I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah
adalah bagian dari permukaan bumi yang terbentuk dari bahan induk (P) yang
telah mengalami proses pelapukan akibat pengaruh iklim (C) terutama faktor
curah hujan, suhu dan pengaruh aktivitas organisme hidup (O) termasuk vegetasi,
organisme (manusia) pada suatu topografi (R) atau relief tertentu dalam jangka
waktu (T) tertentu pula.
Seorang pembuat patung menganggap tanah sebagai bahan
utama dalam pembuatan patung-patungnya. Lain halnya dengan seorang ahli tambang
yang menganggap tanah sebagai sesuatu yang menghalangi kerj mereka oleh karena
menutupi batuan atau mineral yang harus mereka gali. Demikian pula halnya
dengan seorang ahli jalan yang menganggap tanah sebagai bagian permukaan bumi
yang lembek sehingga perlu dipasang batu-batu di permukaannya agar menjadi
kuat. Ibu-ibu rumah tangga menganggap tanah sebagai biang penyebab kotornya
sepatu, lantai, karpet.
Secara fisik, tanah tersusun bahan mineral dan bahan
organik dalam berbagai ukuran. Partikel mineral dan bahan organik mengisi
matriks tanah sekitar 50% volume. Sisanya terdiri atas ruang pori, yang terisi
air dan atau udara. Proporsi air dan udara berubah-uabah secara dinamis menurut
kondisi keairan lingkungan tanah. Hal ini membentuk sistem 3 fase yaitu
padatan, cair dan gas. Hampir di semua penggunaan tanah sangat dipengaruhi oleh
sifat-sifat fisik tanah. Tekstur tanah menunjukkan
perbandingan relatif antara fraksi tanah baik pasir, debu, dan liat.
1.2. Tujuan dan
Kegunaan
Tujuan dari
Dasar Dasar Ilmu Tanah adalah untuk mengetahui
Kadar Air yang terkandung dalam tanah,Permeabilitas,Bulk Density,Ruang
Pori Total Tanah,Tekstur Tanah, Reksi Tanah, C-organik, dan Kapasitas Tukar
Kation.
Kegunaan
dari praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah ini Untuk memberikan penetahuan tentang
Kadar Tanah pada setiap jenis tanah, Permeabilitas, Bulk Density, Ruang Pori
Total, Tekstur Tanah, Reaksi Tanah, C-organik,dan Kapasitan Tukar Kation Tanah
pada setiap jenis tanah yang ada di daerah masing-masing.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kadar Air Tanah
Kadar air tanah adalah konsentrasi
air dalam tanah yang biasanya dinyatakan dengan berat kering. Kadar air pada
kapasitas lapang adalah jumlah air yang ada dalam tanah sesudah kelebihan air
gravitasi mengalir keluar dan dengan nyata, biasanya dinyatakan dengan
persentase berat. Kadar air pada titik layu permanen adalah yang dinyatakan dengan persentase
berat kering.
Kadar air dinyatakan dalam % volume,
yaitu persentase volume tanah.Cara ini memberikan keuntungan karena dapat
memberikan gambaran terhadap ketersediaan air bagi tumbuhan pada volume
tertentu. Cara penentuan kadar air dapat digolongkan dalam cara Gravimetrik,
tegangan dan hisapan, tumbuhan, listrik serta pembaruan neutron.
Kadar air yang tersedia dalam tanah didasarkan pada kenyataan bahwa jumlah air
maksimum yang dapat disimpan dalam tanah adalah air yang ditahan pada saat
kapasitas lapang dimana tanaman hanya dapat menurunkan kandungan air tanah
sampai batas titik layu permanen. Atas dasar itu maka jumlah air yang dapat
ditahan antar kapasitas lapang dan titik layu permanen serta kelebihan air yang
terikat pada kapasitas lapang tidak menguntungkan lagi bagi tanaman tingkat
tinggi (Pairunan.1985).
2.2 Permeabilitas Tanah
Permeabilitas merupakan
kemudahan cairan,gas, dan akar menembus tanah. Permeabilitas tanah untuk air
merupakan konduktuvitas hidraulik. Berbagai macam kelas-kelas konduktivitas
hidraulik untuk gerakan vertical diketahui dealam tanah jenuh air.
Permeabilitas adalah sifat yang
menyatakan laju pergerakan zat cair melalui suatu media yang berpori-pori dan
disebut jugan konduktifitas hidrolik. Dalam hal ini cairan adalah air tanah dan
media berpori adalah tanah itu sendiri. Permeabilitas terbagi menjadi 2 macam
yaitu pada tanah jenuh air dan permeabilitas tanah tidak jenuh air.
