BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari
tentang hubungan makluk hidup dan lingkungannya. Bumi memiliki banyak sekali
jenis-jenis mahkluk hidup, mulai dari tumbuhan dan binatang yang sangat
kompleks hingga organisme yang sederhana seperti jamur, amuba dan bakteri.
Meskipun demikian semua mahkluk hidup tanpa kecuali, tidak bisa hidup
sendirian. Masing-masing tergantung pada mahkluk hidup yang lain ataupun benda
mati di sekelilinganya. Hubungan antar makhluk hidup ataupun
dengan habitatnya inilah yang merupakan interaksi yang dapat bersifat predasi,
parasitisme, komensalisme, dan mutualisme.
Ekologi pertama
kali diperkenalkan oleh Ernest Haeckel (ahli filsafat dan Biologi Jerman) pada
tahun 1869. Kata ekologi berasal dari dua suku kata dari bahasa Yunani, yaitu
Oikos (rumah atau tempat tinggal) dan Logos (penelaahan atau studi atau ilmu).
Secara umum ekologi didefinisikan sebagai suatu ilmu atau studi tentang
hubungan timbal balik antara mahkluk hidup dengan lingkungannya sebagai suatu
rumah tangga. Sedangkan Ekologi Tanaman didefinisikan sebagai suatu ilmu yang
mempelajari hubungan timbal balik antara tanaman dan lingkungan.
Mempelajari ekologi sangat penting, karena masa depan kita
sangat tergantung pada hubungan ekologi di seluruh dunia. Meskipun perubahan
terjadi di tempat lain di bumi ini, namun akibatnya akan kita rasakan pada
lingkungan di sekitar kita. Meskipun ekologi adalah cabang dari biologi, namun
seorang ahli ekologi harus menguasai ilmu lain seperti kimia, fisika, dan ilmu
komputer. Ekologi juga berhubungan dengan bidang ilmu-ilmu tertentu seperti
geologi, meteorologi, dan oseanografi, guna mempelajari lingkungan dan
hubungannya antara tanah, air, dan udara. Pendekatan dari berbagai ilmu
membantu ahli ekologi untuk memahami bagaimana lingkungan nonhidup mempengaruhi
mahkluk hidup.
1.2 Tujuan
Tujuan
dilaksanakannya praktikum dasar-dasar ekologi yaitu untuk mengetahui
keanekaragaman ekosistem yang ada pada lahan pertanian di desa sidera kecamatan
biromaru kabupaten sigi.
BAB II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Bawang Merah (Allium asoalonicium)
Bawang merah merupakan tanaman
semusim berumur sangat pendek dan di perbanyak melalui vegetatif. Akan tetapi
tanaman bawang merah yang telah melalui periode pendinginan (vernalisasi)
mengalami pembungaan di lapangan.
Bawang merah (Allium asoalonicium) berasal dari Devisio Spetmathophyta, Sub-Devisio Angrospermae,
Kelas Monocotyledone, Ordo Lilialaes (lihaflorae), Famili Lilialaes, Genus
Allium, Species Allium asoalonicium.
2.2 Klasifikasi Gulma
Gulma adalah
tumbuhan pengganggu, gulma dapat berupa tumbuhan liar atau sisa-sisa tanaman
budidaya yang sebelumnya ditumpang sarikan dengan tanaman utama. Keberadaan
gulma bisa berakibat fatal bagi tanaman utama. Tanaman pengganggu ini bukan
hanya menyebabkan pelambatan saat berbuah, tetapi juga potensial mematikan
tanaman. Pasalnya, gulma bisa menjadi agen penyebar virus, bakteri, serta
cendawan penyebab penyakit. Selain itu, gulma juga bisa menjadi inang atau tempat
hidup hama, seperti ulat dan belalang (Mentari, 2013).
2.2.1 Teki (cyperus rotundus)
Klasifikasi
rumput teki adalah Kingdom Plantae (Tumbuhan), Subkingdom Tracheobionta
(Tumbuhan berpembuluh), Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji), Divisi
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga), Kelas Liliopsida (berkeping satu /
monokotil), Sub Kelas Commelinidae, Ordo Cyperales, Famili Cyperaceae,
Genus Cyperus,
Spesies Cyperus rotundus L. Mentari (2013).
