Asssalamualaikum teman2 kali ini saya akan membagikan laporan lengkap mata kuliah TPHP ..... silahkan di lihat dan di pelajari....
BAB I. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Mata kuliah Konservasi Tanah dan Air merupakan mata kuliah yang mempelajari bagaimana
teknik-teknik untuk mengawetkan tanah dan air sehingga produktivitas lahan
dapat terjaga, dan baik untuk kebutuhan pertanian.
Sumber daya
alam utama yaitu tanah dan air mudah mengalami kerusakan atau degradasi. dan sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar dan air
tanah tersimpan (Arsyad S, 1989).
Erosi merupakan peristiwa hilangnya lapisan tanah atau
bagian tanah. Erosi menimbulkan kerusakan pada tanah tempat terjadi erosi
dan pada tujuan akhir tanah terangkut tersebut diendapkan. Secara deskriptif, ( Arsyad 2000).
Proses
erosi terjadi melalui tiga tahap, yaitu pelepasan partikel tanah, pengangkutan
oleh media seperti air adan angin, dan selanjutnya pengendapan. Beberapa faktor
yang mempengaruhi besarnya erosi adalah curah hujan, tanah, lereng (topografi),
vegetasi, dan aktifitas manusia ( Arsyad 2000).
1.2
Tujuan
dan Kegunaan
Tujuan dari praktek lapangan mata kuliah konservasi tanah
dan air ini yaitu untuk memprediksi besarnya laju erosi tanah dan indeks bahaya
erosi. Sedangkan kegunaan dari praktek lapangan tersebut yaitu sebagai sumber
informasi dalam kaitannya dengan kebijakan penggunaan lahan dan tindakan
konservasi tanah.
BAB
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Erosi
dan Jenis-Jenis Erosi
Erosi merupakan peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan,
dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di
bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat
liang, dalam hal ini disebut bio-erosi. Erosi (Kartosapoetra. 1985).
2.1.1
Erosi lembar (Sheet erosion)
Erosi
lembar (sheet erosion ) merupakan
peristiwa Pemindahan tanah
yang terjadi lembar demi lembar atau
lapis demi lapis mulai dari
lapisan yang paling atas. Erosi ini sepintas lalu tidak terlihat, karena
kehilangan lapisan-lapisan tanah seragam,
(Hardjowigeno, 1995).
2.1.2
Erosi alur (Rill erosion)
Erosi alur (Rill
erosion) merupakan peristiwa erosi yang di dimulai dengan genangan-genangan kecil
setempat-setempat di suatu lereng, maka bila air dalam genangan itu mengalir,
terbentuklah alur-alur bekas aliran air tersebut.
(Rill erosion) (Hardjowigeno, 1995).
2.1.3 Erosi parit (Channel erosion)
Erosi
parit (Channel erosion) merupakan proses di mana parit-parit yang besar sering masih terus mengalir lama
meskipun
setelah hujan berhenti.
Aliran air dalam parit ini dapat mengikis dasar parit atau dinding-dinding
tebing parit di bawah permukaan air, sehingga tebing diatasnya dapat runtuh ke
dasar parit. Adanya gejala meander dari alirannya dapat meningkatkan pengikisan
tebing di tempat-tempat tertentu (Hardjowigeno,
1995).
2.1.4 Erosi tebing sungai (Riverbank erosion)
Erosi tebing
sungai terjadi akibat pengikisan tebing oleh air yang mengalir dari bagian atas
tebing atau oleh terjangan arus air yang kuat pada kelokan sungai. Erosi tebing
akan hebat terjadi jika vegetasi penutup tebing telah habis atau jika dilakukan
pengolahan tanah terlalu dekat tebing (Abdul, 2005).
