Friday, October 27, 2017

Laporanlengkap DASAR DASAR ILMU TANAH



 I.  PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Tanah adalah bagian dari permukaan bumi yang terbentuk dari bahan induk (P) yang telah mengalami proses pelapukan akibat pengaruh iklim (C) terutama faktor curah hujan, suhu dan pengaruh aktivitas organisme hidup (O) termasuk vegetasi, organisme (manusia) pada suatu topografi (R) atau relief tertentu dalam jangka waktu (T) tertentu pula.
Seorang pembuat patung menganggap tanah sebagai bahan utama dalam pembuatan patung-patungnya. Lain halnya dengan seorang ahli tambang yang menganggap tanah sebagai sesuatu yang menghalangi kerj mereka oleh karena menutupi batuan atau mineral yang harus mereka gali. Demikian pula halnya dengan seorang ahli jalan yang menganggap tanah sebagai bagian permukaan bumi yang lembek sehingga perlu dipasang batu-batu di permukaannya agar menjadi kuat. Ibu-ibu rumah tangga menganggap tanah sebagai biang penyebab kotornya sepatu, lantai, karpet.
Secara fisik, tanah tersusun bahan mineral dan bahan organik dalam berbagai ukuran. Partikel mineral dan bahan organik mengisi matriks tanah sekitar 50% volume. Sisanya terdiri atas ruang pori, yang terisi air dan atau udara. Proporsi air dan udara berubah-uabah secara dinamis menurut kondisi keairan lingkungan tanah. Hal ini membentuk sistem 3 fase yaitu padatan, cair dan gas. Hampir di semua penggunaan tanah sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik tanah. Tekstur tanah menunjukkan perbandingan relatif antara fraksi tanah baik pasir, debu, dan liat.
1.2. Tujuan dan Kegunaan
   Tujuan dari Dasar Dasar Ilmu Tanah adalah untuk mengetahui  Kadar Air yang terkandung dalam tanah,Permeabilitas,Bulk Density,Ruang Pori Total Tanah,Tekstur Tanah, Reksi Tanah, C-organik, dan Kapasitas Tukar Kation.
   Kegunaan dari praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah ini Untuk memberikan penetahuan tentang Kadar Tanah pada setiap jenis tanah, Permeabilitas, Bulk Density, Ruang Pori Total, Tekstur Tanah, Reaksi Tanah, C-organik,dan Kapasitan Tukar Kation Tanah pada setiap jenis tanah yang ada di daerah masing-masing.


                                                                 
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kadar Air Tanah
          Kadar air tanah adalah konsentrasi air dalam tanah yang biasanya dinyatakan dengan berat kering. Kadar air pada kapasitas lapang adalah jumlah air yang ada dalam tanah sesudah kelebihan air gravitasi mengalir keluar dan dengan nyata, biasanya dinyatakan dengan persentase berat. Kadar air pada titik layu permanen   adalah yang dinyatakan dengan persentase berat kering.
Kadar air dinyatakan dalam % volume, yaitu persentase volume tanah.Cara ini memberikan keuntungan karena dapat memberikan gambaran terhadap ketersediaan air bagi tumbuhan pada volume tertentu. Cara penentuan kadar air dapat digolongkan dalam cara Gravimetrik, tegangan dan hisapan, tumbuhan, listrik serta pembaruan neutron.
            Kadar air yang tersedia dalam tanah didasarkan pada kenyataan bahwa jumlah air maksimum yang dapat disimpan dalam tanah adalah air yang ditahan pada saat kapasitas lapang dimana tanaman hanya dapat menurunkan kandungan air tanah sampai batas titik layu permanen. Atas dasar itu maka jumlah air yang dapat ditahan antar kapasitas lapang dan titik layu permanen serta kelebihan air yang terikat pada kapasitas lapang tidak menguntungkan lagi bagi tanaman tingkat tinggi (Pairunan.1985).