Ciri morfologinya, antara
lain berakar serabut yang tumbuh menyamping dengan membentuk umbi yang banyak,
tiap umbi mempunyai mata tunas, batang tumbuh tegak dan berbentuk tumpul atau
segitiga, memiliki ciri bentuk pita dengan pertulangan daun sejajar tidak
mempunyai ligula atau aurikula, arah daun tersebar merata mengelilingi batang,
serta penampang daun berbentuk huruf V. Gulma ini hampir selalu ada di sekitar
tanaman budidaya karena dapat berkembangbiak melalui biji, umbi akar dan
rhizoma yang sangat sulit untuk dikendalikan secara mekanis. Dalam persaingan
dengan tanaman budidaya, gulma menghasilkan zat allelopati yang dapat meracuni
atau menekan pertumbuhan tanaman budidaya (Mentari, 2013).
Pada batang rumput teki ini memiliki ketinggian mencapai 10
sampai 75 cm. Daunnya berbentuk pita, berwarna mengkilat dan terdiri dari 4-10 helai, terdapat pada pangkal batang membentuk rozel akar, dengan pelepah daun tertutup tanah. Bunga berwarna hijau kecoklatan,
terletak di ujung tangkai dengan tiga tunas kepala benang sari berwarna kuning jernih, membentuk bunga-bunga berbulir, mengelompok menjadi satu berupa payung.
Buahnya berbentuk kerucut besar pada pangkalnya, kadang-kadang melekuk berwarna coklat, dengan panjang 1,5 – 4,5 cm
dengan diameter 5 – 10 mm. Bijinya berbentuk kecil bulat, dan memiliki sayap seperti bulu yang
digunakan untuk proses penyerbukan (Mentari, 2013).
2.2.2 Asystasia gangetica L.
Asystasia gangetica L. Merupakan gulma dikotil
yang dominan dan
umum ditemukan di perkebunan
perenial, terutama perkebunan
kelapa sawit. Propinsi Riau
merupakan sentra produksi pengembangankelapa sawit
terbesar kedua setelah Sumatra Utara
(Fauzi 2006). Keberadaan gulma tersebut pada
lahan perkebunan sawit
dinilai sangat merugikan sehingga
perlu dilakukan upaya pengendalian (Barus
2003). Untuk itulah perlu diketahui pengaruh
alelopati Calopogonium mucunoides Desv.
terhadap perkecambahan dan pertumbuhanAsystasia gangetica(L.) T.
Anderson.
2.2.3 Rumput Mutiara (Hedyotis corymbosa .L)
|
Hedyotis corymbosa
.L)
|
Menurut I Gede
Ketut Susrama (2010)Klasifikasirumputmutiaraadalah kingdom plantae, Divisi
Spermatophyta, SubDivisi
Angiospermae, Kelas
Dicotyledoneae, Ordo
Rubiales, Famili
Rubiaceae, Genus
Hedyotis, Spesies
Hedyotis corymbosa .L
Rumput tumbuh rindang berserak, agak
lemah, tinggi 15 – 50 cm, tumbuh subur pada tanah lembab di sisi jalan, pinggir
selokan, mempunyai banyak percabangan. Batang bersegi, daun berhadapan
bersilang, tangkal daun pendek/hampir duduk, panjang daun 2 – 5 cm, ujung
runcing, tulang daun satu di tengah. Ujung daun mempunyal rambut yang pendek.
Bunga ke luar dari ketiak daun, bentuknya seperti payung berwarna putih, berupa
bunga majemuk 2-5, tangkai bunga (induk) keras seperti kawat, panjangnya 5 10
mm. Buah built, ujungnya pecah-pecah. Rumput ini mempunyai khasiat sama seperti
Hedyotis diffusa Willd. = Rumput Iidah ular = Baihua she she cao (Sukamto,
2012).
2.3
Klasifikasi Hama
2.3.1 Ulat Grayak (Spodoptera axigua)
Klasifikasi dari
ulat daun bawang yaitu Filum Arthopoda, Kelas Hexapoda, Ordo Lepidoptera, Famili Noccuidae, Genus Spodoptera, Spesies (Spodoptera
Sp) (Rioardi, 2009).