2.1.5 Longsor
Tanah longsor terjadi karena tanah di bagian bawah tanah
terdapat lapisan yang licin dan kedap air (sukar ketembus air) seperti batuan
liat. Dalam musim hujan tanah diatasnya menjadi jenuh air sehingga berat, dan
bergeser ke bawah melalui lapisan yang licin tersebut sebagai tanah longsor (Abdul,
2005).
2.1 Metode Universal Soil Loss Equation (USLE)
Perkiraan atau prediksi besarnya laju erosi yang
mungkin terjadi di lapangan dapat ditentukan antara lain dengan menggunakan
metode yang dikenal dengan Persamaan Umum Kehilangan Tanah (PUKT)
atau dalam bahasa Inggris Universal Soil Loss Equation (USLE)
(Foth, 1988)
2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erosi
2.3.1
Iklim
Iklim adalah faktor terpenting dalam
masalah erosi sehubungan dengan fungsinya. Sebagai transpor dan agen pemecah. Faktor iklim yang dapat
mempengaruhi erosi adalah hujan. Banyaknya curah hujan menentukan dispersi
hujan tehadap tanah, jumlah dan kecepatan permukaaan serta besarnya kerusakan
erosi. Angin adalah faktor lain yang menentukan kecepatan jatuh butir hujan.
(Arsyad 1989).
2.3.2
Topografi
Kemiringan dan panjang lereng adalah
dua faktor yang menentukan karakteristik topografi suatu daerah aliran sungai.
Kedua faktor tersebut penting untuk terjadinya erosi karena faktor-faktor
tersebut menentukan besarnya kecepatan dan volume air larian (Asdak, 1995).
2.3.3
Vegetasi
Vegetasi penutup tanah yang baik
seperti rumput yang tebal, atau hutan yang lebat akan menghilangkan pengaruh
hujan dan topografi terhadap erosi (Arsyad, 1989).
Tumbuhan
berperan dalam menurunkan besarnya erosi karena ia merupakan stratum vegetasi
terakhir yang akan menentukan besar kecilnya erosi percikan Asdak (1995).
2.3.4
Tanah
Tanah mempunyai kepekaan terhadap
erosi yang berbeda-beda. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kepekaan erosi
adalah Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi laju infiltrasi, permeabilitas
menahan air, dan sifat-sifat tanah yang
mempengaruhi ketahanan struktur tanah terhadap dispersi dan pengikisan oleh
butir-butir hujan yang jatuh dan aliran permukaan. Arsyad (1989).
2.3.5
Manusia
Manusia dapat mempengaruhi terjadinya
erosi, tergantung bagaimana manusia mengelolahnya. Manusialah yang menentukan
apakah tanah yang dihasilkannya akan merusak dan tidak produktif atau menjadi
baik dan produktif secara lestari. Banyak faktor yang menentukan apakah manusia
akan mempertahankan dan merawat serta mengusahakan tanahnya secara bijaksana
sehingga menjadi lebih baik (Asdak (1995 ).
2.4
Erosi yang Dapat Ditoleransi
Erosi yang dapat di toleransi adalah laju erosi yang
dinyatakan dalam mm/tahun atau ton/ha/tahun yang terbesar yang masih dapat
dibiarkan atau ditoleransikan agar terpelihara suatu kedalaman tanah yang cukup
bagi perumbuhan tanaman atau tumbuhan yang memungkinkan tercapainya
produktivitas yang tinggi secara lestari. (Jariyah et al., 2002).
2.5 ... Penggunaan
Lahan
Penggunaan
lahan merupakan
suatu lingkungan fisik dan abiotik yang berkaitan dengan daya dukungnya
terhadap kehidupan dan kesejahteraan manusia. Faktor fisik yang berpengaruh
terhadap penggunaan lahan adalah lereng dan ketinggian tempat. Ada beberapa
jenis penggunaan lahan. Secara garis besar, lahan kota terbagi menjadi lahan
terbangun dan lahan tak terbangun. Lahan Terbangun terdiri dari dari perumahan, industri, perdagangan, jasa
dan perkantoran. (Kartasapoetra, 1985).