2.2 Permeabilitas Tanah
            Permeabilitas merupakan kemudahan cairan,gas, dan akar menembus tanah. Permeabilitas tanah untuk air merupakan konduktuvitas hidraulik. Berbagai macam kelas-kelas konduktivitas hidraulik untuk gerakan vertical diketahui dealam tanah jenuh air.
            Permeabilitas adalah sifat yang menyatakan laju pergerakan zat cair melalui suatu media yang berpori-pori dan disebut jugan konduktifitas hidrolik. Dalam hal ini cairan adalah air tanah dan media berpori adalah tanah itu sendiri. Permeabilitas terbagi menjadi 2 macam yaitu pada tanah jenuh air dan permeabilitas tanah tidak jenuh air.

2.3 Bulk Density
          Bulk Density merupakan berat suatu massa tanah persatuan volume tertentu, dimana volume kerapatan tanah termasuk didalamnya adalah ruang pori. Yang satuannya adalah grm/cm3. Bulk Density merupakan petunjuk kepadatan tanah. Makin padat suatu tanah maka nilai dari Bulk Densiti juga semakin tinggi, ini berarti makin sulit pula meneruskan air atau makin sulit ditembus oleh akar tanaman (Hardjowigeno, 2002).
Bulk Density suatu tanah bila besar nilainya berarti jumlah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman belum mencukupi atau masih dalam jumlah yang kurang bagi pertumbuhan, maka disinilah kita menggunakan pupuk untuk memenuhi kebutuhan tanaman sebelum kita mengolah tanah. Untuk mengetahui beberapa jumlah pupuk yang akan dibutuhkan tanaman, maka sebelumnya kita perlu mengetahui beberapa Bulk Density tanah yang akan kita gunakan (Pairunan, dkk, 1985).
Bulk Density dinyatakan sebagai perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah. Suatu kecenderungan yang jelas bahwa Bulk Density atau kerapatan massa akan naik jika makin masuk dalam profil tanah. Tampaknya akibat dari kandungan bahan organik tanah yang rendah.Kurangnya agregat dan penembusan akar serat padatan yang disebabkan berat lapisan diatasnya. Pengolahan tanaman dan tanah tertentu akan mempengaruhi kerapatan massa, terutama lapisan permukaan (AliKemas, 2005).
Air dalam tanah mengalir kebawah dengan gaya perkolasi sesuai dengan gavitasi bumi. Hal ini disebabkan oleh sifat air yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi ketempat yang lebih rendah (Munif,1986).




2.4 Ruang Pori Total Tanah
Ruang pori total adalah volume dari tanah yang ditempati oleh udara dan air. Persentase ruang pori total disebut PorositasUntuk menentukan porositas ”Cores”, tanah ditempatkan pada tempat berisi air sehingga jenuh dan kemudian ”Cores” ditimbang. Perbedaan berat antara keadaan jenuh dan cores yang kering oven merupakan volume ruang pori untuk tanah (AliKemas, 2005).
 Ruang pori-pori tanah adalah bagian yang diduduki udara dan air. Jumlah ruang pori-pori ini sebagian besar ditentukan oleh susunan butiran-butiran padat. Kalau letak satu sama lain erat seperti pasir atau subsoil yang porositasnya rendah. Kalau tersusun dalam agregat yang tergumpal bahan organiknya, ruang pori per satuan volume akan tinggi (Buckman dan Brady, 1982).

udara dan air kapiler sehingga disebut juga pori kapiler. Pori mampu menahan air dalam tanah. Tanah yang baik adalah yang seimbang antara pori aerasi dan pori kapilernya (Hardjowigeno, S. 1992).
Air tersimpan atau tertekan dalam pori karena adanya gaya kapiler. Pori-pori besar yang tidak menahan air dengan gaya kapiler disebut dengan pori nonkapiler atau pori aerase atau gaya-gaya kapiler yang dinamakan pori kapiler atau pori mikro. (Hakim, dkk, 1986)
Pori tanah adalah bagian tanah yang tidak terisi bahan padat tanah (terisi oleh udara dan air). Pori-pori tanah dapat dibedakan menjadi pori-pori kasar dan pori-pori halus. Pori-pori kasar berisi udara atau air gravitasi, sedangkan pori-pori halus berisi air kapiler atau udara. Tanah-tanah pasir mempunyai pori-pori kasar lebih banyak daripada tanah liat. Tanah ini sulit menahan air sehingga tanaman sering mengalami kekeringan. Tanah-tanah liat mempunyai pori total lebih tinggi dari tanah berpasir. Porosistas dipengaruhi oleh kandungan bahan organik, struktur tanah dan tekstur tanah. Porositas tinggi jika bahan organik tinggi. Tanah dengan struktur granuler atau remah porositas lebih tinggi dibanding yang berstruktur masif.