Morfologi ulat daun bawang merah (Spodoptera
axigua) pada tanaman bawang merah (Allium
ascolonicum) rentangan sayap ngengat panjangnya antara 25–30 mm. Sayap
depan berwarna coklat tua dengan garis-garis yang kurang tegas dan terdapat
pula bintik-bintik hitam. Sayap belakang berwarna keputih-putihan dan tepinya
bergaris-garis hitam (Rioardi, 2009).
Siklus hidup ulat daun bawang dimulai dari telur,
larva, pupa, dan imago. Serangga ini bertipe sempurna (Holometabola) yang
perkembangannya melalui stadia telur-larva-kepompong-dewasa. Daur atau iklus
hidupnya setelah 20 – 26 hari ulat ini hidup dan menyerang tanaman, maka ia
akan berubah menjadi kepompong dan selanjutnya berubah jadi kupu-kupu.
Kupu-kupu bertelur dan setelah 4 – 5 hari akan menetas menjadi ulat atau larva
yang akan menyerang tanaman (Rioardi,
2009).
Serangan
hama Spodoptera Sp ini menyebabkan
daun pada bawang menjadi kuning, bintik-bintik putih dan menyababkan daun
menjadi layu, pada bagian daun yang terserang hama ini meninggalkan
bercak-bercak hitam berupa kotoran (Rioardi, 2009).
2.3.2 Ganjur (Orseolia Oryzae)
Klasifikasi serangga ganjuradalah kingdom Animalia, phylum Arthropoda, class Insecta, order Diptera, suborder Nematocera, family Cecidomyiidae, genus Orseolia, species Orseolia Oryzae.
Hama ganjur sering dikenal dengan mana daerah al:
hama pentil, mentil, hama bawang, hama mendong, dengan nama latin Orseolia
oryzae (Wood-Mason). Ganjur umumnya bukan merupakan hama utama padi di
Indonesia. Hama ini hanya sedikit merugikan, sangat bersifat lokal, dan hanya
terjadi pada musim-musim tertentu. Namun demikian, serangan ganjur dapat
terjadi sejak pertanaman masih di pembibitan sampai tanaman mencapai fase
primordia.
Gejala khas ganjur adalah tunas padi yang tumbuh
menjadi bentuk pentil atau daun bawang, dengan panjang bervariasi, 15-20 cm.
Anakan yang terserang ganjur tidak mampu menghasilkan malai. Serangga dewasa
ganjur menyerupai nyamuk kecil, tidak kuat terbang sehingga penyebaran sangat
terbatas. Serangga ini aktif pada malam hari dan sangat tertarik cahaya.
2.3.3 Semut
Klasifikasi semut adalah KerajaanAnimalia, Filum Arthropoda, Kelas Insekta, Famili Formicidae,
Super familiVespoidea, Ordo hymenoptera, UpaordoApokrita, Genus Oechophylla,
SpesiesOechophyllasmaragdina.
Tubuh semut terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, mesosoma (dada),
dan metasoma (perut).Morfologi semut cukup jelas dibandingkan denganserangga lain yang
jugamemilikiantena,
kelenjarmetapleural, dan bagian perut kedua yang
berhubungan ketangkai semut membentuk pinggang sempit (pedunkel) di antara mesosoma (bagian rongga dada dan daerah perut) dan metasoma
(perut yang kurang abdominal segmen dalam petiole). Petiole yang dapat dibentuk oleh satu atau dua node
(hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa terwujud).
Tubuh semut, seperti serangga lainnya,
memiliki eksoskeleton atau kerang kaluar yang
memberikan perlindungan dan juga sebagai tempat menempelnya otot, berbeda dengan kerangka manusia dan hewan bertulang belakang.Serangga tidak memiliki paru-paru, tetapi mereka memiliki lubang-lubang pernapasan di bagian dada bernamas pirakel untuk sirkulasi udara dalam sistem respirasi mereka. Serangga juga tidak memiliki sistem peredaran darah tertutup. Sebagai gantinya, mereka memiliki saluran berbentuk panjang dan tipis di sepanjang bagian atas tubuhnya yang disebut
"aorta punggung" yang fungsinya mirip dengan jantung. sistem saraf semut terdiri dari sebuah semacam otot saraf ventral yang berada
di sepanjang tubuhnya, dengan beberapa buah ganglion dan cabang yang berhubungan dengan setiap bagian dalam tubuhnya.
