan seperti benang sutra abu-abu
putih dibalik permukaan daun untuk menghindari panasnya sinar
matahari.Pembentukan kepompong mulai dari dasarnya, sisi kemudian
tutupnya.Kepompong masih terbuka pada bagian ujung untuk keperluan
pernapasan.Pembuatan kepompong ini diselesaikan dalam waktu 24 jam.Setelah
selesai ulat berubah menjadi pupa.Kulit ulat biasanya diletakan didalam
kepompong, tetapi kadang juga diletakkan diluar kepompong.Mula-mula pupa
berwarna hijau muda, kemudian berubah menjadi hijau tua dan kemudian berubah
menjadi imago (Pracaya, 2009).
Imago dari hama ini memiliki warna sayap yang abu-abu
kecoklatan. Namun sayap betina berwarna lebih pucat.Saat istirahat, empat
sayapnya menutupi tubuh dan seakan-akan terdapat gambar seperti jajaran genjang
yang warnanya putih seperti berlian. Oleh karena itu, hama ini disebut ngengat
punggung berlian. Plutella xylostella merusak tanaman dari stadia larva atau
ketika masih menjadi ulat (Pracaya, 2009).
Gejala Serangan dan Bagian Tanaman yang Dirusak, memakan
bagain bawah daun sehingga tinggal
epidermis bagian atas saja. Gejala serangan hama ini yang terlihat pada daun
sangat khas dan tergantung dari instar larva yang menyerang. Larva instar I memakan daun kubis dengan
jalan membuat lubang ke dalam permukaan bawah daun. Setelah itu larva membuat
liang-liang korok ke dalam jaringan parenkim sambil memakan daun (Pracaya,
2009).
Larva instar II keluar dari liang-liang korok yang
transparan dan memakan jaringan daun pada permuakaan bawah. Demikian juga
dengan larva instar III dan IV memakan daun dalam jumlah yang lebih banyak
sehingga meninggalkan cirri yang khas, yaitu lapisan epidermis tipis pada
permukaan atas bekas gigitan ulat akan pecah dan menimbulkan lubang besar pada
daun. Bila populasi tinggi, kerusakan berat pada daun sering terjadi, yaitu
hamper seluruh daun dimakan larva dan hanya meninggalkan tulang-tulang daun.
Biasanya hama ini menyerang tanaman yang masih muda, yaitu sebelum tanaman
membentuk krop dan paling banyak muncul pada pertanaman berumur 2-6 minggu setelah
tanam (Pracaya, 2009).
ulat grayak Spodoptera litura
berukuran sekitar 15-25 mm, berwarna hijau tua kecoklatan dengan totol-totol
hitam di setiap ruas buku badannya. Sedangkan Spodoptera exigua, mempunyai
ukuran yang sama dengan Spodoptera litura tetapi warna tubuhnya hijau sampai
hijau muda tanpa totol-totol hitam di ruas buku badannya. Kedua jenis ulat ini
sering menyerang tanaman dengan cara memakan daun hingga menyebabkan daun
berlubang-lubang terutama pada daun muda. Agar tanaman tidak terserang, maka
perlu dilakukan pencegahan yaitu dengan melakukan sanitasi lahan dengan baik.
Selain itu juga perlu dilakukan dengan cara memasang perangkap kupu-kupu di
beberapa tempat. Perangkap ini dibuat dari botol-botol bekas air mineral yang
diolesi dengan produk semacam lem yang mengandung hormon sex pemanggil
kupu-kupu. Apabila tanaman ditemukan telah terserang ulat ini, segera semprot
dengan insektisida yang tepat yaitu Matador 25 EC, Curacron 500 EC dan Buldok
25 EC. Dosis yang digunakan disesuaikan dengan anjuran pada label kemasan.
4.2.2 Penyakit
Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora
brassicae).