2.5 Tekstur Tanah
         Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nsasional). Dari ketiga jenis fraksi tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 – 0.05 mm, debu dengan ukuran 0.05 – 0.002 mm dan liat dengan ukuran < 0.002 mm (penggolongan berdasarkan USDA). Keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan sifat tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas tanah, porositsas dan lain (Ali Kemas, 2005)
Sifat fisik tanah mempunyai banyak kemungkinan untuk dapat digunakan sesuai dengan kemampuan yang dibebankan kepadanya.Kemampuan untuk menjadi lebih keras dan menyangga kapasitas drainase, menyimpan air,
Tekstur tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah.Teristimewa tekstur merupakan perbandingan relatif pasir, debu dan liat atau kelompok partikel dengan ukuran lebih kecil dari kerikil. Tekstur tanah sering berhubungan dengan permeabilitas, daya tahan memegang air, aerase dan kapasitas tukar kation serta kesuburan tanah (Hardjowigeno, 1992).

2.6 Reaksi Tanah (pH Tanah)
pH tanah sangat penting karna Menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman. Pada umumnya hara tanaman akan lebih mudah untuk diserap pada kisaran pH netral  oleh karena pada kisaran pH tersebut kebanyakan unsur hara larut dalam air. pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.
Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0. Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH sangatlah penting dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia seperti kimia, biologi, kedokteran, pertanian, ilmu pangan, rekayasa (keteknikan), dan oseanografi. Tentu saja bidang-bidang sains dan teknologi lainnya juga memakai meskipun dalam frekuensi yang lebih rendah.

2.7 C-organik
Koloid organik utama adalah humus. Koloid organik tersusun atas C, H dan O. Humus bersifat amorf, KTK tinggi dan lebih mudah dihancurkan dibandingkan liat. Sumber muatan negatif humus adalah gugus karboksil dan gugus fenol. Muatan humus adalah tergantung pH. Dalam keadaan masam, H+ dipegang kuat oleh gugusan karboksil atau fenol dan menjadi lemah ikatannya jika pH lebih tinggi.
Bahan organik berpengaruh terhadap sifat tanah denagan daya penahan air yang akan berpengaruhi struktur tanah dan mendorong aktifitas mikrobiologi tanah yang akan mempengaruhi struktur tanah. Bahan organik merupakan sumber lansung dari unsure hara tanaman, dimana pelepasannya tergantung dari aktivitas mikrobiologi,dan berpengaruh terhadap kapasitas tukar katon(KTK).
Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.
Adapun sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah. Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik dari seluruh makhluk hidup.

2.8 Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++, K+, Na+, NH4+, H+, Al3+ dsb. Didalam tanah, kation-kation tersebut terlarut di dalam air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation yang dapat dijerap oleh tanah persatuan berat tanah dinamakan kapasitas tukar kation (KTK). Hal tersebut disebut pertukaran kation.
            Penetapan KTK di laboratorium dilakukan dengan menggunakan dengan ekstraksi ammonium asetat pada pH 7 (NH4OAc pH 7). Cara lain yaitu ekstraksi dengan garam netral (misalnya dengan 1 N KCl) pada pH tanah yang sebenarnya, atau ekstraksi dengan barium klorida + trietanolamin (BaCl2-TEA) yang disangga pada pH 8,2. Dengan cara ini kita akan mendapatkan KTK tergantung pH, KTK efektif (Ali Kemas,2005).
           
 
METODE PRAKTEK
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah, di laksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah jurusan Budidaya Pertanian,Fakultas pertanian, Universitas Tadulako Palu, sejak tanggal 18 oktober - 8 November 2013.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Penetapan Kadar Air
       Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu Ring untuk pengambilan sampel tanah, oven, eksibator, tungkai penjepit, neraca analitik,dan cawan almunium atau petridis. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu sampel tanah,dan air.
3.2.2 Penetapan Permeabilitas Tanah
        Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu Parameter,Kran sumber air,Glass ukur,dan Jangka Sorong. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu Tanah dan Air.

