Tuesday, October 10, 2017

LAPORAN LENGKAP KONSERVASI TANAH DAN AIR UNTAD



Asssalamualaikum teman2 kali ini saya akan membagikan laporan lengkap mata kuliah TPHP ..... silahkan di lihat dan di pelajari....


BAB I. PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
          Mata kuliah Konservasi Tanah dan Air merupakan  mata kuliah yang mempelajari bagaimana teknik-teknik untuk mengawetkan tanah dan air sehingga produktivitas lahan dapat terjaga, dan baik untuk kebutuhan pertanian.
          Sumber daya alam utama yaitu tanah dan air mudah mengalami kerusakan atau degradasi.  dan sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar dan air tanah tersimpan (Arsyad S, 1989).
          Erosi merupakan peristiwa hilangnya lapisan tanah atau bagian  tanah. Erosi menimbulkan kerusakan pada tanah tempat terjadi erosi dan pada  tujuan akhir tanah terangkut tersebut diendapkan. Secara deskriptif, ( Arsyad 2000).
          Proses erosi terjadi melalui tiga tahap, yaitu pelepasan partikel tanah, pengangkutan oleh media seperti air adan angin, dan selanjutnya pengendapan. Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya erosi adalah curah hujan, tanah, lereng (topografi), vegetasi, dan aktifitas manusia ( Arsyad 2000).


1.2         Tujuan dan Kegunaan
          Tujuan dari praktek lapangan mata kuliah konservasi tanah dan air ini yaitu untuk memprediksi besarnya laju erosi tanah dan indeks bahaya erosi. Sedangkan kegunaan dari praktek lapangan tersebut yaitu sebagai sumber informasi dalam kaitannya dengan kebijakan penggunaan lahan dan tindakan konservasi tanah.



















BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1      Erosi dan Jenis-Jenis Erosi
          Erosi merupakan peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang, dalam hal ini disebut bio-erosi. Erosi (Kartosapoetra. 1985).
2.1.1 Erosi lembar (Sheet erosion)
          Erosi lembar (sheet erosion ) merupakan peristiwa Pemindahan tanah yang terjadi  lembar demi lembar atau lapis demi lapis mulai dari lapisan yang paling atas. Erosi ini sepintas lalu tidak terlihat, karena kehilangan lapisan-lapisan tanah seragam, (Hardjowigeno,  1995).
2.1.2   Erosi alur (Rill erosion)
          Erosi alur (Rill erosion) merupakan peristiwa erosi yang di dimulai dengan genangan-genangan kecil setempat-setempat di suatu lereng, maka bila air dalam genangan itu mengalir, terbentuklah alur-alur bekas aliran air tersebut. (Rill erosion) (Hardjowigeno,  1995).
2.1.3  Erosi parit (Channel erosion)
          Erosi parit (Channel erosion) merupakan proses di mana parit-parit yang besar sering masih terus mengalir lama meskipun setelah hujan berhenti. Aliran air dalam parit ini dapat mengikis dasar parit atau dinding-dinding tebing parit di bawah permukaan air, sehingga tebing diatasnya dapat runtuh ke dasar parit. Adanya gejala meander dari alirannya dapat meningkatkan pengikisan tebing di tempat-tempat tertentu (Hardjowigeno,  1995).
2.1.4  Erosi tebing sungai (Riverbank erosion)
          Erosi tebing sungai terjadi akibat pengikisan tebing oleh air yang mengalir dari bagian atas tebing atau oleh terjangan arus air yang kuat pada kelokan sungai. Erosi tebing akan hebat terjadi jika vegetasi penutup tebing telah habis atau jika dilakukan pengolahan tanah terlalu dekat tebing (Abdul, 2005).
2.1.5  Longsor
          Tanah  longsor  terjadi karena tanah di bagian bawah tanah terdapat lapisan yang licin dan kedap air (sukar ketembus air) seperti batuan liat. Dalam musim hujan tanah diatasnya menjadi jenuh air sehingga berat, dan bergeser ke bawah melalui lapisan yang licin tersebut sebagai tanah longsor (Abdul, 2005).
2.1      Metode Universal Soil Loss Equation (USLE)
Perkiraan atau prediksi besarnya laju erosi yang mungkin terjadi di lapangan dapat ditentukan antara lain dengan menggunakan metode yang dikenal dengan Persamaan Umum Kehilangan Tanah (PUKT) atau dalam bahasa Inggris Universal Soil Loss Equation (USLE) (Foth, 1988)