2.3 Bulk Density
Bulk Density merupakan berat suatu
massa tanah persatuan volume tertentu, dimana volume kerapatan tanah termasuk
didalamnya adalah ruang pori. Yang satuannya adalah grm/cm3. Bulk Density
merupakan petunjuk kepadatan tanah. Makin padat suatu tanah maka nilai dari
Bulk Densiti
juga semakin tinggi, ini berarti makin sulit pula meneruskan air atau makin
sulit ditembus oleh akar tanaman (Hardjowigeno, 2002).
Tanah
yang lebih padat mempunyai nilai bulk density yang lebih besar dari tanah yang
sama tetapi kurang padat. Pada umumnya, tanah lapisan atas pada tanah mineral
mempunyai kandungan Bulk Density yang lebih rendah dibandingkan dengan tanah
dibawahnya.
Bulk Density
suatu tanah bila besar nilainya berarti jumlah unsur hara yang dibutuhkan oleh
tanaman belum mencukupi atau masih dalam jumlah yang kurang bagi pertumbuhan,
maka disinilah kita menggunakan pupuk untuk memenuhi kebutuhan tanaman sebelum
kita mengolah tanah. Untuk mengetahui beberapa jumlah pupuk yang akan
dibutuhkan tanaman, maka sebelumnya kita perlu mengetahui beberapa Bulk Density
tanah yang akan kita gunakan (Pairunan, dkk, 1985).
Bulk Density dinyatakan sebagai
perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah. Suatu kecenderungan
yang jelas bahwa Bulk Density atau kerapatan massa akan naik jika makin masuk
dalam profil tanah. Tampaknya akibat dari kandungan bahan organik tanah yang
rendah.Kurangnya agregat dan penembusan akar serat padatan yang disebabkan
berat lapisan diatasnya. Pengolahan tanaman dan tanah tertentu akan
mempengaruhi kerapatan massa, terutama lapisan permukaan (AliKemas, 2005).
Air dalam tanah mengalir kebawah
dengan gaya perkolasi sesuai dengan gavitasi bumi. Hal ini disebabkan oleh
sifat air yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi ketempat yang lebih
rendah (Munif,1986).
2.4 Ruang Pori Total
Tanah
Ruang pori
total adalah volume dari tanah yang ditempati oleh udara dan air. Persentase
ruang pori total disebut Porositas. Untuk menentukan
porositas ”Cores”, tanah ditempatkan pada tempat berisi air sehingga jenuh dan
kemudian ”Cores” ditimbang. Perbedaan berat antara keadaan jenuh dan cores yang
kering oven merupakan volume ruang pori untuk tanah (AliKemas, 2005).
Ruang
pori-pori tanah adalah bagian yang diduduki udara dan air. Jumlah ruang pori-pori
ini sebagian besar ditentukan oleh susunan butiran-butiran padat. Kalau letak
satu sama lain erat seperti pasir atau subsoil yang porositasnya rendah. Kalau
tersusun dalam agregat yang tergumpal bahan organiknya, ruang pori per satuan
volume akan tinggi (Buckman dan Brady, 1982).
udara dan air kapiler sehingga disebut
juga pori kapiler. Pori mampu menahan air dalam tanah. Tanah yang baik adalah
yang seimbang antara pori aerasi dan pori kapilernya (Hardjowigeno, S. 1992).
Air tersimpan
atau tertekan dalam pori karena adanya gaya kapiler. Pori-pori besar yang tidak
menahan air dengan gaya kapiler disebut dengan pori nonkapiler atau pori aerase
atau gaya-gaya kapiler yang dinamakan pori kapiler atau pori mikro. (Hakim,
dkk, 1986)
Pori tanah adalah bagian tanah yang tidak terisi
bahan padat tanah (terisi oleh udara dan air). Pori-pori tanah dapat dibedakan
menjadi pori-pori kasar dan pori-pori halus. Pori-pori kasar berisi udara atau
air gravitasi, sedangkan pori-pori halus berisi air kapiler atau udara.
Tanah-tanah pasir mempunyai pori-pori kasar lebih banyak daripada tanah liat.
Tanah ini sulit menahan air sehingga tanaman sering mengalami kekeringan.
Tanah-tanah liat mempunyai pori total lebih tinggi dari tanah berpasir.