2.6
Pencegahan
Erosi
Ada bebrapa cara untuk mencegah erosi yaitu:
1. Lakukan Konservasi Tanah
Konservasi
tanah adalah serangkaian upaya dan strategi untuk mencegah dan menghambat
proses terjadinya pengikisan tanah dan perubahan struktur biologi dan kimiawi
akibat kesalahan dalam pengolahan
2. Membuat Terasering
Terassering
merupakan salah satu bentuk pencegahan erosi yang paling sering dilakukan yakni
dengan cara membuat teras demi teras seperti tangga pada lahan yang miring
sehingga ketika turun hujan air tidak langsung hanyut begitu saja sehingga
peluang terjadinya pengikisan tanah dapat di tekan seminimal mungkin.
3. Countur Farming
Merupakan
sistem penanaman berdasarkan garis kontur suatu tanah sehingga sistem perakaran
tanaman akan semakin solid dan sanggup menahan tanah ketika terjadi hujan
deras.
4. Membuat Tanggul Pasangan
Dengan membuat
tanggul maka air hujan
dapat tertampung dari langsung
menyerap kedalam tanah sehingga mengurangi terjadinya Run Off atau aliran permukaan
5. Optimalkan Drainase atau
Saluran Air
Tujuan adanya drainase ini untuk
menjadi jalur pelepasan air sehingga sisa air yang tidak terserap oleh vegetasi
penutup lahan atau buffering, dapat segera alirkan ketempat yang lebih rendah.
6. Lakukan Rotasi Tanam (Crop Rotation)
Merupakan
salah satu upaya yang bertujuan untuk menjaga kelestarian unsur hara yang
terkadung dalam tanah dengan cara melakukan pengiliran jadwal penanaman jenis
tumbuhan
7. Lakukan Reboisasi
Hal
ini menjadi langkah preventif yang paling signifikan pengaruhnya. Penyebab
terjadinya erosi tidak hanya karena buruknya sistem bercocok tanam melainkan
disebabkan juga oleh dampak akibat
kerusakan hutan gundul akibat kegiatan penebangan
illegal.
8. Menjaga Kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS)
Daerah
Aliran Sungai perlu dijaga karena merupakan penahan dari tanah supaya tidak
habis terbawa aliran sungai, terlebih jika sungainya beraliran deras.
III.
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum mata kuliah konservasi tanah dan air ini dilaksanakan di lahan laboratorium sumber daya lahan Fakultas
pertanian Universitas Taduako, Palu. Pada hari sabtu tanggal 29 Oktober
2016. Dari pukul 08.00 WIT sampai dengan selesai.
3.2
Alat dan Bahan
Alat yang di gunakan
pada praktikum Konservasi Tanah dan Air yaitu cangkul, sekop, parang, linggis,
palu-palu, balok, ring sampel, kantong plastik, label, spidol, karet gelang,
alat tulis, meteran, clinometer, kalkulator, ondol-ondol, bor, kayu dan tali,
gelas ukur, selang, dan ayakan tanah. Bahan
yang di gunakan pada Praktikum Konservasi Tanah dan Air yaitu Tanah dan Air.
3.3
Metode Kerja
3.3.1 Survei
Sebelum
melakukan praktek lapangan Mata Kuliah Konservasi Tanah dan Air dilakukan
survei atau pengecekan pada lokasi yang akan dipraktekkan lapang tersebut.
3.3.2 Pengambilan sampel tanah
Untuk mengambil bongkahan tanah yang
di gunakan sebagai sampel tanah pertama-tama permukaan tanah dibersihkan dahulu
dari rerumputan dan sampah-sampah lainnya, kemudian tanah kemudian dicangkul
sampai kedalaman 20 cm dari permukaan, selanjutnya tanah dimasukkan ke dalam
kantong plastik sebanyak kurang lebih 1,0 kg (diusahakan agar agregat-agregat
tanah jangan rusak atau hancur), dan contoh tanah diberi label di bagian luar
dan dalam dari kantong plastik tersebut.