2.3     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erosi
2.3.1 Iklim
          Iklim adalah faktor terpenting dalam masalah erosi sehubungan dengan fungsinya. Sebagai  transpor dan agen pemecah. Faktor iklim yang dapat mempengaruhi erosi adalah hujan. Banyaknya curah hujan menentukan dispersi hujan tehadap tanah, jumlah dan kecepatan permukaaan serta besarnya kerusakan erosi. Angin adalah faktor lain yang menentukan kecepatan jatuh butir hujan. (Arsyad 1989).
2.3.2 Topografi
          Kemiringan dan panjang lereng adalah dua faktor yang menentukan karakteristik topografi suatu daerah aliran sungai. Kedua faktor tersebut penting untuk terjadinya erosi karena faktor-faktor tersebut menentukan besarnya kecepatan dan volume air larian (Asdak, 1995).
2.3.3 Vegetasi
          Vegetasi penutup tanah yang baik seperti rumput yang tebal, atau hutan yang lebat akan menghilangkan pengaruh hujan dan topografi terhadap erosi (Arsyad, 1989).
          Tumbuhan berperan dalam menurunkan besarnya erosi karena ia merupakan stratum vegetasi terakhir yang akan menentukan besar kecilnya erosi percikan Asdak (1995).
2.3.4 Tanah
          Tanah mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda-beda. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kepekaan erosi adalah Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi laju infiltrasi, permeabilitas menahan air, dan  sifat-sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur tanah terhadap dispersi dan pengikisan oleh butir-butir hujan yang jatuh dan aliran permukaan.  Arsyad (1989).
2.3.5 Manusia
          Manusia dapat mempengaruhi terjadinya erosi, tergantung bagaimana manusia mengelolahnya. Manusialah yang menentukan apakah tanah yang dihasilkannya akan merusak dan tidak produktif atau menjadi baik dan produktif secara lestari. Banyak faktor yang menentukan apakah manusia akan mempertahankan dan merawat serta mengusahakan tanahnya secara bijaksana sehingga menjadi lebih baik (Asdak (1995 ).
2.4     Erosi yang Dapat Ditoleransi
          Erosi yang dapat di toleransi adalah laju erosi yang dinyatakan dalam mm/tahun atau ton/ha/tahun yang terbesar yang masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan agar terpelihara suatu kedalaman tanah yang cukup bagi perumbuhan tanaman atau tumbuhan yang memungkinkan tercapainya produktivitas yang tinggi secara lestari.   (Jariyah et al., 2002).
2.5 ... Penggunaan Lahan
          Penggunaan lahan merupakan suatu lingkungan fisik dan abiotik yang berkaitan dengan daya dukungnya terhadap kehidupan dan kesejahteraan manusia. Faktor fisik yang berpengaruh terhadap penggunaan lahan adalah lereng dan ketinggian tempat. Ada beberapa jenis penggunaan lahan. Secara garis besar, lahan kota terbagi menjadi lahan terbangun dan lahan tak terbangun. Lahan Terbangun terdiri dari  dari perumahan, industri, perdagangan, jasa dan perkantoran.  (Kartasapoetra, 1985).
2.6         Pencegahan Erosi
          Ada bebrapa cara untuk mencegah erosi yaitu:
1.       Lakukan Konservasi Tanah
                    Konservasi tanah adalah serangkaian upaya dan strategi untuk mencegah dan menghambat proses terjadinya pengikisan tanah dan perubahan struktur biologi dan kimiawi akibat kesalahan dalam pengolahan
2.       Membuat Terasering
                    Terassering merupakan salah satu bentuk pencegahan erosi yang paling sering dilakukan yakni dengan cara membuat teras demi teras seperti tangga pada lahan yang miring sehingga ketika turun hujan air tidak langsung hanyut begitu saja sehingga peluang terjadinya pengikisan tanah dapat di tekan seminimal mungkin.
3.       Countur Farming
                    Merupakan sistem penanaman berdasarkan garis kontur suatu tanah sehingga sistem perakaran tanaman akan semakin solid dan sanggup menahan tanah ketika terjadi hujan deras.
4.       Membuat Tanggul Pasangan
                    Dengan membuat tanggul maka    air    hujan   dapat    tertampung dari langsung menyerap kedalam tanah sehingga mengurangi terjadinya    Run Off atau aliran permukaan
5.       Optimalkan Drainase atau Saluran Air
          Tujuan adanya drainase ini untuk menjadi jalur pelepasan air sehingga sisa air yang tidak terserap oleh vegetasi penutup lahan atau buffering, dapat segera alirkan ketempat yang lebih rendah.
6.       Lakukan Rotasi Tanam (Crop Rotation)
                    Merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk menjaga kelestarian unsur hara yang terkadung dalam tanah dengan cara melakukan pengiliran jadwal penanaman jenis tumbuhan 
7.       Lakukan Reboisasi
                    Hal ini menjadi langkah preventif yang paling signifikan pengaruhnya. Penyebab terjadinya erosi tidak hanya karena buruknya sistem bercocok tanam melainkan disebabkan juga oleh dampak akibat kerusakan hutan gundul akibat kegiatan penebangan illegal.
8.       Menjaga Kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS)
                    Daerah Aliran Sungai perlu dijaga karena merupakan penahan dari tanah supaya tidak habis terbawa aliran sungai, terlebih jika sungainya beraliran deras.