3.2.3 Penetapan Bobot Isi Tanah (Bulk Density)
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu: Timbangan,Ring sampel,Jangka sorong,Cangkul atau Sekop,Pisau,Oven,Tungkai Penjepit,dan Wadah atau cawan. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu : Tanah, dan Air.



3.2.4 Penetapan Ruang Pori Total Tanah (POROSITAS)
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu: Ring sampel,Cangkul atau Sekop,Oven,Eksikator,Timbangan Analitik,dan Pisau. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu tanah dan Air.

3.2.5 Penetapan Tekstur Tanah
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu: Neraca analitik, Glass kimia , Ayakan, Bak Perendaman, Pipet ,Cawan Almunium, Oven, dan Pemanas listrik. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu: Hidrogen Peroksida(H2O2), HCL,Tanah dan Air.

3.2.6 Penetapan Reaksi Tanah
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu: Neraca Analitik,Botol kocok,Pipet Ukur,Glass Kimia,Mesin Pengocok,Labu Semprot,dan pH meter. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu:H2O, KCl,Tanah dan Air.

3.2.7 Penetapan C-organik
Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:Timbangan Analitik,Buret,Pengaduk Magnit,Labu Ukur,dan Erlemeyer. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu: Kalium dikronat(K2Cr2O7), Ferro amonium sulfat(FeSO4(NH4)SO4.6 H2O) atau Ferro sulfat ((FeSO4).7 H2O), Asam fosfat (H3PO4), Natrium florida (NaF),Aqudes,dan Indikator difenilanin.


3.2.8 Penetapan Kapasitas Tukar Kation Tanah(KTK)
Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu: Timbangan Analitik, Alat Penyuling Amonik, Pipet Ukur, Buret, Corong, Wadah Penampung, Glass Kimia atau Botol Plastik. Sedangkan bahan yang digunakan dalam percobaan Kapasitas Tukar Kation yaitu, Larutan NH4OAc(pH 7,0), Etanol (95%), Larutan NaOH(35%), Larutan H3BO3(4%), HCL (0,1 N), dan Kertas Saring.

3.3 Cara Kerja
3.3.1 Penetapan Kadar Air Tanah
Mengambil contoh tanah tidak utuh,dan meletakannya kedala cawan almunium.Menimbang tanah dengan menggubakan neraca analitik dengan ketelitian 3-4 desimal. Memasukan contoh tanah beserta tanahnya kedalam oven 150oC selama 24 jam. Kemudian menimbang contoh tanah yang telah dioven sehingga mendapatkan nilai berat tanah kering+ cawan.Mengeluarkan tanah dari dalam cawan dan menimbang kembali cawan yang telah bersih sehingga didapatkan nilai dari Berat Cawan. Masukanlah nilai dalam rumus untuk menentukan Kadar Air Tanah.

3.3.2 Penetapan Permeabilitas Tanah
       Merendam contoh tanah beserta ring kedalam baki perendaman selama 1 jam.Setelah contoh tanah  jenuh air, contoh tanah tersebut dipindahkan ke alat parameter kemudian dialiri air. Melakukan Pengukuran jumlah air yang tertampung dilakukan  selama 1 jam yang dibagi dalam 3 waktu pengukuran yaitu: 30 menit,15 menit, dan 15 menit. Setelah selesai, contoh tanah dikeluarkan dari ring sampel kemudian mengukur tinggi dan diameter ring sampel serta tinggi head air.

3.3.3 Penetapan Bobot Isi Tanah (BULK DENSITY)
Mengambil cintoh tanah utuh dilapangan dengan menggunakan ring sampel. Meratapkan ujung atas dan bawah ring sehingga permukaan tanah benar-benar rata dengan permukaan ujung ring. Meletakan contoh tanah basah kedalam cawan almunium dan selanjutnya memasukan kedalam oven untuk dipanaskan selama 24 jam pada suhu 105oC. Mengeluarkan contoh tanah dengan hati-hati bersama dengan wadahnya dengan menggunakan tungkai penjepit,dan kemudian masukan kedalam eksikator hingga dingin. Menimbang contoh tanah beserta ringnya dengan menggunakan neraca analitik  ketelitian 2 desimal hingga didapatkan nilai berat tanah kering dan berat ring. Membersihkan contoh tanah dalam ring kemudian ditimbang kembali sehingga mendapatkan nilai dari berat ring. Mengukur volume ring yang  digunakan sehingga diperoleh nilai V total Hitunglah Bulk Density tanah tersebut.