Porosistas dipengaruhi oleh kandungan bahan organik, struktur tanah dan tekstur
tanah. Porositas tinggi jika bahan organik tinggi. Tanah dengan struktur
granuler atau remah porositas lebih tinggi dibanding yang berstruktur masif.
2.5 Tekstur Tanah
Tekstur tanah adalah keadaan tingkat
kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya perbedaan komposisi kandungan
fraksi pasir, debu dan liat yang terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nsasional). Dari ketiga jenis fraksi
tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 – 0.05
mm, debu dengan ukuran 0.05 – 0.002 mm dan liat dengan ukuran < 0.002 mm
(penggolongan berdasarkan USDA). Keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh
terhadap keadaan sifat tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas
tanah, porositsas
dan lain (Ali Kemas, 2005)
Sifat fisik tanah mempunyai banyak
kemungkinan untuk dapat digunakan sesuai dengan kemampuan yang dibebankan
kepadanya.Kemampuan untuk menjadi lebih keras dan menyangga kapasitas drainase,
menyimpan air,
Tekstur tanah menunjukkan kasar atau
halusnya suatu tanah.Teristimewa tekstur merupakan perbandingan relatif pasir,
debu dan liat atau kelompok partikel dengan ukuran lebih kecil dari kerikil.
Tekstur tanah sering berhubungan dengan permeabilitas, daya tahan memegang air,
aerase dan kapasitas tukar kation serta kesuburan tanah (Hardjowigeno, 1992).
2.6 Reaksi Tanah (pH
Tanah)
pH
tanah sangat penting karna Menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap
tanaman. Pada umumnya hara tanaman akan lebih mudah untuk diserap pada kisaran
pH netral oleh karena pada kisaran pH
tersebut kebanyakan unsur hara larut dalam air. pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan
tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien
aktivitas
ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya
didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia
bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan
berdasarkan persetujuan internasional.
Air
murni
bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0.
Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih
daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH sangatlah penting
dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia
seperti kimia, biologi, kedokteran, pertanian, ilmu
pangan,
rekayasa (keteknikan), dan oseanografi. Tentu saja bidang-bidang sains dan
teknologi lainnya juga memakai meskipun dalam frekuensi yang lebih rendah.
2.7 C-organik
Koloid organik utama adalah humus. Koloid organik
tersusun atas C, H dan O. Humus bersifat amorf, KTK tinggi dan lebih mudah
dihancurkan dibandingkan liat. Sumber muatan negatif humus adalah gugus
karboksil dan gugus fenol. Muatan humus adalah tergantung pH. Dalam keadaan
masam, H+ dipegang kuat oleh gugusan karboksil atau fenol dan menjadi lemah
ikatannya jika pH lebih tinggi.
Bahan organik berpengaruh terhadap sifat tanah
denagan daya penahan air yang akan berpengaruhi struktur tanah dan mendorong
aktifitas mikrobiologi tanah yang akan mempengaruhi struktur tanah. Bahan
organik merupakan sumber lansung dari unsure hara tanaman, dimana pelepasannya
tergantung dari aktivitas mikrobiologi,dan berpengaruh terhadap kapasitas tukar
katon(KTK).
Bahan organik merupakan bahan-bahan
yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah
menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air.
Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang
yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik
demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro.
Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus
selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.
Adapun sumber primer bahan organik
adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, dan buah. Bahan
organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur
karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini
berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti selulosa,
hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin dan lignin. Selain itu nitrogen
merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena
merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam proses
perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi
dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah.
Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik dari
seluruh makhluk hidup.
2.8 Kapasitas Tukar
Kation (KTK)
Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++,
K+, Na+, NH4+, H+, Al3+ dsb. Didalam tanah, kation-kation tersebut terlarut di
dalam air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation yang
dapat dijerap oleh tanah persatuan berat tanah dinamakan kapasitas tukar kation
(KTK). Hal tersebut disebut pertukaran kation.
Penetapan KTK di laboratorium
dilakukan dengan menggunakan dengan ekstraksi ammonium asetat pada pH 7 (NH4OAc
pH 7). Cara lain yaitu ekstraksi dengan garam netral (misalnya dengan 1 N KCl)
pada pH tanah yang sebenarnya, atau ekstraksi dengan barium klorida +
trietanolamin (BaCl2-TEA) yang disangga pada pH 8,2. Dengan cara ini kita akan
mendapatkan KTK tergantung pH, KTK efektif (Ali Kemas,2005).