2.3.4 Tungau
Gejala :
Dari kejauhan daun terlihat berwarna abu-abu karena cairan daunnya dihisap
tungau. Bila musim kemarau lebih banyak lagi tungau yang menyerang. Karena tak
begitu berbahaya, hama ini kurang ditakuti.
Pengendalian :
Penggunaan akarisida, seperti
Meotrin 50 EC yang mengandung bahan aktif fenpropatrin atau Roxion 40 EC yang
mengandung bahan aktif dimetoat. Konsentrasinya 2 ml/l air. Penyemprotan
dimulai sejak tanaman berumur 9 minggu hingga 2 minggu sebelum panen dengan
selang waktu seminggu sekali.
BAB III. METODE
PRAKTEK
3.1
Waktu dan Tempat
Praktek dasar – dasar ekologi pada tanaman bawang
merah (Allium cepa) ini dilaksanakan
pada tanggal 14 Desember 2014 di desa Sidera, kecamatan Biromaru, kabupaten
Sigi, Sulawesi Tengah.
3.2 Alat dan Bahan
Alat
yang digunakan pada praktikum ini adalah gelas aqua, tali rafiah, tissue,
plastic, kertas label, jaring, roll film, meteran. Sedangkan Bahan yang
digunakan pada praktikum ini adalah alcohol, detergen dan Air.
3.3 Cara Kerja
Menenttukan lokasi praktek dilahan
pertanian baik itu tanaman tahunan dan musiman, diawali dengan membuat petakan
di pagi hari berkisaran waktu jam 7 atau jam 8, dengan petakan ukukuran 1x1,2x2,3x3.dengan
menggunakan meteran yang dibentangkan di lahan tanaman bawang sesuai dengan
ukuran petakan dan ditandai dengan tali rafia yang setiap sudut petakan
dipasangkan patok agar petakan dapat berbetuk segi empat atau dijadikan tiang
pengikata tali, setelah petakan dibuat pasang perangkap yang disiapkan dalam
bentuk gelas air meneral yang berisikan deterjen berguna untuk memudahkan
serangga terjebak dalam prankap dan prangkap tersebut dinaungin dengan seng
yang buat mirip dengan cangkul.
Keesokan
harinya dilanjutkan dengan mencatat jumlah tumbuhan dan gulma yang terdapat
pada setiap petak, memindahkan serangga yang terjebak dalam prangkap ke roll
film dengan menggunakan kuas, selanjutnya menangkap hewan yang terdapat pada
setiap petak dengan menggunakan jaring serangga kemudian hasil tangkapan di
diawetkan dengan alkohol.
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Dari pengamatan
yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut :
a. Gulma
yang ada didalam plot ada 3 spesies :
1. Rumput
Teki (Cyperus rotundus L.)
2. Asystasia
gangetica L.
3. Rumput
Mutiara (Hedyotis corymbosa .L)
b. Serangga
Yang Di Dapatkan Dalam Jebakan Serangga
1. Tungau
2. Hama
Ganjur (Orseolia oryzae)
3. Semut
c. Hama
yang di peroleh dalam jaring
1
Tungau
2
Hama Ganjur (Orseolia oryzae)
3
Ulat Grayak (Spodoptera axigua)
d. Tabel Hasil pengamatan
1. Tanaman dalam plot pengamatan
|
No
|
Nama tanaman
|
Plot 1
|
Plot 2
|
Plot 3
|
Jumlah
|
|
1.