Untuk pengambilan sampel tanah utuh dan pertama-tama permukaan tanah
dibersihkan dari rerumputan dan sampah, kemudian ring sampel diletakkan pada
tanah dengan bagian yang runcing diposisi bawah, kemudian buat lingkaran dengan
pusat yang sama dengan ring sampel dengan garis tengah 2 kali lebih besar,
selanjutnya lingkaran diluar ring sampel
ini kemudian digali sehingga terbentuk lubang lingkaran sedalam ± 30 cm, hal
ini dimaksudkan agar ring sampel dapat dengan mudah ditekan dan masuk ke dalam
tanah. Dengan menggunakan tangkai penekan ring sampel yang terbuat dari besi,
maka ring sampel ini ditekan dengan hati-hati secara vertikal, kalau ternyata
sudah keras sedangkan ring masih harus dimasukkan terus maka bisa dipukul-pukul
dengan palu kayu tersebut secara perlahan-lahan. Setelah tanah yang berada didalam ring sampel
kira-kira sudah muncul diatas bibir ring bagian atas maka penekanan dihentikan,
kemudian bawahnya dipotong dengan pisau atau dengan sekop atau dengan benang
nilon halus,
selanjutnya ring yang sudah berisi tanah kemudian diratakan dengan pisau tajam
dan tipis sehingga kedua permukaan betul-betul rata dengan kedua bibir ring
sampel tadi dan setelah itu kedua bagian muka tanah tersebut ditutup dengan
tutup ring yang terbuat dari plastik. Dan terahir ring sampel yang sudah berisi
tanah utuh ini kemudian dimasukkan ke dalam kotak atau kantong plastik agar
aman dalam pengangkutan.
3.3.3 Analisis sampel
Analisis
tanah dilakukan untuk menentukan tekstur, struktur, bahan organik, bobot isi
dan permebilitas tanah. Sampel tanah yang telah di ambil dari lokasi lahan
percobaan di analisis di dalam laboratorium, pertama ambil sampel tanah
bongkahan keluarkan dari kantong plastik, selanjutnya remah-remah tanah
tersebut untuk mengetahui strukturnya.
Selanjutnya untuk sampel tanah utuh keluarkan
ring yang berisi sampel tanah dari kantong plastik, kemudian tempatkan pada wadah,selanjutnya beri
air pada tiap 15 menit pertama ,15 menit kedua dan 30 menit terahir,
selanjutnya hitung permeabilitas tanah, C-organik tanah dan Bobot isi tanah tersebut,untuk
mengetahui tekstur tanah tersebut catat nilai-nilai yang telah di hasilkan.
3.3.4 Pengumpulan data
Mengumpullkan
data dengan mencatat setiap hasil perhitungan yang diperoleh dari setiap
kelompok. Selanjutnya data yang diperoleh di analisis untuk di input ke dalam
Laporan Praktek Mata Kuliah
Konservasi Tanah dan Air.
3.4 Pelaksanaan
3.4.1
Faktor
erosivitas hujan (R)
Penyebab utama erosi tanah adalah pengaruh pukulan air hujan pada tanah.
Hujan menyebabkan erosi tanah melalui dua jalan; yaitu pelepasan butiran tanah
oleh pukulan air hujan pada permukaan tanah dan kontribusi hujan terhadap
aliran. Faktor ersosivitas, R, di defenisikan sebagai jumlah satuan indeks erosi hujan dalam satuan. Nilai R yang merupakan daya rusak hujan. ( Syamsu, 2016 ). dapat ditentukan dengan persamaan :
R = 10,80 + 4,15 CH
3.4.2
Faktor
erodibilitas tanah (K)
Erodibilitas
tanah merupakan sifat tanah yang dinamis, yang bervarietaqs terhadap waktu,
kelengasan tanah, suhu, pengolahan tanah gangguan manusia atau binatang, dan
factor biologi dan kimia. Factor yang mempunyai pengaruh besar terhadap variasi
erodibilitas tanah adalah suhu tanah, tekstur tanah, dan kelengasan tanah, atau
factor kepekaan erosi tanah, yang merupakan daya tahan baik terhadap
penglepasan dan pengangkutan, kekuatan geser, kapasitas infiltrasi, kandungan
bahan organic dan kimiawi ( Syamsu, 2016 ).