III. METODE PENELITIAN
3.1     Tempat dan Waktu
Praktikum mata kuliah konservasi tanah dan air ini dilaksanakan di lahan laboratorium sumber daya lahan Fakultas pertanian Universitas Taduako, Palu. Pada hari sabtu tanggal 29 Oktober 2016. Dari pukul 08.00 WIT sampai dengan selesai.
3.2     Alat dan Bahan
Alat yang di gunakan pada praktikum Konservasi Tanah dan Air yaitu cangkul, sekop, parang, linggis, palu-palu, balok, ring sampel, kantong plastik, label, spidol, karet gelang, alat tulis, meteran, clinometer, kalkulator, ondol-ondol, bor, kayu dan tali, gelas ukur, selang, dan ayakan tanah. Bahan yang di gunakan pada Praktikum Konservasi Tanah dan Air yaitu Tanah dan Air.
3.3     Metode Kerja
3.3.1  Survei
          Sebelum melakukan praktek lapangan Mata Kuliah Konservasi Tanah dan Air dilakukan survei atau pengecekan pada lokasi yang akan dipraktekkan lapang tersebut.

3.3.2  Pengambilan sampel tanah
   Untuk mengambil bongkahan tanah yang di gunakan sebagai sampel tanah pertama-tama permukaan tanah dibersihkan dahulu dari rerumputan dan sampah-sampah lainnya, kemudian tanah kemudian dicangkul sampai kedalaman 20 cm dari permukaan, selanjutnya tanah dimasukkan ke dalam kantong plastik sebanyak kurang lebih 1,0 kg (diusahakan agar agregat-agregat tanah jangan rusak atau hancur), dan contoh tanah diberi label di bagian luar dan dalam dari kantong plastik tersebut.
Untuk pengambilan sampel tanah utuh dan pertama-tama permukaan tanah dibersihkan dari rerumputan dan sampah, kemudian ring sampel diletakkan pada tanah dengan bagian yang runcing diposisi bawah, kemudian buat lingkaran dengan pusat yang sama dengan ring sampel dengan garis tengah 2 kali lebih besar, selanjutnya  lingkaran diluar ring sampel ini kemudian digali sehingga terbentuk lubang lingkaran sedalam ± 30 cm, hal ini dimaksudkan agar ring sampel dapat dengan mudah ditekan dan masuk ke dalam tanah. Dengan menggunakan tangkai penekan ring sampel yang terbuat dari besi, maka ring sampel ini ditekan dengan hati-hati secara vertikal, kalau ternyata sudah keras sedangkan ring masih harus dimasukkan terus maka bisa dipukul-pukul dengan palu kayu tersebut secara perlahan-lahan. Setelah tanah yang berada didalam ring sampel kira-kira sudah muncul diatas bibir ring bagian atas maka penekanan dihentikan, kemudian bawahnya dipotong dengan pisau atau dengan sekop atau dengan benang nilon halus, selanjutnya ring yang sudah berisi tanah kemudian diratakan dengan pisau tajam dan tipis sehingga kedua permukaan betul-betul rata dengan kedua bibir ring sampel tadi dan setelah itu kedua bagian muka tanah tersebut ditutup dengan tutup ring yang terbuat dari plastik. Dan terahir ring sampel yang sudah berisi tanah utuh ini kemudian dimasukkan ke dalam kotak atau kantong plastik agar aman dalam pengangkutan.