|
Bawang Merah
|
60
|
149
|
342
|
551
|
2. Hama yang Terkena Jebakan
|
No
|
Spesies Hama
|
PLOT A
|
PLOT B
|
PLOT C
|
Jumlah
|
|
1
|
Tungau
|
13
|
11
|
21
|
45
|
|
2
|
Ganjur
|
-
|
1
|
3
|
4
|
|
3
|
Semut
|
10
|
7
|
13
|
30
|
|
4
|
Jumlah
|
23
|
19
|
37
|
79
|
3. Hama yang Terkena Jaring
|
No
|
Spesies Hama
|
PLOT A
|
PLOT B
|
PLOT C
|
Jumlah
|
|
1
|
Tungau
|
8
|
6
|
14
|
28
|
|
2
|
Ganjur
|
-
|
3
|
2
|
5
|
|
3
|
Ulat Grayak
|
2
|
1
|
-
|
3
|
|
4
|
Jumlah
|
10
|
10
|
16
|
36
|
4. Gulma yang dijumpai dalam plot
|
No
|
Spesies Hama
|
PLOT A
|
PLOT B
|
PLOT C
|
Jumlah
|
|
1
|
Teki
|
51
|
5
|
55
|
111
|
|
2
|
Rumput Mutiara
|
75
|
4
|
85
|
164
|
|
3
|
Asystasia gangetica
|
-
|
2
|
3
|
5
|
|
4
|
Jumlah
|
126
|
11
|
143
|
280
|
Analisis
Data
a.
Parameter
Vegetasi
Analisa
Vegetasi merupakan cara mengetahui seberapa besar sebaran berbagai spesies
dalam suatu area melakukan pengamatan langsung.Dilakukan dengan membuat plot
dan mengamati morfologi serta identifikasi vegetasi yang ada.
1. Tabel indeks Hama yang masuk ke
dalam perangkap
·
PLOT
A
|
No
|
Spesies Hama
|
Ni
|
Pi
|
Lnpi
|
pi(Lnpi)
|
|
|
1
|
Tungau
|
13
|
0,57
|
-0,57
|
-0,32
|
|
|
2
|
Ganjur
|
-
|
|
|
|
|
|
3
|
Semut
|
10
|
0,43
|
-0,83
|
-0,36
|
|
|
4
|
Jumlah
|
23
|
|
|
||
·
PLOT
B
|
No
|
Spesies Hama
|
Ni
|
pi
|
Lnpi
|
pi(Lnpi)
|
|
|
1
|
Tungau
|
11
|
0,58
|
-0,55
|
-0,32
|
|
|
2
|
Ganjur
|
1
|
0,05
|
-2,94
|
-0,15
|
|
|
3
|
Semut
|
7
|
0,37
|
-1,00
|
-0,37
|
|
|
4
|
Jumlah
|
19
|
|
|
||
·
PLOT
C
|
No
|
Spesies Hama
|
Ni
|
pi
|
Lnpi
|
pi(Lnpi)
|
|
|
1
|
Tungau
|
21
|
0,57
|
-0,57
|
-0,32
|
|
|
2
|
Ganjur
|
3
|
0,08
|
-2,51
|
-0,20
|
|
|
3
|
Semut
|
13
|
0,35
|
-1,05
|
-0,37
|
|
|
4
|
Jumlah
|
37
|
|
|
||
2. Tabel indeks Hama yang masuk ke ayunan
jaring
·
PLOT
A
|
No
|
Spesies Hama
|
Ni
|
pi
|
Lnpi
|
pi(Lnpi)
|
|
|
1
|
Tungau
|
8
|
0,80
|
-0,22
|
-0,18
|
|
|
2
|
Ganjur
|
-
|
|
|
|
|
|
3
|
Ulat Grayak
|
2
|
0,20
|
-1,61
|
-0,32
|
|
|
4
|
Jumlah
|
10
|
|
|
||
·
PLOT
B
|
No
|
Spesies Hama
|
Ni
|
pi
|
Lnpi
|
pi(Lnpi)
|
|
|
1
|
Tungau
|
6
|
0,60
|
-0,51
|
-0,31
|
|
|
2
|
Ganjur
|
3
|
0,30
|
-1,20
|
-0,36
|
|
|
3
|
Ulat Grayak
|
1
|
0,10
|
-2,30
|
-0,23
|
|
|
4
|
Jumlah
|
10
|
|
|
||
·
PLOT
C
|
No
|
Spesies Hama
|
Ni
|
pi
|
Lnpi
|
pi(Lnpi)
|
|
1
|
Tungau
|
14
|
0,88
|
-0,13
|
-0,12
|
|
2
|
Ganjur
|
2
|
0,13
|
-2,08
|
-0,26
|
|
3
|
Ulat Grayak
|
-
|
0,00
|
0,00
|
0,00
|
|
4
|
Jumlah
|
16
|
|
|
|
3. Tabel indeks Keanekaragaman Gulma
·
PLOT
A
|
No
|
Nama Spesies
|
Ni
|
Pi
|
Ln Pi
|
Pi(LnPi)
|
|
1
|
Teki
|
51
|