Di tentukan dengan persamaan
100K
= 1.292 (2,1 M1.14 (10-4)(12a) + 3,25 (b-2) + 2,5
(c-3)...(3)
Ket :
K =
erodibilitas tanah
M = Ukuran partikel (% debu + % pasir
halus) (100 - % liat)
a =
persen bahan organik
b =
kelas struktur tanah
c = kelas
permeabilitas tanah
3.4.2 Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS)
Factor indeks topografi L dan S, masing-masing mewakili
pengaruh panjang dan kemiringan lereng terhadap besarnya erosi. Panjang lereng
mengacu pada aliran air permukaan yaitu lokasi berlangsungnya erosi dan
kemungkinan terjadinya deposisi sediment. Dalam praktisnya L dan S dihitung
sekaligus berupa factor Ls ( Syamsu, 2016 ).
LS
= √𝐿 (0,00138𝑆2 + 0,00965 𝑆+ 0,0138)
Dengan:
L = panjang lereng (m)
S = kemiringan lereng (%)
Faktor LS, kombinasi antar factor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng
(S) merupakan nisbah nesarnya erosi dari suatu lereng dengan panjang dan
kemiringan tertentu terhadap besarnya erosi dari plot lahan dengan panjang
22,13 m dan kemiringan 9 % (Rahim, 2000).
3.4.1 Faktor pengelolaan tanaman dan faktor konservasi tanah (CP)
Factor C menunjukan keseluruhan
pengaruh dengan vegetasi seresah, keadaan permukaan tanah dan pengelolaan lahan
terhadap besarnya tanah yang hilang (erosi). Oleh karenanya besar angka C tidak
selalu sama dalam kurun waktu satu tahun ( Syamsu, 2016 ).
3.4.1 Erosi yang ditoleransi (TSL)
Erosi yang dapat di toleransi dapat di
tentukan dengan persamaan
TSL = ((KT/RL) + LPT) x BD x 10
Dimana:
TSL = besarnya erosi yang diperbolehkan (ton
ha-1 th-1)
KT = kedalaman tanah merupakan hasil
pengurangan kedalaman efektif tanah dengan nilai faktor kedalaman minimum (mm)
RL = umur guna tanah (th)
LPT = laju pembentukan tanah (mm th-1)
BD = Bobot isi
tanah (g cm-3)
3.4.2
Indeks
bahaya erosi (IBE)
Nilai indeks bahaya eosi dapat di
itung dengan persamaan
IBE = A/TSL
Dimana:
A
= Besarnya tanah yang tererosi
(ton ha-1 th-1)
TSL
= Erosi yang dapat ditoleransi (ton
ha-1 th-1)
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Rata-Rata Indeks Erosivitas Hujan (R)
Berdasarkan hasil analisis data untuk mengetahui nilai rata-rata indeks erosivitas hujan (R),
dapat menggunakan rumus seperti berikut :
10,80 + 4,15 CH
Tabel 1.Nilai Rata-Rata Curah Hujan Bulanan Kota Palu Berdasarkan
Data Curah Hujan Stasiun
BMKGBandar Udara Sis-Aljufri dan Nilai Indeks Erosivitas Hujan Bulanan.