3.3.4 Penetapan Ruang Pori Total Tanah (POROSITAS)
Menentukan bobot isi tanah(Bulk Density)Untuk nilai kepadatan partikel(partikel density) dipakai angka 2,65 (nilai Real Density). Hitunglah porositas tanah tersebut.


3.3.5 Penetapan Tekstur Tanah
           Menimbang 5 gram contoh tanah yang telah lolos ayakan 2 mn denag menggunakan neraca analitik dan selanjutnya dimasukan kedalam beker glass atau erlemeyer.Menambahkan 100 ml H2O2 30% dan selanjutnya simpan dalam bak yang berisi air untuk menghindari terjadinya reaksi yang hebat  adul secara hati-hati dan biarkan selama 1 malam.Panaskan diatas kompor listrik  sambil ditambahkan hidrogen feroksida,tambahkan HCl 6 N menggunakan pipet untuk mentukan peresentase  CaCO3 dan tambahkan 100 ml HCL 0,2 N untuk melarutkan CaCO3.Selanjutnya tambahkan aquades kira-kira setengan bagian dari beaker glass/erlemeyer.Didihkan selama 20 Menit kemudian tambahkan lagi aquades samapi  batas tiga perempat bagian beaker glass,,lalu aduk secara hati-hati. Biarkan selama 1 malam untuk mengendapkan butiranMemisahkan pasir dari debu dan liat dengan mengunakan  ayakan ,selanjutnya fraksi debu dan liat yang  telah terpisah ditampung kedalam glass ukur 1000 ml. Memindahkan fraksi pasir tersebut kedalam cawan alumunium dan keringkan dalam oven selama 1 malam.Masukan 50 ml Calcon kedalam glass ukur yang berisi fraksi debu dan liat dan tambahkan aquades hingga batas tertera.

3.3.6 Penetapan Reaksi Tanah (pH Tanah)                                              
Menimbang 5-10 gr  contoh tanah  sebanyak 2 kali,masing-masing masukan kedalam botol A dan B,ditambahkan 50 ml air bebas ion kedalam botol A dan 50 ml KCL (pH KCL) kedalam botol B (voloume air dan KCL dapat berubah sesuai rasio pengukuran yang digunakan.).Kocok dengan mesin pengocok selama 30 menit kemudian didiamkan sampai contoh tanah  mengenndap. Kalibrasi pH meter yang akan digunakan dengan larutan buffer pH 4,0 dan pH 7.0. Kemudian ukur pH larutan contoh tanah Nilai pH dilaporkan dalam 1 desimal.

3.3.7 Penetapan C-organik Tanah
       Menimbang 0,5 gram contoh tanah yang telah lolos ayakan 0,5 mm(0.05-0,1 gr unruk tanah organik/gambut) dan dimasukan kadalam erlemeyer 250 ml. Menambahkan 5 ml K2Cr2O7 1 N sambil digoyang-goyang, kemudian tambahkan 10 ml H2SO4 dan goyang secara perlahan. Setelah tercampur sempurna larutan didiyamkan selama 20-30 menit.Menambahkan 100 ml aquades, 5 ml Naf, 5 ml H3PO4, dan 15 tetes larutan indikator difenilamin.Titrasi larutan dengan ferro amonium sulfat 0,5 N atau ferro sulfat 1 N. Pada tahap awal ion krom berwarna hijua redup,biru kotor dan titik akhir penitaran adalah hijau terang. Lakukan cara yang sama dan waktu yang sama untuk blangko.