0,40
|
-0,90
|
-0,37
|
|
2
|
Rumput Mutiara
|
75
|
0,60
|
-0,52
|
-0,31
|
|
3
|
Asystasia gangetica
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
4
|
Jumlah
|
126
|
H'
|
|
|
·
PLOT
B
|
No
|
Nama Spesies
|
Ni
|
Pi
|
Ln Pi
|
Pi(LnPi)
|
|
1
|
Teki
|
5
|
0,45
|
-0,79
|
-0,36
|
|
2
|
Rumput Mutiara
|
4
|
0,36
|
-1,01
|
-0,37
|
|
3
|
Asystasia gangetica
|
2
|
0,18
|
-1,70
|
-0,31
|
|
4
|
Jumlah
|
11
|
|
|
|
·
PLOT
C
|
No
|
Nama Spesies
|
Ni
|
Pi
|
Ln Pi
|
Pi(LnPi)
|
|
1
|
Teki
|
55
|
0,38
|
-0,96
|
-0,37
|
|
2
|
Rumput Mutiara
|
85
|
0,59
|
-0,52
|
-0,31
|
|
3
|
Asystasia gangetica
|
3
|
0,02
|
-3,86
|
-0,08
|
|
4
|
Jumlah
|
143
|
|
|
|
Perhitungan :
1. Indeks keanekaragaman hama yang
terperangkap dalam perangkap menggunakan indeks shanon-wiener(H’)
·
H’
pada plot A
H’= -∑ pi.(Ln pi)
H’= -∑
H’= -∑{-0,32+(-0,36)+0)}
H’= 0,68
·
H’
pada plot B
H’= -∑ pi.(Ln pi)
H’= -∑
H’= -∑{-0,32+(-0,15)+(-0,37)}
H’= 0,84
·
H’
pada plot C
H’= -∑ pi.(Ln pi)
H’= -∑
H’= -∑{-0,32+(-0,20)+(-0,37)}
H’= 0,89
Indeks
keanekaragaman artrhropoda menggunakan indeks soerenson
·
PLOT
A – PLOT B
Cs =
Cs =
Cs =
Cs = 9.5%
·
PLOT
B – PLOT C
Cs =
Cs =
Cs =
Cs = 10.7%
·
PLOT
A – PLOT C
Cs =
Cs =
Cs =
Cs = 6.67%
2. Indeks keanekaragaman hama dalam
ayunan jaring menggunakan shanon-wiener(H’)
·
H’
pada plot A
H’= -∑ pi.(Ln pi)
H’= -∑
H’= -∑{-0,18+0+(-0,32)}
H’= 0,50
·
H’
pada plot B
H’= -∑ pi.(Ln pi)
H’= -∑
H’= -∑{-0,31+(-0,36)+(-0,23)}
H’= 0,90
·
H’
pada plot C
H’= -∑ pi.(Ln pi)
H’= -∑
H’= -∑{-0,12+(-0,26)
H’= 0,38
Indeks
keanekaragaman artrhropoda menggunakan indeks soerenson
·
PLOT
A – PLOT B
Cs =
Cs =
Cs =
Cs = 20%
·
PLOT
B – PLOT C
Cs =
Cs =
Cs =
Cs = 15.3%
·
PLOT
A – PLOT C
Cs =
Cs =
Cs =
Cs = 7.6%
3. Indeks keanekaragaman tumbuhan Gulma
menggunakan indeks shanon-wiener(H’)
·
H’
pada plot A
H’= -∑ pi.(Ln pi)
H’= -∑
H’= -∑{-0,37+(-0,31)}
H’= 0,68
·
H’
pada plot B
H’= -∑ pi.(Ln pi)
H’= -∑
H’= -∑{-0,36+(-0,37)+(-0,31)}
H’= 1,04
·
H’
pada plot C
H’= -∑ pi.(Ln pi)
H’= -∑
H’= -∑{-0,37+(-0,31)+(-0,08)}
H’= 0,76
Indeks
keanekaragaman artrhropoda menggunakan indeks soerenson
·
PLOT
A – PLOT B
Cs =
Cs =
Cs =
Cs = 2,9%
·
PLOT
B – PLOT C
Cs =
Cs =
Cs =
Cs = 3.9%
·
PLOT
A – PLOT C
Cs =
Cs =
Cs =
Cs = 1.48%
4.2
Pembahasan
Dari hasil pengamatan
praktikum dasar-dasar ekologi yang di laksanakan di desa sidera, kecamatan sigi
biromaru, kabupaten sigi. Dilihat plot dengan kerapatan tanaman masing-masing,
tanaman dan gulma hidup bersandingan, terlihat sangat tidak teratur dan
pertumbuhan tanaman tidak maksimal.