METODE
PRAKTEK
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah, di laksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah jurusan Budidaya
Pertanian,Fakultas pertanian, Universitas Tadulako Palu, sejak tanggal 18
oktober - 8 November 2013.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Penetapan Kadar Air
Alat yang digunakan dalam percobaan ini
yaitu Ring untuk pengambilan sampel tanah, oven, eksibator, tungkai penjepit,
neraca analitik,dan cawan almunium atau petridis. Sedangkan bahan yang digunakan
yaitu sampel tanah,dan air.
3.2.2 Penetapan
Permeabilitas Tanah
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu
Parameter,Kran sumber air,Glass ukur,dan Jangka Sorong. Sedangkan bahan yang
digunakan yaitu Tanah dan Air.
3.2.3 Penetapan Bobot Isi
Tanah (Bulk Density)
Alat yang digunakan dalam
praktikum ini yaitu: Timbangan,Ring sampel,Jangka sorong,Cangkul atau
Sekop,Pisau,Oven,Tungkai Penjepit,dan Wadah atau cawan. Sedangkan bahan yang
digunakan yaitu : Tanah, dan Air.
3.2.4 Penetapan Ruang Pori
Total Tanah (POROSITAS)
Alat yang digunakan dalam
praktikum ini yaitu: Ring sampel,Cangkul atau Sekop,Oven,Eksikator,Timbangan
Analitik,dan Pisau. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu tanah dan Air.
3.2.5 Penetapan Tekstur
Tanah
Alat yang digunakan dalam
praktikum ini yaitu: Neraca analitik, Glass kimia , Ayakan, Bak Perendaman, Pipet
,Cawan Almunium, Oven, dan Pemanas listrik. Sedangkan bahan yang digunakan
yaitu: Hidrogen Peroksida(H2O2), HCL,Tanah dan Air.
3.2.6 Penetapan Reaksi
Tanah
Alat yang digunakan dalam
praktikum ini yaitu: Neraca Analitik,Botol kocok,Pipet Ukur,Glass Kimia,Mesin
Pengocok,Labu Semprot,dan pH meter. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu:H2O,
KCl,Tanah dan Air.
3.2.7 Penetapan C-organik
Alat yang digunakan dalam
percobaan ini yaitu:Timbangan Analitik,Buret,Pengaduk Magnit,Labu Ukur,dan
Erlemeyer. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu: Kalium dikronat(K2Cr2O7),
Ferro amonium sulfat(FeSO4(NH4)SO4.6 H2O)
atau Ferro sulfat ((FeSO4).7 H2O), Asam fosfat (H3PO4),
Natrium florida (NaF),Aqudes,dan Indikator difenilanin.
3.2.8 Penetapan Kapasitas
Tukar Kation Tanah(KTK)
Alat yang digunakan dalam
percobaan ini yaitu: Timbangan Analitik, Alat Penyuling Amonik, Pipet Ukur, Buret,
Corong, Wadah Penampung, Glass Kimia atau Botol Plastik. Sedangkan bahan yang
digunakan dalam percobaan Kapasitas Tukar Kation yaitu, Larutan NH4OAc(pH
7,0), Etanol (95%), Larutan NaOH(35%), Larutan H3BO3(4%),
HCL (0,1 N), dan Kertas Saring.
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Penetapan Kadar Air
Tanah
Mengambil contoh tanah
tidak utuh,dan meletakannya kedala cawan almunium.Menimbang tanah dengan
menggubakan neraca analitik dengan ketelitian 3-4 desimal. Memasukan contoh
tanah beserta tanahnya kedalam oven 150oC selama 24 jam. Kemudian menimbang
contoh tanah yang telah dioven sehingga mendapatkan nilai berat tanah kering+
cawan.Mengeluarkan tanah dari dalam cawan dan menimbang kembali cawan yang
telah bersih sehingga didapatkan nilai dari Berat Cawan. Masukanlah nilai dalam
rumus untuk menentukan Kadar Air Tanah.
3.3.2 Penetapan
Permeabilitas Tanah
Merendam contoh tanah beserta ring kedalam baki perendaman
selama 1 jam.Setelah contoh tanah jenuh
air, contoh tanah tersebut dipindahkan ke alat parameter kemudian dialiri air. Melakukan
Pengukuran jumlah air yang tertampung dilakukan
selama 1 jam yang dibagi dalam 3 waktu pengukuran yaitu: 30 menit,15
menit, dan 15 menit. Setelah selesai, contoh tanah dikeluarkan dari ring sampel
kemudian mengukur tinggi dan diameter ring sampel serta tinggi head air.