3.3.3  Analisis sampel
          Analisis tanah dilakukan untuk menentukan tekstur, struktur, bahan organik, bobot isi dan permebilitas tanah. Sampel tanah yang telah di ambil dari lokasi lahan percobaan di analisis di dalam laboratorium, pertama ambil sampel tanah bongkahan keluarkan dari kantong plastik, selanjutnya remah-remah tanah tersebut untuk mengetahui strukturnya.
Selanjutnya untuk sampel tanah utuh keluarkan ring yang berisi sampel tanah dari kantong plastik, kemudian tempatkan pada wadah,selanjutnya beri air pada tiap 15 menit pertama ,15 menit kedua dan 30 menit terahir, selanjutnya hitung permeabilitas tanah, C-organik tanah dan Bobot isi tanah tersebut,untuk mengetahui tekstur tanah tersebut catat nilai-nilai yang telah di hasilkan.

3.3.4  Pengumpulan data
          Mengumpullkan data dengan mencatat setiap hasil perhitungan yang diperoleh dari setiap kelompok. Selanjutnya data yang diperoleh di analisis untuk di input ke dalam Laporan Praktek Mata Kuliah Konservasi Tanah dan Air.
3.4     Pelaksanaan
3.4.1   Faktor erosivitas hujan (R)
          Penyebab utama erosi tanah adalah pengaruh pukulan air hujan pada tanah. Hujan menyebabkan erosi tanah melalui dua jalan; yaitu pelepasan butiran tanah oleh pukulan air hujan pada permukaan tanah dan kontribusi hujan terhadap aliran. Faktor ersosivitas, R, di defenisikan sebagai jumlah satuan indeks erosi hujan dalam satuan. Nilai R yang merupakan daya rusak hujan. ( Syamsu, 2016 ). dapat ditentukan dengan persamaan :
          R = 10,80 + 4,15 CH
3.4.2   Faktor erodibilitas tanah (K)
          Erodibilitas tanah merupakan sifat tanah yang dinamis, yang bervarietaqs terhadap waktu, kelengasan tanah, suhu, pengolahan tanah gangguan manusia atau binatang, dan factor biologi dan kimia. Factor yang mempunyai pengaruh besar terhadap variasi erodibilitas tanah adalah suhu tanah, tekstur tanah, dan kelengasan tanah, atau factor kepekaan erosi tanah, yang merupakan daya tahan baik terhadap penglepasan dan pengangkutan, kekuatan geser, kapasitas infiltrasi, kandungan bahan organic dan kimiawi ( Syamsu, 2016 ). Di tentukan dengan persamaan
          100K = 1.292 (2,1 M1.14 (10-4)(12a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)...(3)
          Ket :
          K            = erodibilitas tanah
          M = Ukuran partikel (% debu + % pasir halus) (100 - % liat)
          a = persen bahan organik
          b = kelas struktur tanah
          c = kelas permeabilitas tanah
3.4.2  Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS)
          Factor indeks topografi L dan S, masing-masing mewakili pengaruh panjang dan kemiringan lereng terhadap besarnya erosi. Panjang lereng mengacu pada aliran air permukaan yaitu lokasi berlangsungnya erosi dan kemungkinan terjadinya deposisi sediment. Dalam praktisnya L dan S dihitung sekaligus berupa factor Ls ( Syamsu, 2016 ).
            LS = √𝐿 (0,00138𝑆2 + 0,00965 𝑆+ 0,0138)
          Dengan:
          L = panjang lereng (m)
          S = kemiringan lereng (%)
          Faktor LS, kombinasi antar factor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng (S) merupakan nisbah nesarnya erosi dari suatu lereng dengan panjang dan kemiringan tertentu terhadap besarnya erosi dari plot lahan dengan panjang 22,13 m dan kemiringan 9 % (Rahim, 2000).
3.4.1   Faktor pengelolaan tanaman  dan faktor konservasi tanah (CP)
          Factor C menunjukan keseluruhan pengaruh dengan vegetasi seresah, keadaan permukaan tanah dan pengelolaan lahan terhadap besarnya tanah yang hilang (erosi). Oleh karenanya besar angka C tidak selalu sama dalam kurun waktu satu tahun ( Syamsu, 2016 ).
3.4.1   Erosi yang ditoleransi (TSL)
          Erosi yang dapat di toleransi dapat di tentukan dengan persamaan