Ekologi tiap plot
beraneka ragam, tanaman hidup dengan membutuhkan senyawa organik dari tanah,
gulma pun ikut hidup dari mengambil unsur organik tanah, antara tanaman dan
gulma yang ada saling berkompetensi untuk hidup di ekosistem yang sama. Hama
dan serangga lain pun ikut hadir untuk mengambil makanan dari tanaman dan hidup
mengganggu pertumbuhan tanaman.
Berdasarkan hasil pengamatan dari data
arthropoda pada plot 1,2, dan 3 diperoleh hasil analisis keanekaragaman
arthropoda menggunakan Indeks Shannon-Wiener
sebesar 0,68 pada plot 1,dan 0,84
pada plot 2, serta 0,89 pada plot 3. Hal ini menunjukan
bahwa kenanekaragaman arthropoda yang tinggi terdapat pada plot 3 dan yang
terendah terdapat pada plot 1. Menurut analisis keanekaragaman arthropoda menggunakan Indeks soerenson diperoleh nilai dominansi 9,5% pada plot 1dan 2, dan 10,7% pada plot 2 dan plot 3,
serta 6,67% pada plot 1 dan plot 3.
Hal ini menunjukan hasil pada plot 2 dan 3 menunjukkan
keanekaragaman arthropoda yang tinggi.
Dari ekosistem kecil yang kami amati,
ada spesies yang mendominasi dan ada spesies yang membutuhkan adanya spesies
lain. Gulma sebagai spesies yang mendominasi mengambil lebih banyak unsur
organik tanah dan sebagai tempat hidup para hama dan serangga yang mengganggu
tanaman. Tanpa adanya perlakuan, tanaman yang di tanam di plot-plot tersebut
akan tersainggi pertumbuhannya bahkan mati.
BAB V.KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktek
yang dilakukan, kami dapat mengetahui bahwa
1.
Ekosistem yang
kami amati terdapat beberapa spesies tanaman, gulma dan serangga
2.
Ada spesies
gulma yang mendominasi
3.
Spesies gulma
dan tanaman saling berkompetisi untuk hidup dalam ekosistem yang sama
5.2 Saran
Diharapkan pada praktek
selanjutnya alat-alat yang akan digunakan lengkap, supaya pratikan dapat
melaksanakan praktikum dengan baik dan cepat.
DAFTAR PUSTAKA
Sukamto, 2012. rumput-mutiara-rumput-mutiara-hedyotis.
http://sukamto-smp1mny.blogspot.comDiakses pada
17 desember 2013
Tutor junior, 2009. Babadotan ageratum conizoides. http://tutorjunior.blogspot.com
Diakses pada 17 Desember 2013
Umy, 2013. Morfologi dan
klasifikasi tumbuhan. http://blog.umy.ac.id
Diakses pada 16 desember 2013
Ellynk, 2010. Serangga tanaman semusim. http://ellynk.damayanti.staff.ipb.ac.idDiakses pada 18 Desember 2013
s