3.3.3 Penetapan Bobot Isi
Tanah (BULK DENSITY)
Mengambil cintoh tanah utuh
dilapangan dengan menggunakan ring sampel. Meratapkan ujung atas dan bawah ring
sehingga permukaan tanah benar-benar rata dengan permukaan ujung ring.
Meletakan contoh tanah basah kedalam cawan almunium dan selanjutnya memasukan
kedalam oven untuk dipanaskan selama 24 jam pada suhu 105oC.
Mengeluarkan contoh tanah dengan hati-hati bersama dengan wadahnya dengan
menggunakan tungkai penjepit,dan kemudian masukan kedalam eksikator hingga
dingin. Menimbang contoh tanah beserta ringnya dengan menggunakan neraca
analitik ketelitian 2 desimal hingga
didapatkan nilai berat tanah kering dan berat ring. Membersihkan contoh tanah
dalam ring kemudian ditimbang kembali sehingga mendapatkan nilai dari berat
ring. Mengukur volume ring yang
digunakan sehingga diperoleh nilai V total Hitunglah Bulk Density tanah
tersebut.
3.3.4 Penetapan Ruang Pori
Total Tanah (POROSITAS)
Menentukan bobot isi
tanah(Bulk Density)Untuk nilai kepadatan partikel(partikel density) dipakai angka 2,65 (nilai Real Density). Hitunglah porositas tanah tersebut.
3.3.5 Penetapan Tekstur Tanah
Menimbang 5 gram contoh tanah yang
telah lolos ayakan 2 mn denag menggunakan neraca analitik dan selanjutnya
dimasukan kedalam beker glass atau erlemeyer.Menambahkan 100 ml H2O2
30% dan selanjutnya simpan dalam bak yang berisi air untuk menghindari
terjadinya reaksi yang hebat adul secara
hati-hati dan biarkan selama 1 malam.Panaskan diatas kompor listrik sambil ditambahkan hidrogen
feroksida,tambahkan HCl 6 N menggunakan pipet untuk mentukan peresentase CaCO3 dan tambahkan 100 ml HCL 0,2
N untuk melarutkan CaCO3.Selanjutnya tambahkan aquades kira-kira
setengan bagian dari beaker glass/erlemeyer.Didihkan selama 20 Menit kemudian
tambahkan lagi aquades samapi batas tiga
perempat bagian beaker glass,,lalu aduk secara hati-hati. Biarkan selama 1
malam untuk mengendapkan butiranMemisahkan pasir dari debu dan liat dengan
mengunakan ayakan ,selanjutnya fraksi
debu dan liat yang telah terpisah
ditampung kedalam glass ukur 1000 ml. Memindahkan fraksi pasir tersebut kedalam
cawan alumunium dan keringkan dalam oven selama 1 malam.Masukan 50 ml Calcon
kedalam glass ukur yang berisi fraksi debu dan liat dan tambahkan aquades
hingga batas tertera.
3.3.6 Penetapan Reaksi
Tanah (pH Tanah)
Menimbang 5-10 gr contoh tanah
sebanyak 2 kali,masing-masing masukan kedalam botol A dan B,ditambahkan
50 ml air bebas ion kedalam botol A dan 50 ml KCL (pH KCL) kedalam botol B
(voloume air dan KCL dapat berubah sesuai rasio pengukuran yang
digunakan.).Kocok dengan mesin pengocok selama 30 menit kemudian didiamkan
sampai contoh tanah mengenndap.
Kalibrasi pH meter yang akan digunakan dengan larutan buffer pH 4,0 dan pH 7.0.
Kemudian ukur pH larutan contoh tanah Nilai pH dilaporkan dalam 1 desimal.
3.3.7 Penetapan C-organik
Tanah
Menimbang 0,5 gram contoh tanah yang telah lolos ayakan 0,5
mm(0.05-0,1 gr unruk tanah organik/gambut) dan dimasukan kadalam erlemeyer 250
ml. Menambahkan 5 ml K2Cr2O7 1 N sambil
digoyang-goyang, kemudian tambahkan 10 ml H2SO4 dan
goyang secara perlahan. Setelah tercampur sempurna larutan didiyamkan selama
20-30 menit.Menambahkan 100 ml aquades, 5 ml Naf, 5 ml H3PO4,
dan 15 tetes larutan indikator difenilamin.Titrasi larutan dengan ferro amonium
sulfat 0,5 N atau ferro sulfat 1 N. Pada tahap awal ion krom berwarna hijua
redup,biru kotor dan titik akhir penitaran adalah hijau terang. Lakukan cara
yang sama dan waktu yang sama untuk blangko.