Penyakit ini menyerang perakaran tanaman.Gejala serangan ditunjukkan dengan
tanaman tampak layu hanya pada siang hari yang cerah dan panas. Sebaliknya,
pada pagi hari kondisi tanaman segar. Pertumbuhan tanaman yang terserang
penyakit ini akan terhambat. Apabila tanaman dicabut, akan tampak
benjolan-benjolan besar seperti kanker di perakarannya. Jika tingkat
serangannya sudah parah, tanaman sama sekali tidak bisa berproduksi. Pencegahan
yang harus dilakukan adalah dengan a) menghindari menanam di lahan bekas
tanaman sawi caisim dan pakcoy (brokoli, bunga kol, kol, sawi putih, dan
kailan) yang terindikasi serangan penyakit ini; b) melakukan pergiliran
tanaman, terutama dengan jagung dan kacang-kacangan untuk memutus rantai hidup
fungi penyebab penyakit ini; c) penggunaan teknologi EMP dikombinasi dengan
pengapuran tanah (untuk menaikkan pH tanah). Namun bila tanaman sudah terserang
penyakit ini, seharusnya dilakukan pemberantasan.Akan tetapi sampai saat ini
belum ditemukan fungisida untuk memberantas penyakit akar gada, khususnya
setelah tanaman terserang.Dengan demikian hal yang perlu diperhatikan adalah
melakukan pengawasan dan pencegahan secara ketat agar usaha tani sawi caisim
dan pakcoy berhasil.( Barber, 2000 ).
Downy Mildew (Pseudoperonospora
sp.), penyakit
ini suka menyerang tanaman sawi putih.Gejala awal, muncul bercak kuning dengan
bentuk kotak-kotak mengikuti alur tulang daun.Bercak ini dimulai dari daun tua.Semakin
lama daun yang menguning semakin lebar dan mengarah ke daun yang lebih muda di
atasnya. Untuk mencegah penyakit ini yaitu dengan cara menghindarkan penanaman
sawi putih berdekatan dengan tanaman yang berumur lebih tua dan terserang
penyakit ini. Selain itu juga bisa dilakukan dengan cara memperbaiki drainse
lahan, terutama pada musim hujan, dan sanitasi lahan secara rutin. Akan tetapi
bila sudah terjadi penyerangan segera semprot dengan fungisida yang tepat.
Arahkan mata spray ke permukssn daun atas ataupun bawah. Fungisida yang
digunakan adalah Anvil 50 SC, Nimrod 250 EC dan Score 250 EC. Dosis yang
digunakan disesuaikan dengan yang tercantum pada label kemasan.
(
Adams, 2001 )
4.2.3 Gulma
Dari
hasil pengamatan dilapangan gulma yang
terdapat dilahan adalah gulma yang berdaun lebar (Boerhavia erecta)dan gulma berdaun
sempit (Cyperus elatus).Dalam areal pertanaman
jagung gulma berdaun lebar lebih dominan.Gulma ini dapat menjadi pesaing bagi
tanaman jagung dalam memperoleh unsure hara dan air, sehingga tanaman tidak
dapat tumbuh dengan baik.
Tumbuhan gulma utama yang sering tumbuh di areal
pertanaman sawi adalah
Ageratum conyzoides, Commelina diffusa, Cynodon dactylon,
dan Galynsoga parirflora. Keberadaan gulma menurunkan hasil
karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi.Plastis,
karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan.Pada tingkat tertentu,
tanaman berguna dapat menjadi gulma.Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap
gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu.Contoh, kedelai yang tumbuh di
sela-sela pertanaman monokultur jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada
sistem tumpang sari keduanya merupakan tanaman utama.Meskipun demikian,
beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan
alang-alang.(Saputra, 2009).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
hasil yang diperoleh dilapangan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Hama
yang sering mengganggu tanaman jagung adalah hama belalang, ulat grayak, ulat
trips.
2. Penyakit
yang menyerang tanaman dilapangan yaitu penyakitDownyMildew
(Pseudoperonospora sp.) dan Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae),
sehingga tanaman tidak bisa melakukan fotosintesis dengan baik, sehingga pertumbuhannya
menjadi tidak normal.
3. Gulma
yang ada diareal pertanaman Sawui adalah gulma berdaun lebar, pertumbuhan gulma ini sangat cepat sehingga
pertumbuhan tanaman Sawi menjadi terganggu karena adanya persaingan dalam
memperoleh unsur hara.
5.2 Saran
Saran saya agar praktikum
selanjutnya lebih baik lagi dan waktu masuk ke lapangan agar dipercepat, agar
dalam membersihkan lahan dapat diefesienkan lagi.