         TSL        = ((KT/RL) + LPT) x BD x 10
          Dimana:
         TSL        = besarnya erosi yang diperbolehkan (ton ha-1 th-1)
         KT = kedalaman tanah merupakan hasil pengurangan kedalaman efektif tanah dengan nilai faktor kedalaman minimum (mm)
         RL          = umur guna tanah (th)
         LPT        = laju pembentukan tanah (mm th-1)
         BD         = Bobot isi tanah (g cm-3)

3.4.2   Indeks bahaya erosi (IBE)
          Nilai indeks bahaya eosi dapat di itung dengan persamaan
         IBE        = A/TSL
Dimana:
A            = Besarnya tanah yang tererosi (ton ha-1 th-1)
TSL        = Erosi yang dapat ditoleransi (ton ha-1 th-1)


         



















BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1     Rata-Rata Indeks Erosivitas Hujan (R)
          Berdasarkan hasil analisis data untuk mengetahui nilai rata-rata indeks erosivitas hujan (R), dapat menggunakan rumus seperti berikut :
10,80 + 4,15 CH
Tabel 1.Nilai Rata-Rata Curah Hujan Bulanan Kota Palu Berdasarkan Data Curah Hujan Stasiun BMKGBandar Udara Sis-Aljufri dan Nilai Indeks Erosivitas Hujan Bulanan.
Bulan
Rata-rata Curah Hujan (cm/th)
R
Januari
7,20
40,68
Februari
4,85
30,93
Maret
6,67
38,48
April
7,62
42,42
Mei
4,74
30,47
Juni
7,91
43,63
Juli
9,27
49,27
Agustus
8,18
44,75
September
6,34
37,11
Oktober
3,47
25,20
November
6,32
37,03
Desember
5,51
33,67

R total
453,63
          Dari hasil yang diperoleh Rata-rata Indeks Erosivitas Hujan bulanan selama 10 tahun, berdasarkan data curah  hujan  stasiun BMKG Bandar Udara Sis-Aljufri Palu dan perhitungan menggunakan persamaan diatas yaitu 453,63.
          Ketika hujan tidak terserap oleh tanah, mengalir menjadi run off, kemudian bersatu di sungai/ muara sungai, sungai yang mengalami pendangkalan, tidak mampu menampung pasokan air dari darat dan hujan, maka meluberlah sungai dan terjadilah banjir. Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan oleh air. Peristiwa banjir timbul jika air menggenangi daratan yang biasanya kering.[Banjir pada umumnya disebabkan oleh air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya sebagai akibat curah hujan yang tinggi. Kekuatan banjir mampu merusak rumah dan menyapu fondasinya (Kusumandari, 2008).
4.2     Erodibilitas Tanah (K)
          Untuk mendapatkan nilai erodibilitas tanah, sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu nilai hasil analisis sampel tanah di Laboratorium, hasilnya yaitu sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil analisis sampel tanah
Kelompok
Tekstur
Permeabilitas
(Cm/jam)
Bulk density
(Gram/cm3)
C. Organik
(%)
Pasir
Pasir halus
Debu
Liat
IV
23,7
14,8
44,9
14,7
0,19
1,68
0,92

100 K = 1,292 {2,1 M1,14(10-4)(12-a)+3,25(b-2)+2,5(c-3)}
Ket :
K  = erodibilitas tanah
M = Ukuran partikel (% debu + % pasir halus) (100 - % liat)
a   = persen bahan organik
b   = kelas struktur tanah
c   = kelas permeabilitas tanah
% bahan organik (a)          = C-Organik x 1,724
                                          = 0,92 x 1,724
                                          = 1.59
Kelas struktur tanah (b)    = Glanuler sedang-kasar = 3
                  M                     = (% debu + % pasir halus) (100 - % liat)
                                          = (44,9+14,8)(100-14,7)
                                          = 59.7 x 85,3
                                          = 5092,41
Penyelesaian:
100 K = 1,292 {2,1 M1,14(10-4)(12-a)+3,25(b-2)+2,5(c-3)}
            = 1,292 {2,1 x 5092,411,14(10-4)(12-1,59)+3,25(3-2)+2,5(6-3)}
            = 1,292 {2,1 x 16822 (10-4) (10,41) + 3,25 + 7,5}
            = 1,292 {35326,2x 10-4 (10,41) + 10,75}
           