|
Bulan
|
Rata-rata Curah Hujan (cm/th)
|
R
|
|
Januari
|
7,20
|
40,68
|
|
Februari
|
4,85
|
30,93
|
|
Maret
|
6,67
|
38,48
|
|
April
|
7,62
|
42,42
|
|
Mei
|
4,74
|
30,47
|
|
Juni
|
7,91
|
43,63
|
|
Juli
|
9,27
|
49,27
|
|
Agustus
|
8,18
|
44,75
|
|
September
|
6,34
|
37,11
|
|
Oktober
|
3,47
|
25,20
|
|
November
|
6,32
|
37,03
|
|
Desember
|
5,51
|
33,67
|
|
|
R total
|
453,63
|
Dari hasil yang diperoleh Rata-rata
Indeks Erosivitas Hujan bulanan
selama 10 tahun, berdasarkan data curah hujan stasiun BMKG Bandar Udara Sis-Aljufri Palu dan perhitungan
menggunakan persamaan diatas yaitu 453,63.
Ketika hujan tidak terserap oleh tanah,
mengalir menjadi run off, kemudian bersatu di sungai/ muara sungai, sungai yang
mengalami pendangkalan, tidak mampu menampung pasokan air dari darat dan hujan,
maka meluberlah sungai dan terjadilah banjir. Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan oleh air. Peristiwa banjir timbul jika
air menggenangi daratan yang biasanya kering.[Banjir pada umumnya disebabkan oleh air
sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya sebagai
akibat curah hujan yang tinggi. Kekuatan banjir mampu merusak rumah dan menyapu fondasinya (Kusumandari, 2008).
4.2 Erodibilitas Tanah (K)
Untuk
mendapatkan nilai erodibilitas tanah, sebelumnya harus diketahui terlebih
dahulu nilai hasil analisis sampel tanah di Laboratorium, hasilnya yaitu
sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil analisis sampel
tanah
|
Kelompok
|
Tekstur
|
Permeabilitas
(Cm/jam)
|
Bulk density
(Gram/cm3)
|
C. Organik
(%)
|
|||
|
Pasir
|
Pasir halus
|
Debu
|
Liat
|
||||
|
IV
|
23,7
|
14,8
|
44,9
|
14,7
|
0,19
|
1,68
|
0,92
|
100 K =
1,292 {2,1 M1,14(10-4)(12-a)+3,25(b-2)+2,5(c-3)}
Ket :
K = erodibilitas tanah
M = Ukuran partikel (% debu + % pasir halus) (100
- % liat)
a = persen bahan organik
b
= kelas struktur tanah
c =
kelas permeabilitas tanah
% bahan organik (a) =
C-Organik x 1,724
=
0,92 x 1,724
=
1.59
Kelas struktur tanah (b) = Glanuler sedang-kasar = 3
M = (% debu + % pasir halus)
(100 - % liat)
=
(44,9+14,8)(100-14,7)
=
59.7 x 85,3
=
5092,41
Penyelesaian:
100 K =
1,292 {2,1 M1,14(10-4)(12-a)+3,25(b-2)+2,5(c-3)}
=
1,292 {2,1 x 5092,411,14(10-4)(12-1,59)+3,25(3-2)+2,5(6-3)}
=
1,292 {2,1 x 16822 (10-4) (10,41) + 3,25 + 7,5}
= 1,292 {35326,2x 10-4 (10,41)
+ 10,75}
=
1,292 {(3,53262 x 10,41)+10,75}
=
1,292 (36,7745742 + 10,75)
=
1,292 x 47,5245742
100 K =
61,40174986
K = 61,40174986 = 0,61
100
Berdasarkan
hasil perhitungan diatas diketahui
bahwa, nilai erodibilitas tanah sebesar 0,61. Nilai ini didapatkan tidak lepas dari
hasil analisis sampel tanah yang dilakukan dilaboratorium, dimana analisis ini
kita dapat mengetahui nlai tekstur tanah yang meliputi pasir 23,7, pasir halus
14,8, debu 44,9, dan liat 14,7. Nilai permeabilitas tanah yaitu 0,9, bulk
density 1,68 dan C organic 0,92. Untuk mendapatkan nilai bahan organic maka
nilai C organik x 1,724 = 1,59. untuk nilai struktur tanah didapatkan dari
nilai kelas struktur tanah yaitu 3, Sedangkan nilai ukuran partikel (M)
didapatkan dari (% debu + % pasir halus) (100 - % liat) = 5092,41. Dan. Serta
nilai permeabilitas tanah didapatkan dari analisis sampel tanah yaitu 0,61.