3.3.8 Penetapan Kapasitas
Tukar Kation
Menimbang tanah kering
udara yang lolos ayakan 0,5 mm dan dimasukan kedalam wadah/botol
plastik.Menambahkan 25 ml larutan NH4AOc 1 N pH 7,0 dan
aduk dengan batang pengaduk dan diamkan selama 1 malam.Saring dengan kertas
saring pada corong dan tumpang fitratnya dengan wadah lain.Memindahkan semua
tanah botol keatas kertas saring dengan cara membilas sisa-sisa tanah tersebut
dengan larutan NH4Oac dari botol semprot atau pipet ukur.Mencuci
tanah pada kertas saring dengan 20-30 ml larutan NH4Oac dan biarkan
sampai mendrianase sempurna. Ulangi pencucian selama beberapa kali.Pindahkan
tanah dan kertas saring kedalam labu Kjedahl 800 ml lalu tambahkan 200 ml aquades. Pipet 25 ml H3BO4
kedalam erlemeyer 250 ml. Pasang labu Kjedahl pada alat destilasi. Lepaskan
erlemeyer dan titra isinya dengan HCL 0,1 N hingga warna hijua berubah menjadi
warna merah muda.Gunakan blanko dengan mendestilasi aqudes dengan pereaksi sama
dengan contoh tanah.
IV. HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Penetapan Kadar Air
Tanah
Berdasarkan
hasil praktikum tentang penetapan kadar air didapatkan hasil sebagai berikut :
Diketahui:
BTBA= 25,2 gr BTBB=
24,5 gr
BTKOA=
24,8 gr BTKOB= 24,5 gr
BCWA=
10,20 gr BCWB= 9,50 gr
Ditanyakan
W....?
Penyelesaian!
WA = (BTBA+BCWA)
– (BTKO+BCWB) X 100%
(BTKO+BCW)-BCW
= (25,2 – 24,8) x 100% = 2,74%
24,8
-10,20
WB = 24,5 +
24 x 100% = 19%
24,5 – 9,50
Jadi W = WA+
WB
2
= 22.19 = 11,09%
2
4.1.2 Permeabilitas Tanah
=
= 25,2 x 0,8 x 0,048 = 8,064 cm/jam
4.1.3 Bulk Density
Diketahiu : BTKO = 468,90 gr r =
2,65
Brg = 285,10
Vtotal = 134,46
Î = 3,14
t = 5,9
diameter= 5,3
Vtotal= 134,46
Ditanya :
Bulk Density
Penyelesaiann
BD
=1,360 gr/m3
4.1.4 Porositas Tanah
Penyelesaian:
Porositas = {(10
) x 100% }
={(10-
}
= 48,68%
4.1.5 Tekstur Tanah
|
Fraksi
|
Berat cawan
|
Berat cawan+fraksi
|
Berat akhir
|
|
Pasir kasar
|
10,4018
|
12,0048
|
1,6030
|
|
Pasir halus
|
10,3339
|
11,3620
|
1,0281
|
|
0
|
50,7634
|
50,8459
|
0,0825
|
|
5
|
6,6292
|
6,6435
|
0,0143
|
|
17
|
5,6112
|
5,3417
|
0,0070
|
|
50
|
5,3353
|
5,3417
|
0,0064
|
Pasir : 61,9
Debu : 23,1
Liat : 14,9
Jadi kelas tekstur pada tanah yaitu Lempung
Berpasir.
4.1.6 Reaksi Tanah (pH
Tanah)
1.
Tanah yang ditambahkan dengan larutan KCL memiliki pH=7,20
2.
Tanah yang ditambahkan H2O = 8,22
4.1.7 Penetapan C-organik
Diketahui : blanko: 9
Titrasi : 7,5
N FeSO4= 1 N
Bahan C-organik: 0,55
Ditanya: C-organik?
C-organik =
=
=
x 1 x 0,38
= 1,036%
% bahan organik = 1,724 x C-organik
= 1,724 x 1,03
= 1,77
4.1.8 Kapasitas Tukar
Kation
Diketahui : t =Volume HCL=
1,64
b
=Volome Titra Blangko = 0,32
N
= 0,1
W
= 1 gr
Ditanyakan
KTK?