3.3.8 Penetapan Kapasitas Tukar Kation
Menimbang tanah kering udara yang lolos ayakan 0,5 mm dan dimasukan kedalam wadah/botol plastik.Menambahkan 25 ml larutan NH4AOc 1 N pH 7,0 dan aduk dengan batang pengaduk dan diamkan selama 1 malam.Saring dengan kertas saring pada corong dan tumpang fitratnya dengan wadah lain.Memindahkan semua tanah botol keatas kertas saring dengan cara membilas sisa-sisa tanah tersebut dengan larutan NH4Oac dari botol semprot atau pipet ukur.Mencuci tanah pada kertas saring dengan 20-30 ml larutan NH4Oac dan biarkan sampai mendrianase sempurna. Ulangi pencucian selama beberapa kali.Pindahkan tanah dan kertas saring kedalam labu Kjedahl 800 ml lalu tambahkan  200 ml aquades. Pipet 25 ml H3BO4 kedalam erlemeyer 250 ml. Pasang labu Kjedahl pada alat destilasi. Lepaskan erlemeyer dan titra isinya dengan HCL 0,1 N hingga warna hijua berubah menjadi warna merah muda.Gunakan blanko dengan mendestilasi aqudes dengan pereaksi sama dengan contoh tanah.





















IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Penetapan Kadar Air Tanah
Berdasarkan hasil praktikum tentang penetapan kadar air didapatkan hasil sebagai berikut :
Diketahui: BTBA= 25,2 gr         BTBB= 24,5 gr
BTKOA= 24,8 gr                BTKOB= 24,5 gr
BCWA= 10,20 gr     BCWB= 9,50 gr
Ditanyakan W....?
Penyelesaian!
WA = (BTBA+BCWA) – (BTKO+BCWB)  X 100%
        (BTKO+BCW)-BCW
= (25,2 – 24,8) x 100% = 2,74%
   24,8 -10,20
WB = 24,5 + 24 x 100% = 19%
         24,5 – 9,50

Jadi W = WA+ WB
                    2
 = 22.19 = 11,09%
        2

4.1.2 Permeabilitas Tanah


=
= 25,2 x 0,8 x 0,048 = 8,064 cm/jam


4.1.3 Bulk Density
Diketahiu : BTKO = 468,90 gr      r =  2,65
Brg = 285,10
Vtotal = 134,46
Π = 3,14
t   = 5,9
diameter= 5,3
Vtotal= 134,46
Ditanya :  Bulk Density
Penyelesaiann
BD
    
=1,360 gr/m3

4.1.4 Porositas Tanah
Penyelesaian:
Porositas =  {(10 ) x 100% }
 ={(10- }
 = 48,68%







4.1.5 Tekstur Tanah
Fraksi
Berat cawan
Berat cawan+fraksi
Berat akhir
Pasir kasar
10,4018
12,0048
1,6030
Pasir halus
10,3339
11,3620
1,0281
0
50,7634
50,8459
0,0825
5
6,6292
6,6435
0,0143
17
5,6112
5,3417
0,0070
50
5,3353
5,3417
0,0064

Pasir : 61,9
Debu : 23,1
Liat : 14,9
Jadi kelas tekstur pada tanah yaitu Lempung Berpasir.

4.1.6 Reaksi Tanah (pH Tanah)
1.      Tanah yang ditambahkan dengan larutan KCL memiliki pH=7,20
2.      Tanah yang ditambahkan H2O = 8,22

4.1.7 Penetapan C-organik
Diketahui : blanko: 9
Titrasi : 7,5
N FeSO4= 1 N
Bahan C-organik: 0,55
Ditanya: C-organik?
C-organik =
=
=  x 1 x 0,38
= 1,036%
% bahan organik = 1,724 x C-organik
= 1,724 x 1,03
= 1,77

4.1.8 Kapasitas Tukar Kation
Diketahui : t =Volume HCL= 1,64
b =Volome Titra Blangko = 0,32
N = 0,1
W = 1 gr
Ditanyakan KTK?
Penyelesaian
KTK= t-b x N HCL
 = 1,64 x 0,32 x 0,1 x
 =13,2

4.2 Pembahasan
4.2.1 Kadar Air Tanah
Dari hasil percobaan yang kami lalukan dilaboratorium bahwa Kadar Air tanah yang berasal dari Tatura Utara Kec. Palu Selatan mengandung kadar air dengan jumlah 11,9 dimana penentuan kadar air tanah dengan menggunakan alat yang ada di Lab. Kandungan air tanah antara kapasitas lapangan dan titik layu permanen disebut total air tanah tersedia (TAW, Total Available Water). Titik kritis adalah batas minimum air tersedia yang dipertahankan agar tidak habis mengering diserap tanaman hingga mencapai titik layu permanen. Titik kritis ini berbeda untuk berbagai jenis tanaman, tanah, iklim serta diperoleh berdasarkan penelitian di lapangan (Hanafiah, 2005).