Besarnya erodibilitas atau resistensi tanah juga dibentuk
oleh karakteristik tanah seperti; tekstur tanah, stabilitas agregat tanah,
kapasitas infiltrasi dan kandungan bahan organic (Kurnia. 2006 ).
4.3 Panjang Lereng (L) dan Kemiringan Lereng
(S)
Bedasarkan praktek yang dilakukan dilapangan, maka dapat
diketahui bahwa:
Panjang
lereng (L) = 55,5 m
Kemiringan
lereng (S) = 0,10 %.
Untuk mencari nilai faktor panjang dan kemiringan lereng,
maka dapat menggunakan rumus:
LS = √𝐿 (0,00138𝑆2 + 0,00965 𝑆+ 0,0138)
Dengan:
L = panjang
lereng (m)
S = kemiringan lereng
(%)
Penyelesaian:
LS = √𝐿
(0,00138𝑆2 + 0,00965 𝑆+ 0,0138)
= √55,5 (0,00138 x 0,12 + 0,00965 x 0,1 + 0,0138)
= √55,5 (0,0000138 + 0,000965 + 0,0138)
= √55,5 (0,0147788)
=
√0,8202234
= 0,91
Bedasarkan hasil perhitungan diatas dapat diketahui bahwa
nilai faktor panjang dan kemiringan lereng yaitu 0,91. Untuk nilai panjang dan
kemiringan lereng didapatkan bedasarkan hasil praktek dilapangan dengan nilai
secara berturut-turut yaitu 55,5 m dan 0,1 m.
Hasil ini didapatkan bedasarkan rumus faktor panjang dan kemiringan
lereng.
Besarnya nilai Ls dapat diperoleh dengan menggunakan table
dari goldman besarnya nilai Ls pada table didasarkan pada keadaan panjang dan
gradient kemiringan lereng di lapangan (Kurnia.
2006).
4.4 Pengelolaan Tanaman dan Tindakan Konservasi
(CP)
Bedasarkan hasil praktek dilapangan dapat diketahui bahwa
nilai dari:
CP = 0,75 x 0,300
= 0,23
Bedasarkan nilai di atas dapat
diketahui bahwa nilai CP yaitu 0,23. Nilai ini didapatkan dari hasil perhitungan
antara nilai faktor pengelolaan tanaman yaitu 0,300 dengan nilai faktor teknik
konservasi tanah yaitu 0,75.
Mengatur pola tanam pada satu kalender tanam; memilih jenis
tanaman; memilih sistem tanam menanam tanaman secara kontur merupakan cara
pengendalian erosi secara vegetatif (Bafdal et
al., 2011).
4.5 Prediksi Erosi
Bedasarkan hasil
praktek maka didapatkan nilai untuk menentukan prediksi erosi A dengan menggunakan persamaan masing-masing
sebagai berikut:
A = R.K.L.S.C.P
Dimana :
A
= banyaknya tanah tererosi (ton ha-1 th-1)
A = 453,63 x 0,61 x 14,7 x 0,10 x 0,300 x 0,75
A = 91523254 ton ha-1 th-1
Berdasarkan hasil perhitungan di atas di ketahui bahwa
nilai A adalah 91523254 ton ha-1 th-1
yang di peroleh dari hasil perhitungan
dengan menggunakan rumus A = R.K.L.S.C.P.