            = 1,292 {(3,53262 x 10,41)+10,75}
            = 1,292 (36,7745742 + 10,75)
            = 1,292 x 47,5245742
100 K  =  61,40174986
        K  = 61,40174986    = 0,61
                     100
          Berdasarkan  hasil perhitungan diatas diketahui bahwa, nilai erodibilitas tanah sebesar  0,61. Nilai ini didapatkan tidak lepas dari hasil analisis sampel tanah yang dilakukan dilaboratorium, dimana analisis ini kita dapat mengetahui nlai tekstur tanah yang meliputi pasir 23,7, pasir halus 14,8, debu 44,9, dan liat 14,7. Nilai permeabilitas tanah yaitu 0,9, bulk density 1,68 dan C organic 0,92. Untuk mendapatkan nilai bahan organic maka nilai C organik x 1,724 = 1,59. untuk nilai struktur tanah didapatkan dari nilai kelas struktur tanah yaitu 3, Sedangkan nilai ukuran partikel (M) didapatkan dari (% debu + % pasir halus) (100 - % liat) = 5092,41. Dan. Serta nilai permeabilitas tanah didapatkan dari analisis sampel tanah yaitu 0,61.
          Besarnya erodibilitas atau resistensi tanah juga dibentuk oleh karakteristik tanah seperti; tekstur tanah, stabilitas agregat tanah, kapasitas infiltrasi dan kandungan bahan organic (Kurnia. 2006 ).
4.3     Panjang Lereng (L) dan Kemiringan Lereng (S)
          Bedasarkan praktek yang dilakukan dilapangan, maka dapat diketahui bahwa:
Panjang lereng (L) = 55,5 m
Kemiringan lereng (S) = 0,10 %.
          Untuk mencari nilai faktor panjang dan kemiringan lereng, maka dapat menggunakan rumus:
LS = √𝐿 (0,00138𝑆2 + 0,00965 𝑆+ 0,0138)
Dengan:
L = panjang lereng (m)
S = kemiringan lereng (%)
Penyelesaian:
LS       = √𝐿 (0,00138𝑆2 + 0,00965 𝑆+ 0,0138)
      = √55,5 (0,00138 x 0,12 + 0,00965 x 0,1 + 0,0138)
      = √55,5 (0,0000138 + 0,000965 + 0,0138)
      = √55,5 (0,0147788)
      = √0,8202234
      = 0,91
          Bedasarkan hasil perhitungan diatas dapat diketahui bahwa nilai faktor panjang dan kemiringan lereng yaitu 0,91. Untuk nilai panjang dan kemiringan lereng didapatkan bedasarkan hasil praktek dilapangan dengan nilai secara berturut-turut yaitu 55,5 m dan 0,1 m.  Hasil ini didapatkan bedasarkan rumus faktor panjang dan kemiringan lereng.
          Besarnya nilai Ls dapat diperoleh dengan menggunakan table dari goldman besarnya nilai Ls pada table didasarkan pada keadaan panjang dan gradient kemiringan lereng di lapangan (Kurnia. 2006).     
4.4     Pengelolaan Tanaman dan Tindakan Konservasi (CP)
          Bedasarkan hasil praktek dilapangan dapat diketahui bahwa nilai dari:
CP       = 0,75 x 0,300
      = 0,23
          Bedasarkan nilai di atas dapat diketahui bahwa nilai CP yaitu 0,23. Nilai ini didapatkan dari hasil perhitungan antara nilai faktor pengelolaan tanaman yaitu 0,300 dengan nilai faktor teknik konservasi tanah yaitu 0,75.
          Mengatur pola tanam pada satu kalender tanam; memilih jenis tanaman; memilih sistem tanam menanam tanaman secara kontur merupakan cara pengendalian erosi secara vegetatif (Bafdal et al., 2011).
4.5     Prediksi Erosi
          Bedasarkan hasil praktek maka didapatkan nilai untuk menentukan prediksi erosi  A dengan menggunakan persamaan masing-masing sebagai berikut:
          A = R.K.L.S.C.P
Dimana :
A = banyaknya tanah tererosi (ton ha-1 th-1)  
          A = 453,63 x 0,61 x 14,7 x 0,10 x 0,300 x 0,75
          A = 91523254 ton ha-1 th-1
          Berdasarkan hasil perhitungan di atas di ketahui bahwa nilai A adalah  91523254 ton ha-1 th-1 yang di peroleh dari hasil  perhitungan dengan menggunakan rumus A = R.K.L.S.C.P.