Penyelesaian
KTK=
t-b x N HCL
= 1,64 x 0,32 x 0,1 x
=13,2
4.2 Pembahasan
4.2.1 Kadar Air Tanah
Dari hasil percobaan yang
kami lalukan dilaboratorium bahwa Kadar Air tanah yang berasal dari Tatura
Utara Kec. Palu Selatan mengandung kadar air dengan jumlah 11,9 dimana
penentuan kadar air tanah dengan menggunakan alat yang ada di Lab. Kandungan
air tanah antara kapasitas lapangan dan titik layu permanen disebut total air
tanah tersedia (TAW, Total Available Water). Titik kritis adalah batas
minimum air tersedia yang dipertahankan agar tidak habis mengering diserap
tanaman hingga mencapai titik layu permanen. Titik kritis ini berbeda untuk
berbagai jenis tanaman, tanah, iklim serta diperoleh berdasarkan penelitian di
lapangan (Hanafiah, 2005).
4.2.2
Permeabilitas Tanah
Dari
percobaan yang kami lakukan bahwa Permeabilitas tanah yang berada di Tatura Utara Kec. Palu
Selatan yaitu 8,064 atau dapat dikatakan tanah
tersebut memiliki permabilitas yang agak cepat. Permeabilitas merupakan kemudahan
cairan,gas, dan akar menembus tanah. Permeabilitas tanah untuk air merupakan
konduktuvitas hidraulik. Berbagai macam kelas-kelas konduktivitas hidraulik
untuk gerakan vertical diketahui dealam tanah jenuh air.
4.2.3
Bulk Density
Dari
hasil Percobaan yang kami lakukan dilaboratorium bahwa Bulk Density pada tanah
yang diteliti menghasilkan 1,360. Bobot isi tanah menunjukkan perbandingan
antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume pori-pori
tanah.Makin padat tanah maka makin tinggi bulk density yang berarti makin sulit
untuk meneruskan air atau ditembus akar tanaman. Pada umumnya, bobot isi tanah
berkisar antara 1,1-1,6 g/cm3. Bulk density berbeda dengan particle density (kerapatan
jenis zarah).
4.2.4
Porositas Tanah
Dari
hasil perciobaan Porositas Tanah atau yang dikenal dengan Ruang pori total
tanah bahwa Porositas tanah yang berasal
dari Tatura Utara Kec. Palu Selatan pada percobaan
ini kami mandapatkan hasil tanah tersebut memiliki hasi 48,68%. Tanah-tanah
pasir mempunyai pori-pori kasar lebih banyak daripada tanah liat. Tanah ini
sulit menahan air sehingga tanaman sering mengalami kekeringan. Tanah-tanah
liat mempunyai pori total lebih tinggi dari tanah berpasir.
4.2.5
Tekstur Tanah
Dari
hasil percobaan Tekstur tanah yang kami lakukan dilaboratorium bahwa Berat cawan pada setiap fraksi sebelum di isi
dengan masing-masing pasir yang telah mengalami prose yang cukup panjang yaitu
pemanasan air dan pencamburan berbagai jenis larutan yang digunakan dalam
percobaan ini maka berat cawan yang dihasilkan berbeda dengan cawan yang sudah
terisi dan dikeringkan di dalam oven selama 1 malam sehingga menghasilkan
fraksi pada setiap cawan berbeda.
4.2.6
Reaksi Tanah
Dari
hasil percobaan Reaksi Tanah yang kami lakukaan dilaboratorium bahwa tanah yang
telah dicampurkan dengan larutan KCL dan dimasukan kedalam mesin pemutar dan
kemudian diendapkan selama 5 menit, kemudian dilakukan pengukuran dengan
menggunakn pH meter ternyata pH yang di dapatkan adalah 7,5 maka pH tanah
tersebut dapat dikatakan netral.
4.2.7
C-Organik
percobaan
C-organik Tanah dilaboratorium bahwa dengan menambahkan K2Cr2O7
dan Dari hasil H2SO4 kedalam labu yang telah terisi
dengan tanah menghasilkan warna yang agak kehitaman setelah larutan tersebut
didiamkan selama 30 menit lalu ditambahkan kembali dengan larutan aquades dan arutan
indikator hingga larutan tersebut berubah warna menjadi hitam. Setelah itu
larutan dititrasi dengan menggunakan larutan ferro ammonium sulfat hingga
berubah warna menjadi hijau redup dan sampai titik akhir warna yang di hasilkan
adalah warna hijau.