4.2.2 Permeabilitas Tanah
Dari percobaan yang kami lakukan bahwa Permeabilitas tanah yang berada di Tatura Utara Kec. Palu Selatan yaitu 8,064 atau dapat dikatakan tanah tersebut memiliki permabilitas yang agak cepat. Permeabilitas merupakan kemudahan cairan,gas, dan akar menembus tanah. Permeabilitas tanah untuk air merupakan konduktuvitas hidraulik. Berbagai macam kelas-kelas konduktivitas hidraulik untuk gerakan vertical diketahui dealam tanah jenuh air.

4.2.3 Bulk Density
Dari hasil Percobaan yang kami lakukan dilaboratorium bahwa Bulk Density pada tanah yang diteliti menghasilkan 1,360. Bobot isi tanah menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume pori-pori tanah.Makin padat tanah maka makin tinggi bulk density yang berarti makin sulit untuk meneruskan air atau ditembus akar tanaman. Pada umumnya, bobot isi tanah berkisar antara 1,1-1,6 g/cm3. Bulk density berbeda dengan particle density (kerapatan jenis zarah).

4.2.4 Porositas Tanah
Dari hasil perciobaan Porositas Tanah atau yang dikenal dengan Ruang pori total tanah  bahwa Porositas tanah yang berasal dari Tatura Utara Kec. Palu Selatan pada percobaan ini kami mandapatkan hasil tanah tersebut memiliki hasi 48,68%. Tanah-tanah pasir mempunyai pori-pori kasar lebih banyak daripada tanah liat. Tanah ini sulit menahan air sehingga tanaman sering mengalami kekeringan. Tanah-tanah liat mempunyai pori total lebih tinggi dari tanah berpasir.

4.2.5 Tekstur Tanah
Dari hasil percobaan Tekstur tanah yang kami lakukan dilaboratorium bahwa  Berat cawan pada setiap fraksi sebelum di isi dengan masing-masing pasir yang telah mengalami prose yang cukup panjang yaitu pemanasan air dan pencamburan berbagai jenis larutan yang digunakan dalam percobaan ini maka berat cawan yang dihasilkan berbeda dengan cawan yang sudah terisi dan dikeringkan di dalam oven selama 1 malam sehingga menghasilkan fraksi pada setiap cawan berbeda.

4.2.6 Reaksi Tanah
Dari hasil percobaan Reaksi Tanah yang kami lakukaan dilaboratorium bahwa tanah yang telah dicampurkan dengan larutan KCL dan dimasukan kedalam mesin pemutar dan kemudian diendapkan selama 5 menit, kemudian dilakukan pengukuran dengan menggunakn pH meter ternyata pH yang di dapatkan adalah 7,5 maka pH tanah tersebut dapat dikatakan netral.

4.2.7 C-Organik
percobaan C-organik Tanah dilaboratorium bahwa dengan menambahkan K2Cr2O7 dan Dari hasil H2SO4 kedalam labu yang telah terisi dengan tanah menghasilkan warna yang agak kehitaman setelah larutan tersebut didiamkan selama 30 menit lalu ditambahkan kembali dengan larutan aquades dan arutan indikator hingga larutan tersebut berubah warna menjadi hitam. Setelah itu larutan dititrasi dengan menggunakan larutan ferro ammonium sulfat hingga berubah warna menjadi hijau redup dan sampai titik akhir warna yang di hasilkan adalah warna hijau.

4.2.8 Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Dari Hasil percobaan Kapasitas tukar kation tanah yang kami lakukan bahwa KTK adalah salah satu sifat kimia tanah atau biasa disebut sebagai koloid tanah yang bermuatan positif. KTK yang kami hasilkan selama waktu yang ditentuka adalah KTK yang telah mengalami titrasi dengan pencampuran HCl pada sampel tanah selama 5 menit yaitu 13,2. Di Indonesia, pH tanah berkisar antara 3 hingga 9. Tanah-tanah pada umumnya bereaksi masam dengan pH 4,0-5,5 sehingga tanah-tanah yang mempunyai pH 6,0-6,5 sering dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam.