Teras bangku dibangun sepanjang
kontur pada interval yang sesuai dan ditanami dengan gebalan rumput untuk
penguat teras yang berperan untuk melindungi permukaan tanah dari daya dispersi
dan daya penghancur oleh butir-butir hujan (Arsyad, 2010).
4.6 Erosi yang Ditoleransi (TSL) dan Intensitas
Bahaya Erosi (IBE)
Bedasarkan hasil praktek maka didapatkan nilai untuk
menentukan TSL dan TBE dengan menggunakan persamaan masing-masing sebagai
berikut:
TSL = ((KT/RL) + LPT) x BD x 10
Dimana:
TSL =
besarnya erosi yang diperbolehkan (ton ha-1 th-1)
KT
= Kedalaman tanah merupakan hasil
pengurangan kedalaman efektif tanah dengan nilai faktor kedalaman minimum (mm)
RL =
umur guna tanah (th)
LPT =
laju pembentukan tanah (mm th-1)
BD
= Bobot isi tanah (g cm-3)
IBE
= A/TSL
Dimana:
A
= Besarnya tanah yang tererosi
(ton ha-1 th-1)
TSL
= Erosi yang dapat ditoleransi (ton
ha-1 th-1)
Penentuan
nilai TSL:
TSL
= ((KT/RL) + LPT) x BD x 10
Diketahui:
KT = 370-15 = 355 mm
RL = 200 tahun
LPT = 2 mm th-1
BD = 1,31 gram cm3 -1
TSL
= ((KT/RL) + LPT) x BD x 10
= ((150/200) + 2) x 1,68 x 10
= ( 0,75+ 2) x 16,8
= 2.75 x 16,8
= 46,2 5ton ha-1 th-1
IBE = A/TSL
= 91,523254 / 46,2 5 = 1,978
Bedasarkan nilai di atas dapat diketahui bahwa nilai hasil
(TSL) 46,2 5ton ha-1 th-1
yang di peroleh dari hasil
perhitungan dengan menggunakan rumus
TSL = ((KT/RL) + LPT) x BD x
10
Erosi
yang masih diperbolehkan adalah laju erosi yang dinyatakan dalam mm/tahun atau
ton/ha/tahun yang terbesar yang masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan agar
terpelihara suatu kedalaman tanah yang cukup bagi perumbuhan tanaman atau
tumbuhan yang memungkinkan tercapainya produktivitas yang tinggi secara lestari
(Jariyah et al., 2002).
4.7 Tindakan Konservasi
Dari hasil praktikum
dan perhitungan di atas menunjukan bahwa tingkat bahaya erosi menunjukan dalam indeks sedang, Untuk
menurunkan bahaya erosi yang terjadi perlu di lakukan tindakan konservasi yaitu
dapat membuat teras teras pada lahan dalam proses pengolahan untuk mengurangi
terjadinya erosi
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil praktikum yang di lakukan tentang prediksi erosi dapat di simpulkan sebagai beikut :
1. Berdaskan
dari hasil praktikum bahwa nilai indeks bahaya erosi pada lahan yang di praktikan termasuk
kreteria sedang dengan nilai 1,97 ton ha-1
th-1
2. Posisinya lahan praktikum terletak pada E119o53’44,2’’
dan 500o50’21,7’’, dengan
kemiringanlereng 0,1 % dan luas lahan 17,63 m / 0,1 Ha, serta
lama penggunaan lahan tersebut 200 tahun.
3. Tindakan
konservasi yang perlu di lakukan untuk mencegah terjadinya erosi di lahan yaitu
dengan penggunaan teras bangku pada lahan jika inggin di gunakan sebagai lahan
pertanian.
5.2
Saran
Manusia harusnya bisa menjaga
kelestarian lingkungan dan melakukan tindakan konservasi dengan tidak merusak
lingkungan disekitar kita, sehingga tidak terjadi laju erosi dan kerugian yang
diakibatkan oleh erosi pada lahan.
Semoga Bermanfaat..........