          Teras bangku dibangun sepanjang kontur pada interval yang sesuai dan ditanami dengan gebalan rumput untuk penguat teras yang berperan untuk melindungi permukaan tanah dari daya dispersi dan daya penghancur oleh butir-butir hujan (Arsyad, 2010).
4.6     Erosi yang Ditoleransi (TSL) dan Intensitas Bahaya Erosi (IBE)
          Bedasarkan hasil praktek maka didapatkan nilai untuk menentukan TSL dan TBE dengan menggunakan persamaan masing-masing sebagai berikut:
TSL = ((KT/RL) + LPT) x BD x 10
Dimana:
TSL        = besarnya erosi yang diperbolehkan (ton ha-1 th-1)
KT         = Kedalaman tanah merupakan hasil pengurangan kedalaman efektif tanah dengan nilai faktor kedalaman minimum (mm)
RL         = umur guna tanah (th)
LPT        = laju pembentukan tanah (mm th-1)
BD         = Bobot isi tanah (g cm-3)
IBE        = A/TSL
Dimana:
A            = Besarnya tanah yang tererosi (ton ha-1 th-1)
TSL        = Erosi yang dapat ditoleransi (ton ha-1 th-1)
Penentuan nilai TSL:
TSL        = ((KT/RL) + LPT) x BD x 10
Diketahui:
KT         = 370-15 = 355 mm
RL         = 200 tahun
LPT        = 2 mm th-1
BD         = 1,31 gram cm3 -1
TSL        = ((KT/RL) + LPT) x BD x 10
            = ((150/200) + 2) x 1,68 x 10
            = ( 0,75+ 2) x 16,8
            = 2.75 x 16,8
            = 46,2 5ton ha-1 th-1
IBE        = A/TSL
                        = 91,523254 / 46,2 5   = 1,978
         Bedasarkan nilai di atas dapat diketahui bahwa nilai hasil (TSL) 46,2 5ton ha-1 th-1     yang di peroleh dari hasil  perhitungan dengan menggunakan rumus     TSL      = ((KT/RL) + LPT) x BD x 10
         Erosi yang masih diperbolehkan adalah laju erosi yang dinyatakan dalam mm/tahun atau ton/ha/tahun yang terbesar yang masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan agar terpelihara suatu kedalaman tanah yang cukup bagi perumbuhan tanaman atau tumbuhan yang memungkinkan tercapainya produktivitas yang tinggi secara lestari (Jariyah et al., 2002).
4.7    Tindakan Konservasi
         Dari hasil praktikum dan perhitungan di atas menunjukan bahwa tingkat bahaya erosi  menunjukan dalam indeks sedang, Untuk menurunkan bahaya erosi yang terjadi perlu di lakukan tindakan konservasi yaitu dapat membuat teras teras pada lahan dalam proses pengolahan untuk mengurangi terjadinya erosi
















V.                KESIMPULAN DAN SARAN
5.1        Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang di lakukan tentang prediksi erosi  dapat di simpulkan sebagai beikut :
1.      Berdaskan dari hasil praktikum bahwa nilai indeks bahaya  erosi pada lahan yang di praktikan termasuk kreteria sedang dengan nilai 1,97  ton ha-1 th-1
2.      Posisinya lahan praktikum terletak pada E119o53’44,2’’ dan 500o50’21,7’’, dengan kemiringanlereng 0,1 % dan luas lahan 17,63 m / 0,1 Ha, serta lama penggunaan lahan tersebut 200 tahun.
3.      Tindakan konservasi yang perlu di lakukan untuk mencegah terjadinya erosi di lahan yaitu dengan penggunaan teras bangku pada lahan jika inggin di gunakan sebagai lahan pertanian.
5.2        Saran
Manusia harusnya bisa menjaga kelestarian lingkungan dan melakukan tindakan konservasi dengan tidak merusak lingkungan disekitar kita, sehingga tidak terjadi laju erosi dan kerugian yang diakibatkan oleh erosi pada lahan.





Semoga Bermanfaat..........

        
        



Copyright © SATUUNTAD All Right Reserved
Powered by Blogger