                                                                           
V.  KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
5.1.1 Kadar Air Tanah
Berdasarkan data dilaboratorium dapat disimpulkan bahwa Pada percobaan Tanah yang  berasal dari daerah Tatura Utara Kec. Palu Selatan yang telah dicampurkan dengan dengan KCl memiliki pH netral karna pHnya 5,15. Sedangkan tanah yang dicampurkan H2O, menghasilkan pH 5,1 dan dapat dikatakan bahwa tanah tersebut bersifat alkalis.

5.1.2 Permeabilitas Tanah
Berdasarkan data dilaboratorium dapat disimpulkan bahwa Pada percobaan permeabilitas tanah, tanah yang dialiri dengan air melalui pipa yang telah disediakan agak cepat. Penetapan kadar air tanah dan permeabilitas tanah tergantung dari pori-pori tanah yang diamati.

5.1.3 Bulk Density
Berdasarkan data dilaboratorium dapat disimpulkan bahwa Pada Percobaan yang kami lakukan dilaboratorium bahwa Bulk Density pada tanah yang diteliti menghasilkan 1,360.

5.1.4 Porositas Tanah
Dari hasil perciobaan Porositas Tanah atau yang dikenal dengan Ruang pori total tanah  bahwa Porositas tanah yang berasal dari Tatura Utara Kec. Palu Selatan pada percobaan ini kami mandapatkan hasil tanah tersebut memiliki hasi 48,68%.

5.1.5 Tekstur Tanah
Berdasarkan percobaan dilaboratorium dapat disimpulkan Tanah yang berasal dari Palu Selatan memiliki Tekstur Tanah criteria lempung berpasir.

5.1.6 Reaksi Tanah
Tanah yang berasal dari daerah Tatura Utara Kec. Palu Selatan yang telah dicampurkan dengan dengan KCl memiliki pH netral karna pHnya 5,15. Sedangkan tanah yang dicampurkan H2O, menghasilkan pH 5,1 dan dapat dikatakan bahwa tanah tersebut bersifat alkalis.

5.1.7 C-Organik
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahw C-Organik atau Ph tanah menunujukkan pH meter jika dibawah 7,0 menunjukkan sifat kemasaman sedangkan diatas 7,0 menujukkan sifat kebasaan.

5.1.8 Kapasitas Tukar Kation
Berdasarkan data dilaboratorium dapat disimpulkan bahwa Tanah yang berasal dari daerah Tatura Utara Kec. Palu Selatan memiliki kapasitas tukar kation yang rendah dimana kapasitas adalah 13,2.


5.2 Saran

Sebaiknya dalam praktikum Porositas digunakan juga tanah  alfisol  dengan berbagai lapisan agar dapat menjadi perbandingan antara nilai porositasnya dan sebaiknya menggunakan lebih dari satu lapisan tanah agar dapat  dibandingkan lapisan mana yang mengalami bulk density lebih tinggi.












DAFTAR PUSTAKA
Ali Kemas,  2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada,  Jakarta.
Buckman dan brady.1982. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press,
          Yogyakarta.

           Hakim, N. M.dkk. 1986.Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.
           Hanafiah. 2005. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada , Jakarta.
Hardjowigeno, H. Sarwono. 1992. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta

Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. PT. Dunia PusatakaJaya,
Jakarta.
Pairunan, dkk, 1985.Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Perguruan Tinggi Negeri
        IndonesiaTimur, Makassar.





                                                                                          











BIODATA PENYUSUN

Penulis bernama Ikra Ardiansyah , lahir di Palu pada tanggal 01 Maret 1994, merupakan anak ke 2 (dua) dari 3 (Tiga) bersaudara. Ayahanda bernama Ibrahim Zainuddin dan ibunda bernama Rusmini Nurdin.
Jenjang pendidikan yang telah dilalui penulis yaitu   pendidikan sekolah dasar pada tahun 2000 - 2006 di Sekolah SDN Inpres 2 Tatura. Kemudian melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama di SMP Negeri 4 Palu pada tahun 2006-2009. Pada tahun 2009 penulis melanjutkan ke sekolah menengah  atas di SMA Negeri 1 Dolo dan selesai pada tahun 2012. Penulis masuk  Universitas Tadulako pada tahun 2012 di Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi.







Copyright © SATUUNTAD All Right Reserved
Powered by Blogger