4.2.8
Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Dari Hasil percobaan Kapasitas tukar kation tanah
yang kami lakukan bahwa KTK adalah salah satu sifat kimia tanah atau biasa
disebut sebagai koloid tanah yang bermuatan positif. KTK yang kami hasilkan
selama waktu yang ditentuka adalah KTK yang telah mengalami titrasi dengan
pencampuran HCl pada sampel tanah selama 5 menit yaitu 13,2. Di Indonesia, pH
tanah berkisar antara 3 hingga 9. Tanah-tanah pada umumnya bereaksi masam
dengan pH 4,0-5,5 sehingga tanah-tanah yang mempunyai pH 6,0-6,5 sering
dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.1.1
Kadar Air Tanah
Berdasarkan
data dilaboratorium dapat disimpulkan bahwa Pada percobaan Tanah yang berasal dari daerah Tatura Utara Kec. Palu
Selatan yang telah dicampurkan dengan dengan
KCl memiliki pH netral karna pHnya 5,15. Sedangkan tanah yang dicampurkan H2O,
menghasilkan pH 5,1 dan dapat dikatakan bahwa tanah tersebut bersifat alkalis.
5.1.2
Permeabilitas Tanah
Berdasarkan
data dilaboratorium dapat disimpulkan bahwa Pada percobaan permeabilitas tanah,
tanah yang dialiri dengan air melalui pipa yang telah disediakan agak cepat.
Penetapan kadar air tanah dan permeabilitas tanah tergantung dari pori-pori
tanah yang diamati.
5.1.3
Bulk Density
Berdasarkan
data dilaboratorium dapat disimpulkan bahwa Pada Percobaan yang kami lakukan
dilaboratorium bahwa Bulk Density pada tanah yang diteliti menghasilkan 1,360.
5.1.4
Porositas Tanah
Dari
hasil perciobaan Porositas Tanah atau yang dikenal dengan Ruang pori total
tanah bahwa Porositas tanah yang berasal
dari Tatura Utara Kec. Palu Selatan pada percobaan
ini kami mandapatkan hasil tanah tersebut memiliki hasi 48,68%.
5.1.5
Tekstur Tanah
Berdasarkan
percobaan dilaboratorium dapat disimpulkan Tanah yang berasal dari Palu Selatan
memiliki Tekstur Tanah criteria lempung berpasir.
5.1.6
Reaksi Tanah
Tanah
yang berasal dari daerah Tatura Utara Kec. Palu Selatan
yang telah dicampurkan dengan dengan KCl memiliki pH netral karna pHnya 5,15.
Sedangkan tanah yang dicampurkan H2O, menghasilkan pH 5,1 dan dapat
dikatakan bahwa tanah tersebut bersifat alkalis.
5.1.7
C-Organik
Berdasarkan
hasil pengamatan dapat disimpulkan bahw C-Organik atau Ph tanah menunujukkan pH
meter jika dibawah 7,0 menunjukkan sifat kemasaman sedangkan diatas 7,0
menujukkan sifat kebasaan.
5.1.8
Kapasitas Tukar Kation
Berdasarkan
data dilaboratorium dapat disimpulkan bahwa Tanah yang berasal dari daerah Tatura Utara Kec. Palu
Selatan memiliki kapasitas tukar kation yang
rendah dimana kapasitas adalah 13,2.
5.2 Saran
Sebaiknya dalam praktikum Porositas
digunakan juga tanah alfisol dengan berbagai lapisan agar dapat menjadi
perbandingan antara nilai porositasnya dan sebaiknya menggunakan lebih dari satu
lapisan tanah agar dapat dibandingkan lapisan mana yang mengalami bulk density
lebih tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Kemas, 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Buckman dan brady.1982. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Hakim, N. M.dkk. 1986.Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
Universitas Lampung.
Hanafiah. 2005. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo
Persada , Jakarta.
Hardjowigeno, H. Sarwono. 1992. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo,
Jakarta
Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. PT.
Dunia PusatakaJaya,
Jakarta.
Pairunan, dkk, 1985.Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Perguruan Tinggi Negeri
IndonesiaTimur, Makassar.
BIODATA PENYUSUN
|
|
Jenjang
pendidikan yang telah dilalui penulis yaitu
pendidikan sekolah dasar pada tahun 2000 - 2006 di Sekolah SDN Inpres 2
Tatura. Kemudian melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama di SMP Negeri 4 Palu pada tahun
2006-2009. Pada tahun 2009 penulis melanjutkan ke sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Dolo dan selesai pada
tahun 2012. Penulis masuk Universitas
Tadulako pada tahun 2012 di Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi.